Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Kabar dari Tuan Agus Adik tiri Tedi Ferdiansyah


__ADS_3

Kriiiiing..............


Kriiiiing..............


Kriiiiing..............


Suara panggilan itu memekakkan telinga.


Tidak jauh dari ponsel itu tampak seorang lelaki setengah baya tertidur lelap.


Terdengar dengki halus menandakan bahwa lelaki ini sedang dalam keadaan lelah dan sangat lelap.


Kriiiiing................


Kriiiiing...............


Suara panggilan telepon itu kembali terdengar membuat lelaki setengah tua yang tertidur lelap itu terbangun.


Dia yang belum seratus persen menguasai kesadaran nya meraba raba kesana kemari untuk menemukan ponsel.


Setelah ujung tangannya menyentuh ujung ponsel. Dia segera meraih dan dengan sedikit menyipitkan mata, dia melirik ke layar ponsel. Lelaki itu terkejut melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel.


"Tuan Agus.......... Gumam nya.


Lelaki setengah tua itu buru buru mengusap layar ponsel dan beranjak bangkit dari tempat pembaringan setelah melihat penelepon di layar ponsel nya itu.


"Iwan apa yang sedang kau lakukan di pagi hari ini? Kenapa kau lama sekali mengangkat telepon dari ku? Tanya satu suara dari panggilan telepon masuk.


"Tuan Agus, maap kan aku. Ponselku berada di meja kamar sedangkan aku sedang berada di kamar mandi." Ucap nya berbohong.


"Apakah ada sesuatu yang penting sehingga anda begitu tergesa gesa? Tanya Iwan sambil memijit mijit alis nya yang sedikit sakit.


"Iwan sekarang kau sedang dimana?" Apakah kau masih bersama dengan Supit? Tanya Tuan Agus.


"Saya baru kembali dari Gunung Nyongkokot, sedangkan Supit masih tertidur pulas di kamar hotel daerah Sukabumi.! Jawab Iwan.


"Iwan.......... Seminggu lagi Excel Ferdiansyah dia mau mengecek proyek perumahan yang ada di kota kecil, saya tidak mau segera kau bereskan seperti kau membereskan Andri Setiawan dan Tedi Ferdiansyah....... Kau atur bagaimana cara nya." Titah Tuan Agus memberi perintah.

__ADS_1


"Siap Tuan itu hal yang mudah bagi saya, saat ini juga saya akan langsung menelpon Bob Hidayat, agar segera memberi kesempatan kepada pembunuh bayaran tersebut." Jawab Iwan yakin, walaupun Bob Hidayat sedang berada jauh dari tempat kelahiran nya.


"Bagus......... Bagus............! Usahakan dengan bersih dan tidak ada kecurigaan dari pihak penegak hukum." Kata Agus..


"Baik Tuan Agus, aku akan mempersiapkan segala sesuatunya, kali ini aku dan Supit akan ikut membantai anak dari pemilik perusahaan Future Nugraha Company, dan ingin menjajal langsung ilmu yang di dapat dari hasil bertapa di Gunung Nyongkokot tersebut." Jawab Iwan jumawa.


"Segera lakukan. Habisi saja anak Tedi Ferdiansyah itu, agar kita dengan mudahnya mengakusisi perusahaan milik Kakak tiri ku itu." Kata Tuan Agus dengan senyuman jahatnya.


"Baik' Tuan saya akan melakukan nya.


Setelah panggilan telepon berakhir Iwan langsung keluar dari kamar hotel dan menuju kamar hotel sebelah yang di tempati oleh Supit.


"Tok..............! Tok.............! Tok...............!


"Ceklek............! Pintu kamar hotel terbuka dan muncul sosok wanita berusia 25 tahun di hadapan Iwan.


"Kau belum pulang.?" Tanya Iwan kepada wanita yang di sewa oleh temannya itu.


"Belum, Tuan karna, Tuan Supit tidak membolehkan pulang dulu, " Jawab wanita itu.


"Sudah Tuan, dia sedang berada di kamar mandi, silahkan masuk." Jawab nya.


Lelaki berusia 30 tahun itu langsung masuk ke dalam kamar hotel dan pintu di tutup oleh wanita yang di sewa oleh Supit.


"Iwan ada apa? Tegus satu suara dari belakang dengan masih memakai handuk.


"Bos besar Nelepon barusan." Kata Iwan menjawab teguran dari lelaki yang beda lima tahun darinya.


"Ok." Siap gue pakai baju dulu." Kata Supit. Lalu berjalan kearah kamar hotel.


Tak lama setelah itu Supit pun keluar dari kamar hotel dan memberikan uang satu lembar berwarna merah kepada wanita bayaran itu.


"Sani....... Loe beli nasi Padang tiga bungkus, sisa nya belikan rokok." Titah Supit agar wanita itu keluar karna ada sesuatu yang akan di bicarakan oleh Iwan.


"Baiklah Tuan." Jawab nya lalu keluar dari kamar hotel tersebut.


"Iwan, Tuan Agus, nelepon ada perintah apa?" Tanya Supit setelah wanita itu keluar dari kamar hotel.

__ADS_1


"Anaknya majikan kita Excel Ferdiansyah Minggu depan dia mau meninjau proyek yang ada di kota kecil, dia menyuruh kita untuk segera mengeksekusi sama seperti Andri Setiawan dan ayahnya Tedi Ferdiansyah.! Kata nya menjelaskan panjang lebar obrolan telepon antara dirinya dan Tuan Agus.


"Terus sekarang kita harus bagaimana, loe tahu sendiri Bob Hidayat sedang berada di Jawa Tengah, belum tahu kapan dia kembali.? Tanya Supit.


"Nanti sore gue telepon, dan langsung di tanya kan kapan kepulangan nya." Jawab Iwan.


"Baiklah................! Singkat Supit menjawab nya.


Tidak lama kemudian wanita yang tadi di suruh untuk membeli nasi Padang pun telah kembali dan mereka bertiga pun langsung makan dengan lahap di waktu pagi itu.


***********************************************


Masih di hari yang sama dan waktu yang sama di salah satu kampung yang dekat dengan kantor kecamatan tepatnya di kediaman Hajah Markonah.


Seorang wanita setengah Tua bernama Lisnawati putri dari Nenek Romlah, kini sedang berada di ruangan keluarga Hajah Markonah bersama kedua putra dan menantunya.


Hajah Markonah bersama suaminya Haji Ma,mun dan dua anak serta menantunya sedang mengobrol dengan Lisnawati yang masih ada ikatan darah yang begitu dekat.


Bibi Markonah, jadi bagaimana pertanggungjawaban tentang masalah sawah yang di jadikan jaminan kepada Pak Engkos itu?" Tanya Lisnawati.


"Hai............ Lisna, saya kan sudah ngomong sama ibu mu, bahwa saya hanya meminta bagian warisan dari ayah saya, untuk masalah itu, urusan ibu mu." Jawab Markonah angkuh.


"Bibi, masalahnya bukan begitu, sekarang hutang yang anda pinjam dari Pak Engkos itu hampir seratus juta lebih, terus urusan nya bagaimana.? Tanya Lisnawati dengan emosi yang Ia tahan.


"Yaa itu urusan mu, hah." Geram Markonah.


"Bibi, seandainya dua Minggu lagi tidak bisa membayar hutang kepada Pak Engkos, apakah Bibi dan kalian yang berada di sini merelakan sawah peninggalan Orang Tua kalian begitu saja.?" Tanya Lisnawati yang sudah mulai kesal terhadap mereka.


"Hahahaha..................! Itu lebih baik sawah jadi milik Pak Engkos, karna aku sudah mendapatkan hak warisan itu Walaupun hanya lima puluh juta, itu sudah puas, karna si Romlah tidak mendapatkan sepeserpun dari sawah yang masih tersisa." Kata Markonah tertawa puas.


Bener bener manusia iblis umur tinggal sebentar lagi masih saja sombong dan angkuh. Ucap Lisnawati dalam hati.


"Bibi Markonah, Mang Haji Ma,mun dan kalian berdua, dengar baik baik dan camkan dalam pikiran dan hati kalian, Esok sore akan ada seseorang yang datang ke rumah ini memberikan surat pernyataan, hutang Hajah Markonah akan saya bayar dan kedepan jangan sampai kalian mengungkit dan mempermasalahkan bahwa masih ada bagian tentang sawah milik almarhum kakek." Geram Lisnawati kepada yang hadir di ruangan keluarga Hajah Markonah.


"Lisna....... Lisna.......... Lisnawati...........! Mimpi mu itu ketinggalan, kau punya uang dari mana.......! Tapi baiklah aku tunggu............ hahahaha hahahaha." Ucap Hajah Markonah seraya tertawa terbahak bahak di ikuti oleh suaminya dan kedua Anak serta menantunya itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2