Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Rencana Licik Engkos Kosasih.


__ADS_3

Kurang lebih sepuluh menit lagi senja akan datang di hari itu, menutupi langit yang tadi nya cerah mulai terlihat sedikit gelap. Seorang wanita berusia dua puluh dua tahun sedang berjalan turun kebawah bukit di gunung gong gong di ikuti oleh lelaki berusia 40 tahun itu.


Anak bungsu Mbah Wongso tadinya dia tidak akan turun dari gubug reot yang ada di puncak gunung itu.Aksn tetapi ketika dia mengusir murid dari Ayah nya, yang tidak berani turun sendirian, hatinya merasa kasihan dan iba. Terpaksa wanita itu pun ikut turun menemani nya.


Sementara lelaki setengah Tua. Yang bernama Engkos Kosasih yang mengikuti dari arah belakang, merencanakan sesuatu kepada wanita itu. Atas rasa sakit hatinya karna telah di bentak dan sengaja mengusirnya.


"Lihat saja nanti malam akan ku bunuh kau bersama anak dan suami mu." Ucap Engkos dalam hati dengan sesekali mata nya menatap kearah bongkahan pantat wanita beranak satu itu.


Lara sendiri wanita yang berjalan di depannya merasakan akan terjadi sesuatu malam ini, dengan penglihatan mata batinnya. Mulai waspada dengan lelaki yang ada di belakangnya.


Satu jam kemudian mereka berdua telah sampai di kediaman rumah Mbah Wongso yang ada di bawah. Kedatangan Engkos Kosasih di sambut baik oleh istrinya.


"Pak Engkos. Menginap lah di sini esok baru pulang." Kata Tukiyem Istri Mbah Wongso setelah Kosasih sampai di rumah.


"Terima Kasih banyak Mbah Tukiyem atas tawarannya. Rencananya emang mau menginap seraya mengenang Mbah Wongso yang sudah aku anggap ayah sendiri." Jawab Kosasih menjilat ucapannya. Pikirannya sedang merencanakan sesuatu.


"Pak Engkos bila mau istirahat langsung silahkan masuk ke kamarnya.?" Tanya Istri Mbah Wongso itu. Dengan senyuman wanita paruh baya.


"Nanti saja Mbah............... Ucapnya terhenti bibirnya menelan ludah melihat wanita yang tadi membentak nya di bukit gunung gong gong keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk.


"Mbah. Saya mau keluar dulu. Untuk membeli beberapa makanan dan rokok serta kopi." Kata Engkos meminta Ijin.


"Ohk begitu Pak Engkos. Apakah mau di temani bersama anak Mbah.?" Tanya Tukiyem.


"Tidak usah. Mbah........! Mbah sendiri mau minta apa sekalian mau ke warung.!! Engkos bertanya dengan senyuman manis.


"Biasa Mbah.......!! Beliin rokok kesukaan suami." Jawab nya. Engkos pun mengangguk dan langsung beranjak keluar berjalan menghampiri mobilnya. Tujuan nya adalah apotek yang ada di jalan prapatan yang mungkin 40 menit sampai.


############################


Lima unit motor matic bergerak melaju meninggalkan parapatan Citamiang, membelah jalanan kawasan puncak menuju jalan labuan Cianjur dengan beriringan di malam Minggu itu.

__ADS_1


Dalam kelima motor itu empat dari motor matic yang secara beriringan itu saling berboncengan dengan memakai ciri khas memakai ikat kepala berwarna putih dan hitam layaknya seperti seorang pendekar.


Tepat di salah satu Tukang sate yang berada di daerah Pacet Cipanas. kelima motor berhenti dan langsung masuk ke rumah makan sate yang ada di lokasi tersebut. Seraya menunggu seorang pemuda murid dari Aden Haruman.


"Opan Jaya Haruman langsung mengeluarkan ponselnya. Untuk mengirim pesan singkat kepada pemuda itu. Bahwa dirinya dan beberapa murid Ayah nya sudah tiba di lokasi janjian tersebut.


Tak lama kemudian Balasan pun di terima oleh anak dari Abah Aden Haruman. Untuk menunggunya sekitar satu Jam.


*****


Setelah mendapatkan kabar melalui pesan singkat dari Anak Abah Aden Haruman. Awan yang sedang berada di ruangan itu kediaman Tuan Tedi Ferdiansyah bersama Ayah dan anaknya.


"Tuan Muda. Ijin saya mau keluar terlebih dahulu. Bila nanti tepat pukul 23:00 Anda harus segera bersiap siap seseorang akan menjemput mu. Saya bersama dengan beberapa bala bantuan dari Aden Haruman. Menunggu mu di prapatan Pacet, tepatnya di Tukang Sate." Kata Awan.


"Anakku Awan. Apakah tidak sebaiknya berangkat bersama.?" Tanya Tedi Ferdiansyah penasaran. Excel hanya bisa menatap tampa bersuara.


"Awan menjawab pertanyaan dari Tuan Besar.


"Baiklah.......... Nak Awan.!! Saya ikut apa rencana mu. Mudah mudahan berjalan lancar." Kata Tedi di anggukan oleh Excel dan Friska seraya mengucapkan amiin yaa robball allamiin.


Awan langsung berdiri, begitu juga dengan Tedi Ferdiansyah dan kedua anaknya. Tuan Besar doa kan saya agar permasalahan ini cepat selesai. Sambil memeluknya.


"Anakku......... Doa ku menyertai Kalian." Lirih nya sambil mengelus ngelus punggungnya dan air mata nya terjatuh.


Setelah itu pemuda tengil tampan nan rupawan langsung melepaskan pelukannya dan mulai berjalan kearah keluar menghampiri motor Jupiter MX yang ada di luar.


Satu Unit Motor Jupiter MX melesat meninggalkan kediaman Tuan Tedi Ferdiansyah, membelah jalanan di malam hari menuju jalan utama labuan Cianjur menuju kota Cipanas.


Empat puluh menit kemudian motor yang di bawa oleh pemuda tengil itu. Sampai di warung sate yang biasa buka 24 jam itu.


Setelah memarkirkan motor nya di tempat parkir biasa. Awan langsung menuju ke dalam warung sate itu. Ketika beberapa orang terlihat olehnya dan salah satu dari mereka anak pertama Abah Aden Haruman.

__ADS_1


********


"Pak ada obat serbuk perangsang buat wanita.?" Tanya Engkos ke penjaga toko obat yang ada di parapatan tersebut.


"Ada pak. Mau yang keras atau yang lembut.?" Tanya pedagang itu.


"Perbedaan dari kedua nya apa.?" Tanya Engkos penasaran. Lalu pedagang itu menjelaskan panjang lebar.


"Bila yang keras, setelah obat itu di minum oleh wanita. Maka dia tidak bisa menahan birahinya dan akan langsung menerkam pria siapa saja yang penting birahi nya tertuntaskan." Ucapnya.


"Kalau yang lembut.!!


"Yang lembut harus menunggu kurang lebih tiga jam baru obat itu bekerja. Untuk urusan di ranjang nya tak kalah ganas dengan yang keras.!!


"Ohk begitu........!! Baiklah aku ambil yang lembut saja.!! Ucapnya dengan seringai licik di hati Engkos Kosasih.


"Baik Pak............. Lalu berjalan kearah rak obat dan mengambil satu blok obat serbuk.


"Silahkan Pak harganya 98 ribu." Ucap pedagang itu menyerahkan serbuk obat perangsang.


"Terima Kasih......... Menyodorkan uang satu lembar berwarna merah. Tidak usah di kembalian." Ucap Engkos Kosasih, meninggalkan toko obat itu.


"Tinggal menunggu beberapa preman bayaran. Untuk mengeksekusi suami wanita busuk itu." Gumam Engkos Kosasih setelah masuk dalam mobilnya.


"Tok............!


"Tok...........!


"Ketukan kaca mobil Engkos Kosasih di ketuk dari luar setelah tiga puluh menit lamanya dia menunggu kedatangan para preman yang sudah Ia telepon ketika keluar dari rumah Mbah Wongso.


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2