
Pagi pun telah meninggalkan di hari itu dan kini berubah menjadi siang hari, di salah satu RSUD di kota kecil tepat nya di jalan Pramuka. Seorang lelaki berusia 35 tahun sedang meminum kopi di salah satu pedagang kaki lima yang tidak jauh dari bangunan penjara putih itu, tempat seorang wanita paruh baya itu di rawat.
Bob Hidayat lelaki berperawakan tinggi kulit putih dan rambut mirip aktor film Asia seorang manusia yang menghalalkan segala cara agar tujuan dan sakit hati nya terbalaskan.
"Seruput ahk............ nikmat nya kopi hitam kapal api mix yang sedang ia seruput di siang itu.
"Kriiiiing''...................!
"Kriiiiing''....................!
Tiba Tiba ponsel Android dual SIM milik nya berbunyi tanda ada yang menelepon.
"Hmmmmm." Iwan orang yang di cari cari oleh pihak kepolisian, ada apa dia menelepon ku.! Gumam Bob di siang itu.
"Halo............! Tuan Bob di sini menunggu perintah." Ucap Bob menjawab telepon seraya berjalan meninggalkan kerumunan orang yang sedang nongkrong di warung kaki lima.
"Pak Bob Hidayat. Selama ini kamu kemana.? kenapa susah di hubungi.?" Tanya Iwan di sebrang telepon.
"Tuan...... Sebelum nya saya sudah memberitahu kan anda tentang kepergian saya ke Kota Jawa Tengah karna ada urusan pribadi.! Jawab Bob sejenak berhenti lalu melanjutkan lagi.
"Ada hal penting kah sehingga Tuan menanyakan saya.?" Tanya Bob penasaran.
"Pak Bob ada kerjaan yang lumayan pantastis bayarannya." Ucap Iwan memberi angin segar.
"Pekerjaan seperti apakah yang harus saya kerjakan.?" Tanya Bob.
"Sebaiknya kita bertemu malam ini, dan Tuan Agus sendiri yang langsung menjelaskan tentang pekerjaan yang akan kita kerjakan." Saran Iwan.
"Baiklah Tuan silahkan anda tentukan tempat dan jam nya saya akan meluncur dan mengosongkan waktu ku untuk bertemu dengan tuan besar Agus Ferdiansyah." Kata Bob penasaran dengan sosok Adik tiri pemilik perusahaan Future Nugraha Company.
"Siap nanti malam saya akan kirim serlock lokasinya dan jam pertemuan nya. Setelah Tuan Besar Agus meluncur dari Mansion milik nya." Kata Iwan.
"Siap Tuan' kalau begitu saya akhiri obrolan telepon ini. Silahkan anda beraktifitas di sana. Seraya mengakhiri panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
"Hmmmmm." Malam ini aku akan mengajak Betmen dalam pertemuan ini." Gumam Bob seraya berjalan menuju pedagang kaki lima itu.
"Wanita itu apakah dia sudah makan atau dia membusuk di rumah. Biarkan lah dia mati kelaparan di kamarnya. Kata Bob dalam hati memikirkan Pipit yang di kurung di rumahnya.
Ketika sampai di bangku yang ada di meja pedagang kaki lima itu. Bob Hidayat di kejutkan oleh suara teguran dari seorang wanita berusia 35 tahun itu.
"Pak Bob sedang ngapain di sini.!!
"Ehk. Anu, itu Bu Rika sedang nongkrong seraya menunggu hasil pemeriksaan medis tentang ibu saya yang sedang di rawat di RSUD ini." Jawab Bob tergugup.
"Bu Rika sendiri mau kemana.? Tanya Bob sekilas ada rasa takut dari hatinya karna kematian suaminya di santet oleh Bob Hidayat.
"Baru pulang dari rumah sakit sekedar memasukkan lamaran pekerjaan. Pak Bob tahu sendiri kan suami sudah tiada ya saya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari." Kata Rika dengan wajah sayu.
Tersentak hati lelaki itu, setelah mendengar jawaban dari Istri selingkuhan Pipit mengutarakan kesusahan nya setelah di tinggal oleh suaminya. Dan yang bikin Bob tersentak hatinya karna ulah nya hingga dengan sengaja memutus aliran rejeki kepada kedua anaknya yang masih terbilang kecil.
"Bu Rika saya turut berdukacita atas meninggalnya suami Ibu yaitu Zaenudin, dan saya mohon maap kemarin tidak datang melayat karna ada urusan yang tidak bisa saya tinggalkan." Kata Bob seraya jari tangan dua dua nya ia gabung kan.
"Sudah saya maapkan dengan ikhlas." Jawab Bob tersenyum manis tapi dalam hati dia bergejolak.
"Enak aja memaapkan laki loe hah. Sampai datang dimana semua mahluk di kumpulkan dalam Padang Mahsyar sekalipun aku tidak akan pernah memaapkan suami mu yang sudah mati dan menjadi bangkai." Ucap Bob dalam hati menahan amarah.
"Terima Kasih banyak Pak Bob. Kalau begitu saya undur diri untuk kembali ke rumah karna sore nya akan ada pengajian khusus untuk memberi Fatihah kepada almarhum suami saya." Ijin Bu Rika.
"Silahkan Bu hati hati di jalan." Balas Bob tersenyum.
***************
Satu unit motor Zupiter MX berjalan dengan perlahan memasuki jalan desa yang mengarah ke satu kampung yang ada di pinggiran kota kecil tersebut.
"Tujuan anda berada di sebelah kan seratus meter dari jalan desa Maleber." Ucap google dalam aplikasi maps yang berada dalam ponsel android milik pemuda itu.
"Siap google." Jawab pemuda itu cekikikan dalam menjalankan motor nya.
__ADS_1
Tepat di salah satu bangunan rumah yang cukup besar di kampung yang dia tahu kampung Sigalumpit, masih satu kecamatan dengan pemuda itu, motor Jupiter MX pun berhenti tepat sesuai lokasi yang Tuan Besar Tedi Ferdiansyah dia kirim melalui aplikasi wasttap tersebut.
"Apakah di sini Tuan Besar berada, terlihat dari lokasi yang dia kirim tepat di samping rumah ini.? Tanya Awan kepada diri sendiri.
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar dari pintu utama rumah mewah itu dan berjalan menghampiri pagar rumah untuk keluar.
"Permisi Bu boleh kah saya bertanya.? Tanya pemuda itu ramah.
Silahkan Nak mau bertanya tentang apa.!! Jawab nya seraya keningnya berkerut.
"Apakah ini rumah nya Tuan Besar Tedi Ferdiansyah.?" Tanya pemuda itu bernama Awan.
"Ohk...... Iya betul sekali Nak.!!
"Apakah Tuan Besar nya ada, karna saya tadi sudah berjanji akan bertemu sesuai lokasi yang dia berikan.?" Tanya Awan.
"Ada. Sebentar saya panggilkan dahulu majikan saya. Silahkan Nak muda untuk tunggu di Gazebo." Tunjuk wanita paruh baya itu.
"Terima Kasih Bu mohon maap merepotkan ibu." Kata Awan.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum manis kepada pemuda yang mencari majikannya itu, lalu dia masuk kedalam rumah untuk memberi tahukan majikannya.
Tak lama kemudian seorang lelaki berusia 50 tahun keluar dari pintu utama rumah miliknya dan berjalan kearah Gazebo yang sudah di tunggu oleh pemuda yang sangat ia rindukan dan cari setelah kepulangan dari Rumah Sakit di negara Singapura.
"Muhammad Awan Pratama. Anakku penolongku." Tegur seorang lelaki dari arah belakang. Membuat orang yang di tegur pun langsung membalikkan badan dan tersenyum.
"Tuan Besar. Ucapnya seraya membungkuk hormat dan buru buru di cegah oleh Tedi Ferdiansyah langsung di peluk oleh nya.
"Pelukan Tedi Ferdiansyah begitu hangat, bagaikan pelukan seorang ayah yang tak pernah Ia rasakan saat ini.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.
__ADS_1