
Masih di malam itu ketika bos Preman itu melakukan perjalanan jauh kesalah satu tempat yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Saat itu pukul 4 subuh, Haikal dan Pak Rudi sudah bersiap siap untuk berjalan kaki menuju saung puncak gunung Kanyang yang akan ditempuh secara berjalan kaki kurang lebih lima jam lama nya bila tidak hujan, seandainya turun hujan makan jalanan akan semakin licin. sampai ke tujuan pun akan semakin lama.
"Pak, Haikal apakah mau berangkat sekarang atau menunggu terbit nya matahari? Tanya Rudi yang mempersiapkan semua alat dan bahan bahan untuk di sajikan di saung puncak gunung itu.
"Lebih baik berangkat sekarang agar pas sampai di saung itu tidak terlalu siang." Jawab Haikal.
"Baiklah, Dan ini seperti biasa syarat syarat harus di bayar terlebih dahulu biar maksud dan tujuannya tercapai!..? Kata Rudi, memperlihatkan satu botol kecil minyak mistik, Selembar kain kapan , dan satu bungkus dupa hikmat dan lain lainnya.
"Iman, segera bayar seperti biasa,! Titah Haikal kepada supir sekaligus orang kepercayaan nya.
"Siap Bos Besar. " Jawab nya seraya menyerahkan uang lima lembar berwarna merah kepada istri Rudi yang sudah terbangun.
Setelah semua nya siap dengan keperluan yang di butuhkan di tempat itu, Haikal pun berangkat bersama Rudi, sedangkan Iman menunggu di warung milik Pak Rudi.
Tiga jam sudah mereka berdua sampai di tengah tengah bukit yang menjulang tinggi tanpa ada rumah atau pun kehidupan di hutan itu, hanya kicauan dan suara jangkrik yang terdengar saat itu.
Pak, Haikal sebaiknya istrahat dulu, terlihat anda kelelahan, " Kata Rudi.
"Iyaa.........! Kita sudah setengah perjalanan, karna akibat kurang tidur jadi badan sedikit rasa lelah dan mudah capek." Keluh nya yang menggubrakan dirinya di atas rumput yang masih basah di pagi hari itu.
"Segala keinginan yang akan di capai pasti ada resiko dan perjalanan yang harus di tempuh terlebih dahulu." Kata Rudi memberi nasehat.
"Betul sekali Pak Rudi apa yang kau telah ucapkan barusan." Sahut Haikal yang mengatur pernafasan nya itu.
"Seperti seorang wanita muda yang seminggu lalu saya antarkan ke Gubuk dukun sakti itu, yang hanya butuh empat jam perjalanan menjadi delapan jam perjalannya.! Kata Rudi di sela istrahat itu.
"Bisakah anda ceritakan kepada saya sosok wanita itu sampai Abah Enji belum turun dari Puncak Gunung Kanyang." Pinta Haikal bos Preman itu.
Pak Rudi terdiam sesaat matanya memandang kearah pohon pohon yang menjulang tinggi keatas, sesaat menarik napas dalam-dalam dan langsung berkata, seraya hentakan napas yang ia tarik.
__ADS_1
**
"Menurut cerita dari mulut wanita berusia 20 tahun itu, tujuannya dia berangkat ke negara Piramida, untuk jadi TKW, akan tetapi setelah sampai dan bekerja di salah satu rumah seperti Istana kerajaan, dia di jadikan selir oleh pemilik rumah tersebut, bernama Moch Ismail.
Dengan terpaksa dan tidak ada pilihan lain bagi dirinya, Untuk kabur kemana, puluhan pengawal berjaga ketat di istana itu.
Sebulan dia dijadikan selir oleh majikan. hatinya berontak karna tersiksa nya perlakuan kasar dalam permainan ranjang nya itu. Dengan di bantu oleh salah satu selir yang sama hal dia juga di perlakukan seperti binatang oleh majikan nya itu, wanita yang memperkenalkan diri nya Sulastri itu akhir nya dia bisa kembali ke negara asal nya, dengan membawa tiga kilo mas batangan.
"Pak Haikal waktu itu saya tanya kepada wanita bernama sulastri itu.
"Apakah kau tidak di buru oleh anak buah majikan mu itu.
"Hanya satu selir dari ratusan selir tidak membuat majikannya itu pusing," Jawab Sulastri.
"Terus bagaimana anda bisa lolos dan sampai kembali ke negara kita? Tanya Rudi masih penasaran.
"Aku korban semua kemolekan tubuh ku kepada orang orang yang membantu ku untuk kembali ke negara ini." Jawab nya dengan mata yang sayu tapi tersorot mata penuh amarah.
"Terima Kasih, aku tidak akan melupakan kebaikan mu." Jawab wanita yang di jadikan selir oleh Moch Ismail.
**
"Begitulah Pak Haikal cerita nya, sampai sampai dukun sakti itu benar benar serius membantu wanita tersebut.
"Apakah rasa sakit hati nya itu terbalaskan? Tanya Haikal penasaran.
"Saya tidak tahu, karna wanita itu belum datang kembali ke tempat saya, atau pun dia langsung menuju Abah Enji lewat jalan lain." Jawab Rudi kini mulai bangkit dari istrahat dan mengajak untuk melanjutkan perjalanan nya lagi.
"Pak Haikal mari kita lanjutkan lagi perjalanan yang paling dua jam lagi sampai." Pinta Rudi.
"Baiklah." Seraya berdiri dan beranjak jalan.
__ADS_1
*****************************************
Sementara di salah satu Rumah Mewah nan megah dengan halaman yang begitu luas serta bunga bunga bermekaran di halaman itu. Seorang lelaki muda setelah turun dari mobil ia berjalan dengan tergesa gesa untuk segera berangkat menuju bandara internasional Soekarno-Hatta sekedar mempersiapkan segala kebutuhan untuk Ayah yang akan di rawat di rumah sakit bertaraf internasional itu.
Awan......! lest' Go' ! Ucap Excel setelah semua beres dengan keperluan dan sudah berada dalam mobil nya.
"Kemon.......! Jawab Awan......!
Mobil pun melesat dari arah Cawang Jakarta timur membelah jalanan di pagi hari itu menuju bandara.
Hanya butuh satu jam mobil yang di bawa oleh pemuda berusia 15 tahun kini sampai di halaman parkir bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Mereka berdua langsung turun dari mobil dan menghampiri pasangan suami istri paruh baya itu serta satu orang lelaki dan beberapa pengawal yang berjaga di sekitaran nya.
"Excel, apakah sudah di persiapkan semua nya? Tanya Ibu kandung sesaat setelah mereka berdua sudah berada di dekatnya.
"Sudah, Bunda semua nya ada dalam tas ini." Jawab Excel seraya menyerahkan kepada adiknya Friska Ferdiansyah.
"Nak, Awan Terima Kasih banyak atas bantuan selama ini, dan Doa kan saya agar lekas sembuh dan bisa beraktivitas kembali, serta janji akan bertamu ke rumah Nak Awan sekeluarga." Pinta Tedi Ferdiansyah.
"Sama sama Tuan, pokus lah terlebih dahulu pada kesembuhan, dan jangan banyak pikiran pikiran yang macam macam, insyaallah saya akan meminta Doa kepada Abah Aden Haruman serta santri santri untuk kesembuhan anda." Jawab Awan, di Amin kan oleh semua yang hadir di ruangan khusus menunggu kru dan pilot mempersiapkan pesawat pribadi itu.
"Sekali lagi kami sekeluarga berterima kasih banyak atas kepedulian Nak Awan kepada suami saya." Ucap Istri nya saat ini yang berbicara.
"Siap, Nyonya, Balas Awan seraya tersenyum manis, membuat Friska tersenyum kepada pemuda tampan tapi sedikit tengil itu.
Tak lama setelah itu pilot pun datang mengabarkan bahwa pesawat siap mengudara saat ini.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung
__ADS_1