
"Baik. Sangat bagus sekali jika tidak ada bantahan." Kata Awan.
"Tuang Tang Tang Dor dan para staf lainya, apakah ada masukan atau pun saran yang akan kalian sampaikan kepada ku dalam rapat kali ini.? Atau pun nasehat dan kritik....? Jika ada maka kemukakan agar kita semua mendengar dan mengikuti nya." Kata Awan.
"Tidak ada.... Apalagi yang harus perlu kami katakan.! Tuan Awan sudah mengatur sedemikian rupa. Justru saya bersama beberapa staf perusahaan Tang Tang Group tertinggal beberapa level secara pemikiran di bandingkan Tuan Awan yang masih muda. Satu keberuntungan bagi perusahaan kami bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan milik anda. Tuan Awan." Kata Tang Tang Dor.
"Terima Kasih Tuan Tang Tang Dor. Semoga saya tidak tenggelam dalam pujian anda. Karena pujian itu adalah racun yang dapat membutakan akal dan mengakibatkan orang merasa bangga dan cepat puas." Kata Harsya berdiri dan membungkuk hormat.
"Baiklah. Semua sudah kita bahas dan penempatan kerja kerja pun telah selesai di atur dengan masing masing mendapatkan tugas dan tanggung jawab nya masing-masing. Maka dari itu rapat ini saya segera tutup sampai di sini." Kata Awan.
Selain Bu Dewi dan Pak Kohar serta Pak Arianto. Semuanya boleh meninggalkan ruangan rapat ini." Kata Awan sambil bangkit berdiri dan mempersilahkan mereka untuk membubarkan diri.
Muhammad Awan Pratama. Segera bangkit dari kursinya setelah semua yang menghadiri rapat singkat tadi keluar meninggalkan ruangan rapat tersebut.
Pak. Kohar, Bu Dewi dan Pak Arianto. Mari kita pergi ke belakang akan saya ceritakan beberapa orang yang tadi saya jemput bersama Asep dari terminal Pasir Hayam." Ajak Awan lalu berjalan seraya mengulurkan tangannya kepada gadis yang hanya diam saja tak ikut berbicara.
"Mari. Silahkan. Ucap mereka bertiga mengangguk.! Awan pun berjalan bergandengan dengan gadis cantik itu terlebih dahulu di ikuti oleh pasangan suami paruh baya dan Advokad perusahan Anugrah Awan Sentosa dan seorang pemuda bernama Asep Sunandar anaknya Abah Kusuma.
Sesampainya di belakang halaman kantor perusahaan. Sepuluh Murid Mama Sepuh dan satu pemuda berusia 20 tahun Sutisna namanya. Langsung berdiri dan membungkuk hormat setelah pemuda yang di beri amanat oleh gurunya menghampiri mereka bersama yang lainnya dari arah belakang.
"Bos Besar.!! Kata mereka serentak.!
__ADS_1
"Akang. Akang. Sutisna. Silahkan duduk kembali. Kalian semua bila kita sedang tidak bekerja. Hilangkan peradaban. Kalian jangan lah memanggilku dengan sebutan Bos Besar. Panggil saja Awan. " Kata pemuda itu lalu duduk bergabung dengan mereka.
"Bu Dewi Pak Kohar dan Pak Arianto. Mereka semua murid dari Kiayi Mangku Bumi yang bergelar Mama Sepuh. Pondok Pesantren Darul Hikmah. Tujuan mereka berada di sini. Aku yang memintanya, karna ada misi yang sangat besar Minggu Minggu ini. Misi kali ini tidak jauh berbeda dari permasalahan keluarga pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group Tiga Minggu yang lalu. Karna permasalahan yang akan di hadapi bukan dari pihak dalam negeri saja, maupun dari pihak luar negri.
Pemuda yang bernama Muhammad Awan Pratama. Menjelaskan semuanya. Dari pertama pertemuan malam itu dengan Tedi Ferdiansyah di ruangan khusus bersama dua orang asing berwarga negara Mesir.
"Ja.. Jad... Jadi. Waktu malam itu Nak Awan, memberikan kode kepada Ibu, tentang Nabil, bila ada yang bertanya tentang nama nya, suruh di jawab dengan nama Akila." Kata Wanita setengah Tua terbata bata, karna terkejut.
"Betul sekali. Bu Dewi, dan kenapa kali ini. Aku tidak melibatkan orang orang dari perusahaan kita. Agar perusahaan yang baru tumbuh tidak di jadikan target oleh orang orang yang sedang mencari keberadaan Nabil Nur Fadillah dan Azzahra Masika Fatharani dengan tujuan memanfaatkan kelemahan kita kita." Ucap Awan dengan sorot mata tajam dan tangan nya memegang jari lembut gadis cantik tersebut.
"Anakku. Ibu tidak setuju misi kali ini. Bagaimana pun misi kali ini sangat berisiko dan taruhannya adalah nyawa mu." Ucap Bu Dewi penuh kecemasan dan ke khawatiran sangat dalam.
"Apa yang di katakan oleh Bu Direktur benar. Nak Awan." Timpal Pak Arianto. Pak Kohar dan Asep Sunandar mengangguk. Tanda membenarkan perkataan dari Bu Dewi.
"Baik. Baiklah. Anakku. Ibu tidak bisa melarang mu, karna bila kau sudah berjanji tidak akan mengingkari. Tapi Ibu mohon libatkan orang orang yang kemarin kemarin secara bekerjasama membantu menyelamatkan permasalahan Tuan Tedi Ferdiansyah." Kata Bu Dewi
"Hehehehe. Bundaku. Yang paling cantik dan paling cerewet. Kenapa tadi Asep untuk sementara tidak di prioritaskan dalam internal perusahaan Anugrah Awan Sentosa. Karna Asep Sunandar akan menemani ku dalam menjaga kesayangan ku yaitu Nabil Nur Fadillah." Terkekeh cekikikan kearah gadis di sampingnya, seketika wajah nya merona merah menahan malu.
"Hmmmmmm. Awan." Kata Bu Dewi dengan mata melotot.!! Karna melihat Nabil wajahnya tertunduk.
"Hehehehe. Am sorry Bu. Canda kok." Bela Awan.
__ADS_1
Obrolan di belakang halaman kantor perusahaan Anugrah Awan Sentosa tak terasa waktu pun menunjukkan pukul 23:00. Mereka semua akhirnya pulang menuju rumah masing-masing. Sementara sepuluh murid Mama Sepuh dan Sutisna. Sementara menempati rumah Bu Dewi yang ada di kampung Senagar yang baru satu Minggu kosong.
Satu unit Mobil Mewah Marcedez Benz e-class, bergerak meninggalkan kantor pusat Anugrah Awan Sentosa menuju jalan labuan Cianjur di malam hari itu. Seorang pemuda tampan sedang memegang kemudi setir nya menatap kearah depan jalan dengan di dampingi seorang gadis yang indah di pandang mata.
Tak butuh lama, hanya menempuh perjalanan 20 menit mobil mewah tersebut, kini berbelok menuju jalan penghubung di parapatan lampu merah. Mobil pun bergerak melambat setelah arah sen sen mobil berkedip kedip.
"Kak. Awan nginap ya. " Pinta Nabil ketika mobil mewah itu berhenti tepat di samping Kios milik Ibu nya.
"Hmmmmmm. Bagaimana ya." Bingung Awan.
"Nabil khawatir dan hati ini tak tenang bila Kak Awan tidak nginap." Kata nya merasakan rasa cemas kepada pemuda itu, seolah olah akan terjadi sesuatu.!
"Baiklah. Kakak. Akan nginap.! Kata pemuda itu. Lalu mereka berdua pun turun dan telah di sambut oleh wanita berusia 40 tahun di depan pintu.
"Nabil. Awan. Kok pulang nya sampai larut begini.?" Tanya wanita setengah tua itu.
"Nabil tersenyum. Awan pun langsung menjawab.! Bunda mohon maap tadi ada sesuatu yang harus di bahas terlebih dahulu bersama Bu Dewi dan Pak Kohar serta yang lainnya.!
"Ohk. Iya.!! Cepet masuk sudah malam. Awan. Kamu nginap jangan pulang." Kata Wanita yang di sebut Bunda oleh pemuda itu.
"Iya. Bunda.!!
__ADS_1
Bersambung.