Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Awan Dan Nabil Sudah berada di Kota Jakarta


__ADS_3

Disaat obrolan antara anak dan ibu serta menantu di teras rumah panggung yang ada di kampung Situ Babakan yang menghadap kearah masjid Jami di kampung itu.


Sosok lelaki setengah baya yang di ikuti oleh lima lelaki dengan muka sangar dan berbadan tegap melintas melewati rumah Romlah dengan menatap dan seringai licik tanpa berkata permisi atau pun kata punten.


Lisnawati dan Romlah menatap tajam kearah enam lelaki yang melewati dirinya dengan angkuh dan sombong, tanpa ada etika dan tatakrama hanya bisa mengusap dadanya dan beristighfar dalam hati.


Sedangkan lelaki berusia 40 tahun yang berjalan di ikuti oleh anak buahnya yaitu para preman yang sudah merusak mental wanita muda beranak satu anaknya Mbah Wongso yaitu Lara dengan cara di perkosa rame rame setelah puas oleh bos nya menjadi pelampiasan nafsu se*x nya selama tiga hari tiga malam di gempur abis abisan oleh Engkos Kosasih di kamar maupun di ruangan tengah dan kadang di dalam kamar WC Vila yang ia sewa. Hingga sudah puas dan di berikan kepada para preman nya selama dua hari dua malam di gilir dengan sangat keji dan sadis.


Setelah puas dengan merusak mental wanita yang suaminya di bunuh dengan sangat sadis dan kejam. Lara pun di buang di salah satu hutan yang jauh dari perkotaan tepatnya di kaki bukit Gunung halu perbatasan antara Cianjur dan Bandung Barat.


Engkos Kosasih kini kembali ke kampung nya dengan membawa para preman bayaran nya dengan satu tujuan untuk membunuh anak ketiga pasangan suami istri Hilman dan Lisnawati yang tak mempan dengan jalur halus. Engkos akan melakukan dengan jalur kekerasan dengan di bantu para preman yang akan menjadi eksekutor pembunuh bayaran.


Sesampai nya di rumah yang begitu luas dengan halaman rumah nya dan rumah paling megah di kampung Situ Babakan. Engkos Kosasih pun langsung masuk kedalam rumah sementara kelima para preman bayaran untuk masuk di rumah kontrakan yang sudah di siapkan oleh istrinya Titin Kharisma melalui obrolan malam itu.


Tanpa mengucap salam atau pun mengetuk pintu. Engkos Kosasih langsung masuk kedalam rumah nya dan mencari Istrinya yang kemungkinan sedang berada di dapur bila siang menjelang sore.


"Situasi bener bener aman terkendali. Batin Engkos Kosasih langsung berjalan kearah dapur dengan cara mengendap ngendap.


Sesampai nya di dapur Engkos Kosasih melihat sesuatu yang sangat menggairahkan seluruh badannya. Seorang wanita dengan mempunyai bokong yang besar dan kulit sangat bersih sedang berdiri di tempat pencucian piring bekas yang sudah di pakai.

__ADS_1


Walaupun badan terasa lelah dan capek akibat perjalanan jauh tapi rasa rindu dan belaian serta permainan dari sang istri bila bergulat di kamar tidur, terasa hilang capeknya. Apalagi di suguhkan dengan pemandangan yang sangat Indah. Dengan memakai baju daster ibu ibu kampung yang hanya sampai pahanya saja menutupi seluruh tubuh Titin Kharisma.


Engkos Kosasih lalu membalikkan badannya kembali ke pintu keluar. Tujuannya untuk mengunci pintu rumahnya agar tidak ada yang mengganggu pergulatan dengan Istri nya yang hampir seminggu lebih ia tinggalkan. Apalagi takut anaknya satu satu nya datang secara tiba tiba di saat mereka sedang bergulat dengan gaya yang cukup erotis bila di lihatnya.


Setelah situasi dan kondisi aman pintu sudah di kunci Engkos Kosasih langsung bergegas kearah dapur dan langsung memeluk Istri nya yang sedang kedua tangannya memegang gelas yang kotor dengan di penuhi sabun yang berbusa.


"Ehmmmmmm. Ahhhh............ Erangan manja Istri nya setelah tangan lelaki yang memeluk dari arah belakang tepat meremas dua gunung yang masih terbalut kain kaca mata.


"Sayang........ Aku kangen dengan goa sigotaka milikmu yang hampir seminggu belum aku masukan dan belum aku muntahkan lava panas milik tongkat warisan leluhur ku." Ucap manja Engkos Kosasih.


"Sabar sayang........ Aku sedang mencuci piring piring kotor dahulu." Ucap Titin walaupun dirinya juga sudah terpancing gairahnya akibat perlakuan dari tangan suaminya.


"Wadaw............ Sudah keras dan berdiri tegak." Ucap Titin Kharisma cekikikan.


"Engkos Kosasih hanya tersenyum langsung menubruk bibir seksi milik istrinya dengan serangan yang tiba tiba. Hingga dua insan setengah tua itu terjadilah pergulatan di waktu siang menuju sore itu.


Gempuran gempuran yang di lancarkan oleh Engkos Kosasih setelah hampir seminggu tidak masuk kedalam Goa sigotaka milik istrinya. Sungguh sangat buas. Teriakkan dan rasa nikmat yang di alami oleh Titin Kharisma akibat serangan serangan yang di lancarkan oleh suaminya. Membuat Gairah lelaki berusia 40 tahun semakin semangat.


Satu jam pergulatan di ring dapur di saksikan oleh piring dan gelas serta perabot dapur lainnya. Bagaimana ganasnya seorang lelaki setengah tua menyerang dan secara membabi buta istrinya hingga ia merasakan kekalahan sampai lima kali.

__ADS_1


Entah obat apa yang di pakai oleh suaminya hingga istrinya sudah hampir lima kali kalah dan terkapar sementara suaminya belum juga tanda tanda bahwa ia akan memuntahkan cairan lava panas nya kedalam Goa sigotaka milik nya.


Melihat lawannya sudah kelelahan. Engkos Kosasih pun dengan kekuatan yang sangat keras, Ia hentakan dengan di bantu nya goyangan pinggulnya milik lawannya. Hingga cairan panas pun langsung menyembur dengan sangat cepat.


"Aghhhhhhhhhh. Sayangku........ Titin Kharisma." Erang Engkos Kosasih menyudahi pergulatan di dapur itu dengan keringat bercucuran di antara mereka berdua.


############


Di kota Jakarta tepatnya di salah satu Kafe yang lumayan besar dan ramai pengunjung, sepasang muda mudi yang masih terbilang di bawah umur kalau melihat dari segi lahir. Tapi berbeda kalau di lihat dari segi pisik dan tinggi badan sepasang muda mudi itu terlihat dewasa dan berusia kurang lebih sekitar dua puluhan keatas.


Muhammad Awan Pratama dan Nabil Nur Fadillah anak dari Azzahra Masika Fatharani kini sudah sampai di ibukota Jakarta tepatnya di daerah Jakarta Selatan


Mereka berdua baru saja masuk dalam kafe tersebut dan telah memesan minuman sambil menunggu kedatangan orang orang yang tadi terpisah dalam pemberangkatan menuju undangan dari Tuan Besar Tedi Ferdiansyah.


"Nabil. Kakak mau ngirim pesan terlebih dahulu kepada yang lainnya. Mohon maaf bila kakak sebentar mengacuhkan mu." Kata Awan di sela duduk di dalam kafe itu.


"Silahkan Kak. Nabil juga mau memberitahu kan kepada Bunda. Bahwa kita berdua sudah sampai di kota Jakarta." Jawab nya Gadis itu lalu meminum just jeruk yang baru datang dan mengeluarkan ponselnya. Awan hanya mengangguk dan tersenyum manis kepada gadis di hadapannya.


Sama sama saling mengirimkan pesan di antara mereka berdua dengan tujuan nya masing masing. Kurang lebih sepuluh menit mereka sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2