Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Iyus Saputra


__ADS_3

Satu unit bus karunia bakti melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kampung rambutan Jakarta membelah jalanan Tol Jagorawi di malam hari itu. Tepat di salah satu pemberhentian pasar Ciawi Bogor yang sudah terbiasa untuk mengetem untuk mencari beberapa penumpang agar bus tersebut penuh. Beberapa pedagang asongan yang silih berganti turun naik dari bus hanya untuk sekedar menawarkan dagangan nya itu.


"Tahu...... " Tahu......" Lepet.......! Lepet.......!


"Aqua......." Aqua......." Aqua......." Aqua.......!


"Rokok......" Rokok......." Rokok......." Rokok....!


Begitulah terdengar dalam telinga penumpang bus kelas ekonomi tersebut.


"Pak rokok Sampoerna mild sebungkus." Kata seorang pemuda kepada pedagang asongan yang menawarkan dagangannya di dalam bus itu.


"Silahkan Aden, tiga puluh ribu." Jawab nya sambil menyerahkan satu bungkus rokok kepada saya.


"Terima Kasih Pak, sama Aqua nya satu botol." Kata pemuda itu seraya mengasih uang lima puluh.


''Sama sama Aden." Kata pedagang itu seraya mengembalikan kembalian uang nya.


Aku pun duduk kearah kursi belakang untuk sekedar menghisap rokok satu batang sebelum keberangkatan lagi bus tersebut.


"Aa rokok, Kata pemuda menawarkan rokok seraya duduk di kursi belakang dengan seorang pemuda berusia 19 tahun itu.


"Silahkan ada Kang." Jawab pemuda itu sambil mengeluarkan rokok yang ia punya.


Sesaat kita berdua terdiam dan sama sama menyalakan korek api untuk menghisap rokok yang sedang di pegang dalam jari tangan.


"Mau kemana Aa? Tanya pemuda itu setelah satu hisapan dan keluar dari mulut serta hidung asap rokok tersebut.


"Pulang Kang ke pasar Cisarua," Jawab nya dengan tatapan pokus kedepan dari hidung keluar asap rokok, hingga aku tersenyum melihat lelaki yang hampir sama menghisap rokok dengan ku.


"Akang sendiri mau kemana? Tanya pemuda itu.


"Saya mau ke Citamiang daerah tugu selatan." Jawabku.


"Asli Orang Tugu." Tanya lagi kini tatapan nya kepada penumpang yang baru masuk seorang wanita dan Pria.


"Bukan, kang........! Saya mah Cianjur aslinya." Jawabku sama halnya pandangan ku kepada pasangan yang baru masuk itu.


"Ohk...........! Cianjur, sama atuh.....! Kata pemuda itu tersenyum manis kearah ku.


"Cianjur nya mana? Tanyaku


"Kertayasa.......! Jawab ku singkat, hingga pemuda itu tersentak kaget mendengar desa itu.

__ADS_1


"Kenapa? Tanyaku penasaran.


"Kita satu desa.........! jawabnya.


"Jadi aa juga orang Kertayasa!! kampung nya dimana? Tanyaku.


"Aku di kampung Babakan taraje.'' Jawab pemuda itu.


"Berarti tidak jauh dari kampung Nenek ku yang berada di kampung Situ Babakan." Kataku.


"Hmmmmm." Perkenalkan Iyus Saputra." Kata pemuda itu mengenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya.


"Muhammad Awan Pratama." Jawab ku menyambut uluran tangan pemuda itu.


Bus karunia bakti itu pun kini mulai berjalan lagi, aku dan pemuda itu asyik mengobrol hingga tak terasa kini sudah berada di jalan menuju pasar Cisarua, pemuda itu pun turun setelah kita sama sama menukar nomor ponsel masing masing dan bila sedang berada atau berkunjung ke pasar Cisarua tak segan segan untuk menghubungi nya. Setelah turun nya pemuda yang bernama Iyus itu, tiga puluh menit pun berlalu dan aku pun turun di pangkalan ojeg parapatan Citamiang.


"Pak Ojeg ke rumah Aden Haruman." Kata ku kepada pengendara tukang ojeg itu.


"Siap, Aden. Jawab nya.


Hanya butuh lima menit kini aku telah sampai di penataran halaman rumah Abah Aden Haruman. Lalu aku pun membayar tukang ojeg itu.


"Berapa kang ongkos nya? Tanyaku.


",Ok." Lalu memberikan uang kembalian dari tukang asongan yang tadi di bus itu.


Setelah membayar ongkos Ojeg aku pun mulai berjalan kearah pintu masuk rumah Abah Aden Haruman dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.


"Tok.......! " Tok........ " Tok.........!


"Assalamualaikum." Kata ku. dari luar pintu


"WaallAikum Salam." Teriak satu suara dari dalam rumah terdengar suara wanita paruh baya.


"Nak...........! Kok malam begini, Ayo masuk? Titah Istri Abah Aden Haruman mempersilahkan masuk.


"Terima Kasih Umi." Jawabku langsung masuk dan duduk di kursi yang biasa di tempati.


"Nak..........! Abah sedang tidak bisa di ganggu dia sedang bersemedi.'' Kata Umi Istri Aden Haruman.


"Iya Umi tidak apa apa.......!


**********************************

__ADS_1


Sementara di salah satu yang jauh hiruk pikuk dari perkotaan tepat nya di salah satu kampung yang dekat dengan kaki bukit gunung Kanyang, Seorang lelaki berusia 40 tahun sedang mengobrol dengan wanita berusia 25 tahun di teras rumah wanita itu.


"Semua orang di kampung sampai tingkat desa dan kecamatan sudah mengetahui tentang syarat yang di berikan oleh Dukun sakti itu bila mau mendapatkan sesuatu harus dengan bertapa di Curug Sindur." Kata Sulastri memberi tahukan kepada lelaki itu.


"Bajingan...........!


"Bedebah...........!


"Berati dukun itu secara tidak langsung mau menumbalkan nyawaku kepada penunggu Curug Sindur itu. " Geram Haikal dengan emosi tertahan.


"Emang pak Haikal meminta apa kepada Dukun itu, kalau boleh Lastri tahu? Tanya wanita itu dengan kaki di tekuk dan tangan di lipat kan kepada betis nya itu.


"Aku meminta Ilmu kebal, karna musuhku semakin sakti dan tidak menpan di bacok." Jawab Haikal berbohong.


"Hahahaha." Wanita itu tertawa lepas, hingga lelaki itu berkerut kening nya, dan mulai bertanya.


"Kenapa anda tertawa, apakah salah dengan permintaan ku ini.!!


"Tidak salah.....!! Tidak salah.......!! Tapi bila Pak Haikal mau dengan Ilmu kebal, aku akan memberitahu dan itu juga bila anda berani." Kata wanita itu tersenyum manis.


"Coba kau katakan dengan jelas, agar aku bisa mempertimbangkan, apakah berani atau pun tidak.? Tanya Haikal penasaran.


"Pak Haikal harus meminum darah dukun itu tepat pada pukul tiga dini hari atau tepat di waktu ayam berkokok." Sulastri memberi tahukan kepada Haikal bila ingin mempunyai ilmu kebal itu.


"Apakah kau tidak sedang membodohi ku atau pun memperdaya diriku.? Kata Haikal dengan tatapan mata yang tajam, hingga wanita itu tersenyum melihat nya.


"Bila aku sampai berbohong, aku rela menjadi budak mu atau pun membunuhku." Jawab Sulastri dengan tatapan yang begitu menusuk kalbu lelaki berusia 40 tahun itu.


"Baiklah aku percaya ucapan mu, tapi bila kau sampai berbohong jangan salahkan aku kejam kepada mu dan keluarga mu." Ancam Haikal.


Lastri mengangguk........!


"Ayo malam ini juga kita akan langsung berangkat menuju puncak gunung Kanyang itu, dan segera akan ku hisap darah dukun itu." Ajak Haikal kepada wanita cantik berusia 25 tahun tersebut.


"Beneran malam malam begini kita berangkat? Tanya Sulastri antusias, karna sakit hati kepada dukun cabul itu akan tercapai dengan jalan lelaki itu.


"Iya...........! Apakah kamu mau mengantar ku dan menjadi saksi kematian dukun itu? Tanya Haikal.


"Dengan senang hati dan akan membantu mu agar tercapai maksud dan tujuannya." Kata Sulastri dengan yakin.


"Kalau begitu cepat lah kamu ganti baju terlebih dahulu, aku menunggu mu." Titah Haikal.


"Baiklah, aku mengganti baju terlebih dahulu." jawab nya lalu berjalan kearah pintu masuk.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2