
Satu jam lama nya mereka berdua melayani pembeli yang semakin membludak di siang itu membuat Bu Dewi dan pemuda yang baru datang serta di bantu beberapa pegawai itu merasa kecapaian.
Alhamdulillah Nak Awan, di pertama buka sampai sekarang para pembeli lumayan ramai, dan kios yang di pasar satu lagi juga yang di pegang oleh Suami ibu juga ramai." Kata Bu Dewi di sela duduk nya.
"Syukur Alhamdulillah." Bu Dewi, Balas pemuda itu seraya meneguk air botol karna rasa lelah dan haus.
"Nak , ada apa sebenernya, dan jelaskan kepada ibu apa yang terjadi? Tanya Bu Dewi penasaran hampir seminggu tidak pulang.
"Tadi Bunda kamu datang kerumah ibu, mencari mu? Tanya lagi Bu Dewi. hingga Awan menganga mulut nya kaget setelah mendengar pembicaraan yang kedua.
"Hmmmmm'', Anakku itu mulut mau kemasukan lalat sampai terbuka lebar begitu. Kata Bu Dewi dengan senyuman meledek.
"Awan kaget Bu, sampai bunda datang kerumah ibu, " Jawab nya.
"Terus ibu bilang apa, saat Bunda awan datang kerumah, sekarang mereka masih di rumah Ibu Dewi,! Atau sudah pulang kah.? Tanya Awan dengan pertanyaan beruntun.
"Ibu cuma bilang kamu sedang di Kota bogor." Jawab nya. Dan Awan pun mengangguk.
"Bu Awan perlu ngobrol empat mata, sama Ibu, karna banyak yang mau di obrolkan. " Pinta pemuda itu.
" Emang harus ya.!! Bu Dewi seketika memandang Anak angkat nya dengan wajah serius.
"Ya........! Angguk pemuda itu singkat membalas pertanyaan dari guru pembimbing itu. " Ok.......! dengan acungan jempol dari Bu Dewi.
"Yaaa......! Sudah Awan tunggu sore ini di rumah, Ehk.....! Bu Art yang aku minta apakah sudah ada? Tanya pemuda itu.
"Sudah.......! dia mau kata nya, tapi kan kamu nya dari kemarin sedang tidak ada di kota ini, jadi Ibu tidak bilang saja sama yang mau kerja tunggu kedatangan kamu. " Jawab Bu Dewi tersenyum.
"Hehehehe." Maap Bunda ku yang paling cantik' Goda Awan.
"Hmmmm." Dasar Anak ini.....! Gumamnya, membuat Awan cekikikan.
"Bunda, Awan pergi duluan ya......! Pinta nya sambil beranjak untuk pergi.
"Ok." Nanti Bunda nyusul sekalian mau menelepon Amel untuk memberi tahukan kepada ART yang mau kerja di rumah kamu itu, Biar Amel yang anterin ya ART itu jadi Bunda tidak perlu pulang dulu kerumah? Kata Bu Dewi.
"Itu lebih baik' Bun. ! seraya mencium tangan dan pergi menuju motor yang di parkir di depan pasar.
__ADS_1
***********************************
"Kriiiiing............!
"Kriiiiing............!
"Kriiiiing............!
Suara panggilan telepon itu memekakkan telinga mereka berlima yang sedang mengobrol di ruangan tamu milik Ibu Dewi.
Kecanggungan yang di rasakan oleh Irma, Kiara dan Mira, kini sudah tidak lagi karna seorang Amelia Amanda mampu membuat mereka menjadi sebuah teman.
Bu Lisnawati yang sedari tadi hanya mendengar kan obrolan tiga gadis yang terlihat dari wajahnya masing masing, bahwa menyukai satu pemuda yaitu anaknya hanya bisa tersenyum manis dalam bibir nya.
"Nak Amel teleponnya di angkat dulu.! Kata Lisnawati yang sedang asyik tertawa mengobrol dengan tiga gadis sahabat pemuda itu.
"Iya, Bu.! seraya mengusap layar ponsel nya dan menjawab panggilan telepon masuk yaitu ibu kandung.
"Assalamualaikum." Bunda, ada apa menelepon.? Tanya Amel.
"Amelia Amanda.! kok lama angkat telepon dari Bunda. " Keluh seorang wanita dari sebrang telepon.
"Kebetulan sekali kalau mereka masih ada di rumah Bunda, Amel kamu sekarang ke kontrakan Bu Ida untuk segera bersiap siap dan bawa langsung ke rumah Nak Awan yang berada di perumahan Elit Leles Residance, yang kemarin sama Bunda dan Ayah kesana.! Titah ibu kandung Amel.
"Terus Ibu Lisnawati dan ketiga sahabat kak Awan bagaimana Bun? Tanya Amel sambungan telepon seketika di loud speaker agar mereka berempat mendengar kan.
"Suruh ikut saja, Amel karna Awan sudah kembali, dan sekarang menuju rumah di daerah Leles, dan meminta Bunda untuk membawa ART itu sekarang juga.! Jawab Bu Dewi.
"Baiklah Bun, Amel sekarang juga akan ke kontrakan Bu Ida untuk memberitahu kan.! Kata Amel.
"Yaa.......! Sudah Bunda akhiri teleponnya ya....!
**************************************
Sore itu setelah malam itu ke lima anak buah nya di perintahkan untuk menghabisi dua lelaki yang sedang menjalani perjalanan bisnis di kota kecil itu atas perintah dari Bob Hidayat.
Bos Preman selaku ketua dari pembunuh bayaran tersebut pergi meninggalkan Markas kumuh yang berada tidak jauh dari jembatan penghubung antara Bandung barat dan Cianjur.
__ADS_1
"Bos, apakah sudah siap? Tanya seorang anak buah yang akan mengantar nya menuju daerah yang jauh dari markas nya saat ini.
"Sudah ayo kita berangkat.! Jawab Bos Preman itu.
Satu unit mobil Suzuki Ertiga GX, pun melesat pergi membelah jalanan labuan Cianjur menuju jalan Bayah serang Banten.
Delapan jam lama nya perjalanan panjang dengan melalui jalanan yang begitu terjal dan berlubang serta sisi kanan dan sisi kiri hutan dan jurang yang curam akhirnya mereka tiba di salah satu kampung yang sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
"Akhir nya sampai juga bos.! Kata supir yang bernama Iman itu. Hanya di balas anggukan oleh seorang pria berusia 40 tahun itu dengan muka yang sangat dingin.
Mereka berdua pun turun dari mobil nya dan berjalan ke arah warung yang sudah di tunggu kedatangan nya.
"Pak, Haikal bagaimana perjalanan nya apakah ada kendala? Tanya Rudi pemilik warung di kampung itu.
"Lancar dan tidak terjadi apa apa.'' Jawab Haikal bos Preman itu saat sudah sampai di dalam warung yang sudah malam hari itu.
"Kopi, atau Teh? Tanya Rudi.
"Biasa kopi Hitam jangan di kucek.! Timpal Iman, di angguki oleh Haikal yang sedang meluruskan kaki nya karna rasa pegal.
"Siaaaaaap." Balas Rudi langsung mengambil gelas dan dua bungkus kopi untuk di seduh dan di suguhkan kepada mereka.
Tak lama setelah itu bos Haikal pun mengutarakan maksud dan tujuan nya kedatangan nya kali ini ada sesuatu yang ingin di minta kepada dukun sakti yang ada di puncak gunung itu.
"Pak Rudi apakah Abah Enji sedang berada di saung yang berada di puncak gunung atau di rumah nya? Tanya Haikal di sela obrolan malam itu.
"Abah, Enji sudah tiga malam berada di saung puncak gunung karna seminggu yang lalu ada seorang wanita cantik yang menjadi selir di negara Mesir meminta bantuan dari dukun sakti itu. " Jawab Rudi selaku penunjuk jalan menuju rumah dukun sakti itu.
"Berarti kita harus jalan ke saung Puncak Gunung Kanyang itu.! Kata Haikal.
"Iyaa, Pak Haikal bila kita menunggu di rumah nya tidak tahu Abah Enji turunnya kapan.! Jawab Rudi.
"Baiklah, Kalau begitu Esok pagi saja kita naik ke puncak gunung itu.! Titah Bos Preman, di iyaa kan oleh Rudi penunjuk jalan.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung
__ADS_1
Maap author novel ku kali ini menceritakan sebuah kehidupan seorang pemuda hebat yang masih ada keturunan dari ulama besar dan di bumbui oleh cerita cerita mistik dunia perdukunan, tapi nama dan tempat hasil imajinasi dan khayalan tingkat dewa.!!! Hehehehe