
Gubug Milik Dukun santet itu jauh dari pemukiman penduduk desa yang berada di kaki bukit gunung gong gong. Tadinya rumah Mbah Wongso berada di kampung yang padat penduduk. Akan tetapi karna kejahatan dari suaminya yang berprofesi sebagai dukun. Hingga Keluarga Mbah Wongso di usir dari kampung nya, bersama istri dan anaknya Lara. Sementara dua anaknya yang pertama dan kedua pindah ke kota bersama istri dan anak anak nya.
Teriakkan minta tolong dan tangisan bayi kecil tidak akan terdengar oleh warga yang jauhnya sekitar dua kilo meter dari gubug milik Mbah Wongso. Hingga pada preman itu leluasa membantai dan membunuh nyawa Kasim menantu nya Mbah Wongso yang sudah tak bernyawa dan melayang antara langit dan Bumi.
Pembantaian yang di lakukan oleh para preman dan licik nya Engkos Kosasih terlihat jelas oleh Mbah Wongso. Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa. Karna semua ilmu dan kesaktian sudah di musnahkan oleh Eyang Atas Angin atas perintah dari Abah Aden Haruman sewaktu dia bertarung di Gunung Slamet.
Mbah Wongso hanya bisa meratapi penyesalan nya. Akibat ulah dirinya bersekutu dan jahat kepada sesama makhluk hidup, karma menimpa istri dan anak serta menantunya.
"Suara tangisan bayi dan jeritan wanita paruh baya menambahkan suasana di gubuk itu mencekam. Engkos yang berpura pura sedang berkelahi dengan ketiga preman itu. Untuk mengecoh Istri Mbah Wongso agar dirinya bukan dalang semua ini.
"Bugh................!
"Bugh................!
Dua pukulan mendarat kearah perut dan pundak Kosasih hingga ia terjungkal dan pingsan tepat di samping Mbah Tukiyem yang sedang membekap Cucu nya itu.
"Pak.......... Pak......... Engkos bangun." Panggil Tukiyem dengan suara serak.
Tak ada jawaban sama sekali dari Engkos Kosasih menandakan. Bahwa lelaki setengah Tua itu pingsan.
Tapi ketiga preman itu tersenyum manis, dan berkata dalam hatinya. Bener bener licik bos Engkos Kosasih. Dia berpura pura pingsan di samping lelaki paruh baya itu.
"Bos apakah mereka kita habisi saja bersama dengan bayi nya.?' Tanya satu anak buahnya.
"Biarkan saja. Yang penting dendam kita sudah terbalaskan. Akibat suaminya menyantet keluargaku. Sekarang Istrinya dukun sialan itu menderita atas kematian menantu dan anaknya kita jual ke Club malam agar menjadi wanita penghibur." Jawab Bos Preman itu tersenyum licik.
"Baiklah kalau bos sudah bilang begitu. Kita berdua ikut apa yang di ucapkan oleh junjungan kita. Betulkan nggak brow." Tepuk pundaknya kearah lelaki yang di samping nya.
"Yoi Brow....... Bos kita. Jawab nya. Rantai Bumi tersenyum mendengar ocehan kedua anak buahnya.
"Ayo kita pergi dari sini.?" Sebentar lagi Adzan Subuh berkumandang.! Ajak Rantai Bumi bos preman itu.
__ADS_1
"Ok. Siap bos...." Cuih...... Mereka berdua meludah kearah wanita yang sedang membekap Cucu nya itu.
Setelah langkah kaki ketiga preman itu tidak terdengar lagi oleh Wanita Paruh baya itu. Tukiyem lalu bangkit dan menepuk nepuk pipi Engkos Kosasih yang pingsan akibat pukulan dari preman itu.
Murni ini adalah masalah dendam suaminya. Hingga ia dan menantunya serta Cucu dan anaknya menjadi korban kebiadaban para preman tersebut." Batin Tukiyem.
Karna tak bangun bangun akhirnya Tukiyem pun langsung mengambil minyak kayu putih yang biasa di pakai oleh Cucu nya selepas mandi dan menidurkan terlebih dahulu cucunya itu. Lalu minyak kayu putih itu ia tempelkan ke hidung Engkos Kosasih. Hingga ia tersadar.
Sandiwara yang di perankan oleh Engkos Kosasih begitu apik dan pintar, sehingga mampu mengecoh para warga dan Mbah Tukiyem bahwa murni pembantaian malam itu menewaskan dan membawa kabur anaknya adalah murni unsur balas dendam atas ulah dari suaminya yang berprofesi sebagai dukun santet.
Hingga Tukiyem pun tidak berani melaporkan kejadian malam itu kepada pihak kepolisian yang akan berujung panjang bila di usut oleh pihak kepolisian tentang kejahatan kejahatan suaminya. Yang di bantu oleh dirinya.
Sementara untuk urusan anaknya Lara. Dia akan berusaha membantu dengan mengunjungi teman suaminya yang berada di Jawa tengah kaki bukit Gunung Slamet.
############
"Dokter........ Tolong. Dok......!
Tak lama kemudian para staf medis dan petugas berdatangan serta membawa seorang wanita paruh baya yang sedang keaadaan pingsan menuju langsung ke unit gawat darurat.
"Tolong beri jalan......!!
"Ayo cepat.!
Begitu sampai di depan pintu unit gawat darurat. Para staf medis segera menghentikan lelaki yang berteriak tadi bersama lelaki yang wajahnya sama mungkin mereka berdua kembar untuk tidak ikut masuk kedalam ruangan tersebut.
"Maap Pak. Anda tidak boleh ikut kedalam." Kata Staf wanita mencegah nya.
"Baik Bu. Tolong lakukan yang terbaik untuk majikan saya." Kata pemuda itu.
"Bagaimana ini Hendra." Kata lelaki seusia nya dan wajahnya mirip Hendri adiknya.
__ADS_1
"Kita hanya menunggu disini. Sebaiknya kau telepon Tuan Tedi Ferdiansyah atau pun Nona Muda Friska untuk datang ke rumah sakit ini." Titah Hendra.
"Baiklah akan saya hubungi saat ini juga." Jawab Hendri dengan wajah gelisah.
******
Vila Mewah di Kaki bukit Gunung Batu......!
Penyerbuan dan penyelamatan yang di lakukan oleh seorang pemuda untuk membebaskan istri dari pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group. Berhasil memporak porandakan anak buah Agus Ferdiansyah dan Preman preman bayaran yang berjaga di Vila tersebut.
Semua anak buah Agus Ferdiansyah sudah berhasil di tangkap dan di amankan oleh pihak kepolisian.
Kejadian malam ini sangat menggemparkan sekitaran penduduk yang berada di kaki bukit gunung batu. Bahwa mereka para warga sangat mencurigakan aktivitas yang keluar masuk nya kendaraan kendaraan bermuatan besar .
Kini kecurigaan tersebut terbukti karna melihatnya barang bukti berupa kardus berisi botol minuman keras dan barang ilegal lainnya.
Tepat pukul 02:20 dini hari Vila Agus Ferdiansyah sepenuhnya telah di bersihkan oleh beberapa anggota kepolisian atas laporan dari Arianto Advokad di perusahaan milik pemuda berusia 15 tahun itu.
Sementara Bob Hidayat yang di bantu oleh Betmen, berhasil kabur ketika perkelahian antara pihak penyelamat dan pihak penyandera malam itu. Melewati jalan setapak yang menuju hutan Gunung Batu itu.
Begitu dia merasa bahwa pelarian mereka aman. Bob Hidayat segera mengirim pesan kepada sahabatnya yaitu Holik Simatupang agar mau menjemput di daerah pinggir barat gunung batu yang mengarah ke kota Cikalong kulon.
"Iyus. Apakah Hendra dan Hendri membawa Nyonya Agista ke Vila yang tadi aku sewa.?" Tanya Awan.
"Mereka berdua membawa Nyonya Besar ke rumah sakit rakyat yang ada di jalan Cipanas Cimacan. Tuan Besar sendiri sudah di beritahu kan oleh Hendri melalui sambungan telepon." Jawab Iyus Saputra.
"Baiklah kalau begitu kita tinggalkan tempat ini. Biarkan menjadi urusan pihak kepolisian dan anak buah Tuan Robi." Ajak Awan.
Iyus mengangguk dan mengikuti langkah kaki pemuda dalam segi umurnya di bawahnya itu bersama Asep Sunandar.
"Tuan Muda Excel. Ayo kita melihat Ibu anda yang berada di rumah sakit rakyat." Ajak nya Awan. Anggukan Excel pun menandakan setuju.
__ADS_1
Bersambung.