
"Tok.....................!!
"Tok.....................!!
"Tok......................!!
Mereka bertiga tersentak kaget, setelah mendengar ketukan pintu dari luar. Ketika Tedi Ferdiansyah dan Asep Sunandar serta Lara terdiam mendengarkan penjelasan dari Awan yang terdiam sesaat... Tedi Ferdiansyah pun langsung bangkit dan membukakan pintu ruangan khusus itu..
"Ceklek..!
"Kreat.....................!!
Nabil dan Friska masuk membawa nampan berisi beberapa gelas kopi dan cemilan untuk melengkapi obrolan di siang itu... Di belakang mereka berdua pun tak lupa hadirnya pemuda berusia 25 tahun yang statusnya kata Friska sang adik jomblo akut......!
"Woy..... Adikku... Si Ganteng Kalem....... Sombong kau datang ke kota ku tak ngasih kabar hahhahahah." Tawa pemuda usia 25 tahun menghampiri Awan.
"Hahahahaha...... Sang Kakak....... Yang kalah ketampanan oleh sang Adik.... Datang datang bukan nya menanyakan kabar tentang keadaan nya, ehk malah sewot." Timpal Tedi Ferdiansyah seraya tertawa renyah.
"Aish............ Ayah." Dengus Excel, ikut menimpali candaan anak nya.
"Kak.... Excel.... Makin gagah aja.." Kata Awan bangkit dari duduknya..
"Percuma gagah juga kalau jomblo akut.." Sahut Agista tak mau hanya berdiam saja dan ikut mengomentari tentang anaknya yang tak mau dekat dengan nama nya perempuan.. Mungkinkah karna rasa sakit hati atau apalah hany Excel sendiri yang mengetahui nya.
"Aduhhh..... Ini Bunda, ikut ikutan aja berkomentar pedas kepada anak mu ini yang malang... Hiks Hiks....." Kata Excel dengan exfresi di buat buat..
__ADS_1
"Sudah....... Sudah........ Sudah......... Kedatangan anakku Muhammad Awan Pratama, ada sesuatu yang harus di diskusikan bersama kita kita." Kata Tedi Ferdiansyah, menyudahi candaan yang di tujukan kepada anak nomor satu nya itu.
"Siap komandan.. Hahahahahaha.." Kata Excel dengan gaya mirip prajurit TNI memberikan hormat kepada atasan nya.. Hal itu Tedi Ferdiansyah sang Ayah hanya geleng-geleng kepala nya dan duduk langsung di kursi yang tadi di tempati.
Kini dalam ruangan khusus itu mereka semua sudah duduk dengan bertambahnya Istri dari sang pemilik rumah dan kedua anaknya, Nabil pun ikut duduk di samping Muhammad Awan Pratama.
"Nak Awan silahkan lanjutkan perkataan dan rencana yang tadi sempat terhenti akibat gangguan teknis." Pinta Sang empu Mansion.
"Baiklah....... Begini Tuan Besar, mengenai hal orang kepercayaan dari Firmansyah menargetkan kak Friska untuk di jadikan buruan para preman bayaran yang sudah berada di kota ini, saya hanya mempunyai satu rencana untuk mencegahnya dan sekaligus untuk mengikis kekuatan lawan sedikit demi sedikit, walaupun seandainya rencana yang akan saya jalankan tidak akan mempengaruhi kekuatan dari orang orang Duo Holding Company Group, tetapi setidaknya, kita kita sudah mengetahui sedikit nya kekuatan mereka." Terang Awan..
"Rencana seperti apa yang akan di jalankan oleh mu Nak.?" Kini yang bertanya adalah Nyonya Agista, jelas jelas menghawatirkan anak bungsunya itu.
"Aku berencana mengundang ketiga sahabat ku malam ini di restoran yang baru beberapa hari beroperasi, restoran dengan konsep internasional itu terletak di salah satu jalan yang berada di kecamatan Cipanas kota Cianjur.. Undangan makan ke tiga sahabat ku, hanya sebagai formalitas saja, tujuan ku hanya ingin melumpuhkan dan bertemu langsung dengan ketua preman yang tak lain Kang Dayat.. Beserta dua orang yang dulu pernah berurusan dengan Tuan Besar." Terang Awan..
"Apakah dua preman yang bernama Gundul Pacul Cul Cul dan Odeng.?" Tanya Tedi Ferdiansyah tersentak kaget... Walaupun Ia mengetahui kabar kebebasan mereka berdua, yang secara khusus tidak di permasalahkan olehnya.
"Terus Nak.... Untuk masalah Friska yang akan di buru oleh Jamil dan para Preman nya bagaimana.. Sementara Robi bersama anak buahnya serta Kang Usep selaku Ketua dari Singa Putih saat ini sedang terpokus, mencari keberadaan Tuan Aidil dan Asisten perusahaan ISMAIL GROUP..?" Tanya Agista..
"Nyonya Besar, tenang saja, untuk urusan Kak Friska menjadi tanggung jawab ku..... Awan terhenti kalimatnya menoleh kearah gadis berusia 20 tahun itu, hanya beberapa bulan saja mungkin lahir nya dengan Nona muda Tiara..... Lalu melanjutkan lagi perkataannya.
"Kak.... Friska.... Untuk saat ini berangkat ke kota ku dan langsung menuju sebuah restoran tempat aku mengundang ketiga sahabat ku dan anak nya Engkos Kosasih.....!! Kak Friska mainkan drama dalam sosial media dan buat postingan di Facebook Twitter atau media sosial lainnya dengan kata kata bahwa kakak bersitegang dengan kak Excel tentang sebuah kasih sayang Orang Tua yang lebih sayang kepada kak Excel... Hingga Kak Friska meninggalkan rumah seorang diri." Kata Awan menjelaskan taktik rencananya.
"Kenapa harus di sosial media.?" Tanya Excel...!
"Hehehehe.... Tuan Jamil membawa sebagian para preman dari kota Jogja itu kebanyakan para pemuda yang sedang sibuk dengan dunia Maya seperti Facebook dan Twitter serta YouTube, setelah aku melihat FB dari Kak Friska teman teman sosial media berteman dengan Firmansyah dan para anak buahnya... Saya yakin ketika Kak Friska memosting status di Facebook atau pun Twitter apalagi dengan menandai teman teman di sosial media mereka akan langsung bergerak dan memburu nya.." Kata Awan dengan insting dan keyakinan nya tepat mengenai sasarannya.
__ADS_1
Tedi Ferdiansyah dan istrinya hanya manggut manggut saja, mendengarkan penuturan dari Muhammad Awan Pratama dengan sebuah rencana yang akan di jalankan olehnya..... Excel dan Asep Sunandar serta Lara hanya terdiam saja mendengarkan nya, lalu salah satu dari mereka berkomentar dan menanyakan tentang keselamatan Friska Ferdiansyah.
"Apakah tidak terlalu berbahaya Tuan Muda dengan membiarkan Nona Muda berangkat menuju ke restoran tanpa ada pengawalan sama sekali.?" Tanya Lara..
"Hehehehe....... Itu sudah aku pikirkan dan bila Kak Friska berangkat dengan pengawalan sama saja bohong." Jawab Awan.
"Yang penting Kak Friska..... Tiba tiba ponsel Awan berdering tanda panggilan masuk. Kalimat nya terhenti.
"Kriiiiing''.....................!
"Kriiiiing''.....................!
"Kriiiiing''.....................!
"Sebentar mau mengangkat telepon masuk dulu." Ucap Awan... Mereka pun langsung mengangguk..!
"Halo.... Abah..... Awan masih di Jakarta." Menjawab telepon masuk dari lelaki paruh baya yaitu Aden Haruman.
"Anak Jin Kuya... untuk masalah Kentang Dor.... Saling berkaitan dengan orang yang di bawa oleh kakak tirinya Nabil yang bernama Moch Jabar..." Kata Aden Haruman di sebrang telepon.
"Maksud dari Abah bagaimana.. Awan tidak mengerti sama sekali..!
"Huh...... Begini Anak Jin Kuya... Orang yang menyantet Si Kentang Dor dan istrinya adalah dukun yang kini berada di bawah kendali Moch Jabar... dan perlu kamu tahu dukun itu usia nya masih 12 tahun, dia anak dari Abah Enji Sutardi yang telah di musnahkan oleh Eyang Atas Angin waktu membantu pendeta Haka menolong ayahnya Nabil Nur Fadillah." Kata Aden Haruman menjelaskan nya.
"Jadi permasalahan Tuan Tang Tang Dor, belum bisa di selesaikan malam ini Abah.?" Tanya Awan.
__ADS_1
"Belum...... Malam ini Abah dan Juned serta yang lainnya mau memantau dulu keadaan anak dari dukun santet itu." Kata nya.
Bersambung.