Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Keberangkatan Tarmin dan Lara


__ADS_3

"Abah. Umi. Tarmin dan Neng Lara. Ijin pamit untuk berangkat menuju pusat kota. Restu dan Doa dari kalian, adalah bekal terbaik untuk kita berdua." Kata Tarmin seraya mencium tangan kedua Orang Tua nya secara bergantian.!!


"Doa kami berdua menyertai mu anak anakku." Jawab Lelaki paruh baya itu.


Lara pun sama mencium tangan pasangan suami istri paruh baya itu, dengan wajah lesu dan butiran air mata yang mengalir.


"Nak. Lara ingat pesan dari Abah. Jangan membuat seorang pun sakit hati. Bila hidup mu ke depannya ingin bahagia." Pesan Abah seraya mencium keningnya tanda kasih sayang Orang Tua kepada anaknya.


"Lara. Akan mengingat nya dan menjalankan amanat dari Abah." Kata Wanita itu dengan Isak tangis.


"Bagus..... Abah percaya kepada mu. Lara akan bisa menghadapi rintangan semua nya.


Setelah mencium dan menerima nasehat dari ayahnya Tarmin. Lara pun langsung memeluk wanita paruh baya yang ada di samping Abah Juned.


"Umi Terima Kasih atas semuanya yang telah di berikan kepada Lara. Mohon Maapkan diriku ini yang telah banyak merepotkan Umi dan Abah. Lara pamit doa kan anakmu ini agar maksud dan tujuannya tercapai." Kata Wanita yang beberapa hari hadir di pasangan suami istri tersebut.


"Anakku tidak usah berterima kasih segala. Umi senang Nak Lara ada di sini. Tapi Umi juga tidak berhak melarang Nak lara pergi dari sini. Pesan Umi hanya satu setelah urusan selesai, kembali lah kesini. Pintu rumah selalu terbuka untukmu Nak." Pinta Wanita paruh baya Istri nya Abah Juned.


"Pasti Umi. Lara akan kembali setelah urusan nya selesai.!!


Sama hal yang di lakukan oleh suaminya. Umi Tuti pun mencium kening wanita berstatus janda mati itu dengan penuh kasih sayang.!!


"Berangkat lah sekarang. Semoga tuhan memberkati kalian berdua." Titah Umi setelah semuanya selesai dengan perpisahan yang menguras air mata itu.


"Baik Umi dan Abah. Kamu berdua berangkat." Kata Juned dan di angguki oleh Lara. Lalu mereka pun berjalan melangkah pergi menyusuri jalan setapak menuju jalan Campaka Warna, untuk menyetop angkutan umum yang membawa nya ke terminal Pasir Hayam.


Satu jam lamanya mereka berjalan kaki menuju jalan desa yang akan di lalui angkutan umum tersebut. Tarmin dan Lara pun kini sudah berada di mobil Elef yang akan membawanya ke dunia yang tampak asing bagi mereka berdua. Sejatinya bagi Lara dan Tarmin belum pernah sekalipun mereka pergi ke Kota.


#######


Sementara di tempat lain seorang pemuda tampan nan rupawan setelah menerima telepon dari Tuan Besar Tedi Ferdiansyah, segera berpamitan kepada Azzahra yang sedang berada di kios kecil miliknya.


Ketika pemuda itu sedang melangkah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari kios kecil tersebut, dari kejauhan tampak terdengar seseorang memanggil namanya dengan berteriak teriak.


"Kak. Awan......... Mau kemana?" Nabil ikut." Teriak Gadis memakai seragam sekolah.

__ADS_1


"Aduh...... Bun." Tuan Putri ke buru datang.! Kata nya menatap kearah warung.! Yang di tatap hanya tersenyum.!!


"Kak....... Nabil ikut." Ucap Gadis itu setelah sampai di hadapan pemuda itu dengan napas ngos ngosan.


"Hehehehe.!! Gimana ya!!


"Pokoknya. Nabil ikut." Rengek Gadis itu. Lalu mulai masuk kedalam mobil tanpa pemuda itu membolehkan iya atau tidak.


"Sudah. Bawa aja Nak." Sahut wanita yang ada di dalam kios tersebut.


"Ok. Lah. Kata pemuda itu singkat.!!


"Akang. Akang semuanya. Kalian berpencar jangan terlalu dekat denganku." Titah awan.


"Siap Bos.! Ucap mereka serentak.!


"Bunda. Awan sama Nabil berangkat dulu." Ucap pemuda itu dalam mobilnya setelah mobil itu mulai mundur dari area parkir.


"Iya. Nak hati hati.!


Di dalam mobil tampak pemuda itu menatap tajam jalanan yang begitu lenggang dengan cuaca yang begitu terik matahari.


"Nabil. Kok jam 11 sudah pulang sekolah. Apa jangan jangan kamu kabur dari sekolah.?" Tanya pemuda itu mata nya menatap ke depan.


"Hehehehe. Nggak lah Kak. Guru nya ada urusan mendadak. Jadi pulang cepat." Alasan Gadis itu menjawab pertanyaan nya.


"Ohk. Begitu. Sangka Kakak. Kamu bolos.! Hehehehe. Maap ya.!


"Nggak. Kak. Tak usah minta maap kali. Ngomong Ngomong. Kakak, mau kemana.?" Tanya Nabil.


"Mau ke Maleber. Ketemu seseorang.! Jawab nya.


"Siapa Kak.!


"Tuan Tedi Ferdiansyah." Jawab pemuda itu lalu membelokkan kemudi setirnya ke jalan Bojong.

__ADS_1


"Ups.! Berarti Nabil harus menjadi Akila ya." Kata Gadis itu kaget.


"Yoi. Sayang.!! Goda Awan.


"Huh. Sayang.! Sayang.! Sayang manuk." Ketus Nabil.


"Hehehehe. Emang kamu kesayangan kakak." Timpal Awan masih dengan menggodanya.


"Aku. Tuh kesayangan kakak. Sebagai adik atau sebagai apa.?" Tanya Nabil ingin mengetahui hati pemuda yang di cintai nya.


"Sial. Gue kena jebakan Betmen nie sama Nabil." Batin Awan.


"Hehehehe. Emang kamu mau nya sebagai apa.?" Tanya balik pemuda itu.


"Rese. Ahk Kakak. Bukan nya jawab malah tanya balik." Kesal Nabil dengan wajah jutek nya datang.!


"Maap. Tapi suatu saat kamu akan mengetahui. Hati Kakak. Kepada dirimu. Untuk saat ini biarkan. Kakak menjaga mu dan Bunda dari segala permasalahan yang akan di hadapi oleh kamu dan Bunda." Kata Awan. Gadis itu pun hanya mengangguk dan tak mau bertanya lagi tentang masalah hati pemuda yang menjadi perisai dirinya.


Mobil pun seketika berhenti, tepat di samping rumah yang begitu besar dan halaman yang luas, terlihat beberapa mobil mewah dengan merek yang berbeda-beda terparkir di dalam halaman rumah itu.


"Ayo kita turun mereka sudah menunggu kita. Ajak Awan. Ia turun dari pintu mobil sebelah kanan. Sedangkan Nabil dari pintu sebelah kiri.


Layak nya sepasang kekasih. Awan pun menggenggam tangan Nabil, untuk berjalan bersamaan menuju pintu masuk rumah super mewah di kampung yang tak jauh dari perumahan Elit Leles Residance tempat tinggal pemuda itu.


"Ketika memasuki area halaman rumah Tedi Ferdiansyah, beberapa pengawal berlari untuk menyambut kedatangan seorang Pemuda Hebat Seperti Dewa dan membungkuk hormat kepadanya.


"Selamat datang Tuan Muda Awan. Tuan Besar dan pemilik perusahaan Ismail Group sudah menunggu kedatangan anda." Ucap salah satu dari beberapa pengawal yang membungkuk hormat.


"Terima Kasih Paman. Paman. Ahk tak usah membungkuk begitu." Jawab Pemuda itu merasa risih dengan penyambutan tersebut.


"Tuan Muda. Nona Muda. Mari saya antar menuju ruangan keluarga." Kata Pemgawal tersebut mempersilahkan.


"Mari. Paman!!


Pengawal itu pun berjalan terlebih dahulu, di ikuti oleh pasangan kekasih yang tampak oleh para pengawal lainnya. Padahal buat Awan dan Nabil, belum sama sama mengatakan perasaan nya masing masing.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2