
"Tut................................. " Tut...........................
"Halo Dil... Gue sudah jauh dari rumah nya guru kita.. Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi." Pinta Bedul dalam sambungan telepon.
Lalu Bedil pun menjelaskan semuanya tentang penyerangan yang di lakukan oleh Holik Simatupang bersama para preman yang di bawanya termasuk Sulastri dan Bob Hidayat pun ada di jalan Cianjur selatan.
"Lalu.. Apakah berhasil.?" Tanya Bedul penasaran.
"Ini yang saya mau informasi kan, mereka semua kalah telak di tangannya Muhammad Awan Pratama dan para anak buah nya." Kata Bedil.
"Malahan anak buah nya Kang Dayat yang bernama Harlev juga di kalahkan oleh pemuda itu secara satu lawan satu." Sambung Bedil.
"Terus sekarang bagaimana keaadaan mereka terutama Sulastri.?" Tanya Bedul tampak kaget dan cemas menghawatirkan posisi wanita yang di amanatkan oleh Ayah nya.. Walaupun sesaat hatinya cukup puas mendengar kabar bahwa Bob Hidayat cukup kritis karna pukulan secara bertubi tubi dari anak buahnya Muhammad Awan Pratama.
"Kabar terbaru yang di dapatkan oleh anak buahnya Kang Dayat yang ada dalam barisan internal pemuda itu, Sulastri tadinya berada di Markas Besar Anugrah Awan Sentosa tetapi pagi sekali sudah di alihkan kepada pihak kepolisian untuk di kembangkan lebih dalam kasus perencanaan pembunuhan terhadap Muhammad Awan Pratama dan Nabil Nur Fadillah." Terang Bedil di sebrang telepon.
"Ja... Jadi..... Sulastri sudah di tangani oleh pihak kepolisian.?" Tanya Bedul dengan kepanikan nya.
"Ia Dul... Kita terlambat mencegah Sulastri." Jawab Bedil pasrah dalam keadaan.
"Kita harus bagaimana Dil.." Kata Bedul. Bingung dengan semua yang sudah terjadi.
"Entahlah.... Sebaiknya kamu segera kesini setelah urusan dengan Ayah nya Sulastri selesai.. Tapi kalau bisa jangan sampai berita ini di ketahui oleh Ayah nya Nyonya Sulastri." Pesan Bedil dalam obrolan telepon.
"Baiklah kalau begitu Dil... Aku segera akan kesana setelah urusan di sini selesai.. Untuk masalah Sulastri saya akan menutup nya rapat rapat." Jawab Bedul.
Sesaat kemudian panggilan telepon di siang itu selesai.. Bedul pun kembali melangkah menuju rumah gurunya. Dia tidak menyadari ada dua sosok yang sedang mengintai pergerakan nya dari keberangkatan menuju kampung halaman nya sampai sekarang sedang menelepon bersama Bedil.
Sesampainya di salah satu hutan menuju rumah guru nya yang tampak di sebelah kiri dan kanan pohon pohon yang menjulang tinggi dan tanpa ada satu rumah penduduk di hutan tersebut... Bedul pun di cegah oleh dua orang yang memakai ikat kepala warna hitam dan usia nya jauh di bawah dirinya
__ADS_1
Bedul tidak menaruh curiga sedikitpun kepada dua lelaki yang datang dari semak belukar dan melompat kearah nya. Pikiran dan hati mungkin orang desa tempat ia berkunjung ke rumah guru nya yaitu Ayah nya Sulastri.
"Maap Pak Bedul mengganggu perjalanan anda bolehkah kita mengobrol terlebih dahulu." Kata salah satu dari mereka berdua.
"Ada urusan apa? Dan siapa kalian berdua.?" Tanya Bedul dengan kening berkerut.
"Perkenalkan nama saya Jujun dan ini sahabat saya Boyen. Mungkin Kang Bedul belum mengenali kita berdua, karna kami bukan lah penduduk warga sini." Terang Jujun.
"Lalu......... ada perlu apa dengan saya.?" Tanya Bedul.
"Sebaiknya kita mengobrol sambil duduk di sahung itu." Tunjuk Jujun ke arah depan terdapat satu sahung di tengah tengah hutan.
"Siapa kedua orang ini dan mau apa mereka datang tiba tiba.. Ini tidak sederhana mungkin, apakah mereka berdua lawan atau kawan." Bedul bertanya tanya dalam hati.
"Pak Bedul tidak usah bingung, kami berdua hanya ingin berdiskusi saja seraya ngopi bersama dengan anda." Kata Jujun ketika melihat raut muka lelaki di hadapannya terdiam dan sedang memikirkan sesuatu.
"Baiklah! Mari kita menuju sahung." Ajak Bedul.
Setelah sampai di salah satu sahung yang ada di lokasi desa atas dan desa bawah, tepatnya di tengah tengah hutan yang menuju ke rumah nya Sulastri. Merek bertiga pun langsung duduk secara bersamaan.
"Pak Bedul.... Mungkin anda sudah mengetahui kabar Nyonya Sulastri yang sudah berada di kepolisian." Kata Juna memulai obrolan nya.
"Iya... Kalau boleh tahu anda berdua itu siapa yang sebenarnya dan ada maksud apa di balik semua ini dengan bertemu dengan saya.?" Tanya Bedul karna dari tadi rasa penasaran sangat besar kepada dua lelaki seumuran itu.
Juna dan Boyen menatap sekilas kepada Bedul, sedetik kemudian mereka berdua saling tatap dan salah satu dari mereka pun mengangguk!
"Pak Bedul kami berdua adalah pengawal dari pemuda yang menjadi incaran anda dan Nyonya Sulastri beserta adik seperguruan anda." Kata Juna.. Ia menatap ke arah Bedul melihat exfresi nya, apakah dia akan terkejut dan langsung menghajarnya atau pun diam terpaku.
Darah nya mengalir melalui pori pori menjalar ke seluruh tubuh nya, tampak wajahnya memerah menahan segala amarah yang ada di seluruh tubuh Bedul saat ini, setelah dua lelaki itu memberitahukan bahwa mereka adalah pengawal yang menjadi target dirinya.
__ADS_1
"Hahahaha...... Kalian berdua sungguh berani memasuki kandang harimau dengan mengatakan sejujurnya.. Apakah kau.... Kau..... Mempunyai nyawa cadangan." Kata Bedul seraya menunjuk tangan ke arah mereka berdua dengan tertawa lepas penuh kesombongan.
"Hehehehe nyawa kita hanya satu tapi keberanian dari saya dan temanku puluhan ribu keberanian." Jawab Juna santai menghadapi lelaki di hadapannya.
"Cuih...............!
"Sombong kau............" Bedul langsung bangkit berdiri seraya meludah.
"Mau kemana Pak Bedul kita belum selesai mengobrol.?" Tanya Boyen.!
"Mau kemana hah! Jelas jelas aku akan menantang kalian berdua secara langsung dan membunuhnya lalu aku serahkan dua kepala kalian kepada majikan mu." Kata Bedul dengan amarah tertahan.
Boyen hanya tersenyum begitu juga dengan Juna! "Apakah kau yakin dengan ancaman mu itu Pak Bedul yang terhormat.?" Tanya Juna... Ia pun langsung bangkit dan turun dari sahung di ikuti oleh Bedul.
Sementara Boyen sendiri mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon melalui panggilan video call kepada Pak Subadra yang ada di pihak kepolisian.
Bedul dan Juna sudah turun dari sahung nya, mereka berdua juga telah memasang kuda kuda, dan pokus dengan ilmu pencak silat masing masing yang mereke belajar dari guru nya.
Boyen tersenyum ke arah mereka, sambil menunggu telepon video call itu di angkat oleh Pak Subadra yang masih berdering.
Panggilan pun terhubung, tampak di layar ponsel berpakaian seragam polisi tersenyum kepada seorang yang memegang ponsel dengan telepon video call.
"Halo..... Pak Subadra!! Kata dari dalam video call itu seraya melambaikan tangannya!
"Pak Subadra.... Bisakah tunjukkan Nona Sulastri yang malam sudah di amankan oleh Tuan Muda Awan." Pinta Boyen..
"Siap... Kang Boyen tunggu sebentar!! Saya akan masuk terlebih dahulu kepada ruang inap di rumah sakit rakyat tempat Nona Sulastri di rawat." Jawab Subadra dari sebrang telepon.
Bersambung.
__ADS_1
Mohon maaf baru bisa aktip lagi sibuk kuli di dunia nyata