
Suara bacaan sholawat menggema di gunung Masigit tempat Abah Aden Haruman beserta para murid dan pemuda itu melakukan Tawasul menyambut kedatangan satu syuro.
Awan yang saat itu dengan khusyu memusatkan hati dan pikiran nya hanya untuk mengingat ilahi Robbi. Tiba tiba dia dalam keadaan tak sadar terbawa oleh gurunya ke suatu tempat dimana tempat itu tak asing baginya.
"Wuzzzzzzzzz................!
"Awan pun terbang bersama Abah Aden Haruman di malam itu menuju ke kampung Situ Babakan.
"Hei....... Anak Jin Kuya buka matamu sekarang juga." Titah Aden Haruman.
Awan pun langsung membuka mata nya, dia celingukan kesana kesini melihat suasana malam yang dia tahu berada di kampung Nenek Romlah.
Bukan kah ini kampung Nenek ku, dan kenapa aku bisa terbang begini." Ucap Awan dalam hati.
"Abah bukan kah kita berada di gunung Masigit kenapa tiba tiba kita berada di kampung Situ Babakan.?" Tanya Awan penasaran.
"Kamu jangan banyak bicara sebaiknya ikuti Abah, dan jangan coba coba menjauh dari Abah." Pinta Aden Haruman.
"Ok." Siap.........! Abah." Ucap Awan dari belakang berbicara.
Aku pun berjalan mengikuti lelaki paruh baya yang telah terlebih dahulu dia berjalan di depanku. Aku tidak henti hentinya berdecak kagum melihat beberapa para orang orang yang memakai baju khas prajurit jaman dahulu dengan berbaris dan membungkuk hormat kepada Abah Aden Haruman.
Setelah sampai di depan halaman rumah Nenek ku. Abah Aden Haruman di sambut oleh beberapa orang berbaju putih dengan memakai surban putih dan tangan sedang memegang tasbih dan mulut berucap asma asma Allah SWT.
Aneh rasanya ketika melihat semua yang ada di sana menatap kearah ku dengan tatapan yang begitu tajam. Aku pun langsung membalas tatapan mereka dengan tatapan yang sama hingga mereka tersenyum kepadaku.
Tak lama setelah itu sosok yang aku kenal dan baru satu tahun meninggalkan rumah Nenek Romlah datang menghampiri ku dengan senyuman. Aku pun sontak kaget dan terkejut saat itu.
"Uy..... Uyu....... Uyut.......! Kata Awan seraya mengucek ngucek mata nya.
"Hahahahaha." Sahabatku Aden Haruman, Terima kasih telah membawa Cicit ku ke alam Ghaib ini." Kata Mama haji Jalaludin.
__ADS_1
"Santai Aja............!! Jalaludin. Aku membawanya karna keluarga mu dan keturunan mu sedang dalam keadaan bahaya. Aku ingin membantu mencegah orang yang akan mengirim santet kepada nya." Jawab Aden Haruman.
"Uyut........ Ini bener bener Uyut.?" Tanya Awan penasaran.!!
"Anak Jin Kuya...... Dia memang Uyut mu. Sebaik nya cium tangannya." Titah Aden Haruman.
Pemuda yang di bawa Sukma oleh guru nya itu langsung menyambut tangan Mama Haji Jalaludin. Ayahnya Nenek Romlah yaitu Uyut pemuda itu.
"Heeii Anak Jin Kuya. Tuh satu lagi Bao mu. Haji Sidiq Purnama." Titah Aden Haruman kepada Muhammad Awan Pratama.
Pemuda yang di panggil Jin Kuya hanya garuk garuk kepala menghampiri sosok lelaki yang sedang tadi berdiri di hadapan gurunya. Lalu mencium tangannya.
"Abah. Aku dari tadi tidak melihat Aki Odong, suami dari Nenek Romlah.?" Tanya Awan.
"Ngapain kau menanyakan orang yang tidak di terima oleh langit dan bumi." Jawab Aden Haruman.
"Hmmmmm. Mau tau aja atuh Abah." Rengek Awan.
"Biarkan lelaki laknat itu bergentayangan sampai hari kiamat tiba. Itu semua ulah semasa hidupnya menduakan sang pencipta." Ucap Aden Haruman.
Abah Aden Haruman dan Mama Haji Jalaludin berserta Haji Sidiq Purnama melesat masuk kedalam Rumah Siti Romlah dengan menembus langsung dinding rumah. Sedangkan Awan sendiri mengikuti dengan berlari tapi tepat di teras rumah dia kebingungan karna mana mungkin dia bisa menembus dinding itu.
"Aduhh bagaimana gue masuk kedalam rumah Nenek Romlah. Aku kan tidak punya ilmu menghilang." Ucap Awan seraya garuk garuk kepalanya.
Seketika baju pemuda itu di tarik oleh tangan yang ada di balik dinding rumah Nenek Romlah, dan kini dia terkejut setelah masuk kedalam rumah neneknya, melihat beberapa mahkluk dengan taring di mulutnya dan wajah yang hitam serta rambut acak acakan.
"Gen..... Gende..... Genderuwo." Teriak Awan ketakutan.
"Diam kau Jin Kuya sebaiknya kita lawan mereka." Ajak Aden Haruman.
"Ogah Ahk.... Abah yang ada. Aku kencing dalam celana." Tolak Awan.
__ADS_1
"Loe mau Ibu mu serta yang lainnya meninggal akibat ulah genderuwo yang di kirim oleh seseorang menyantet keluargamu.?" Tanya Aden Haruman.
"Waduh Abah. Tapi Awan takut." Katanya pelan.
"Dasar Anak Jin Kuya penakut.........!
"Haii............ Genderuwo Genderuwo jelek. Pergi kau dari rumah ini." Seru Abah Aden Haruman menatap tajam kearah mahluk ghaib yang berada di rumah Nenek Romlah.
"Hahahaha......... Aku tidak akan pergi sebelum majikan ku meminta pulang." Ucap salah satu mahluk gaib yang menyeramkan itu pada Abah Haruman.
Karena makhluk ghaib itu tidak mematuhi ucapan dari Abah Haruman. dia melemparkan abu hitam yang dibawa nya dari puncak gunung Haruman.
"Aaaaaaaa....... Panasssssss........ Aaaaaa...... Panassss. " Pekik para makhluk ghaib itu dengan suara beratnya.
"Jika kau tidak mau kembali kepada majikan mu. Maka aku akan memusnahkan mu dengan bantuan ayat ayat suci yang di bacakan oleh Mama Haji Jalaludin dan Haji Sidiq Purnama serta murid ku, yang sudah hapal 33 juz Alquran." Kata Abah Aden Haruman mengancam para makhluk ghaib tersebut.
"Ampun Abah jangan musnahkan aku, dan para pengikut ku. Baiklah aku bersama para pengikut ku akan kembali kepada majikan tapi jangan musnahkan ragaku." Pinta Makhluk menyeramkan itu.
"Heii makhluk jelek dan kulit Hitam. Bilangin kepada si Wongso. Aku tunggu di Gunung Slamet untuk bertarung. Bila majikan mu tidak datang aku akan menyabut nyawanya dengan Pecut Amalasuri." Tantang Aden Haruman dengan sorot mata yang tajam.
Kemudian Abah Aden Haruman mengirim para mahluk ghaib itu dengan tendangan keras hingga mereka terpental jauh langsung menuju dimana majikannya berada.
Sementara di Mbah Wongso gurunya Engkos Kosasih mengetahui pekerjaan nya di ganggu oleh Aden Haruman penguasa Gunung Gede nampak murka. Apalagi lelaki tua itu melayang kan untuk bertarung di Gunung Slamet.
Mbah Wongso bertekad akan datang menerima tantangan dari Aden Haruman di Gunung Slamet itu, karna telah berani mengusir para makhluk ghaib kiriman nya.
"Haruman........ Bangsat kau.......... Aku terima tantangan mu." Lantang suara Mbah Wongso menggelagar di gubug reot tempat menjalankan ritualnya itu.
"Aku tunggu......... Aku tunggu......... Aku tunggu..... Wongso." Ucap Aden Haruman dalam hati.
Setelah urusan nya beres Abah Aden Haruman langsung kembali bersama pemuda itu ke gunung Masigit dan memasuki badan nya kembali.
__ADS_1
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.