
Sejenak mereka yang berada di ruangan itu tercekat mendengar penuturan dan rencana yang diberikan oleh pemuda yang berusia di bawah mereka. Kalau boleh jujur sekelas Robi yang menjadi kaki tangan Tuan besar selama puluhan tahun tidak mempunyai pemikiran sampai kesana guna menyelamatkan Nyonya Agista. Apakah karena rasa panik atau pun rasa khawatir terhadap keselamatan majikannya.
Kemudian detik berikutnya. Tuan Tedi membuka mulutnya.
"Aku setuju dengan masukan dan rencana mu. Aku yakin kamu bersama yang lainnya bisa menyelamatkan Istri ku. Serta membawa pulang dalam keadaan selamat. Bagaimana menurut mu Robi.?" Tanya Tedi langsung mata nya melirik kearah asisten nya itu.
"Kalau Tuan Besar sudah setuju. Robi dan beberapa pengawal akan langsung menjalankan rencana dari Nak Awan saat ini juga." Jawab Robi. Senyum pun terukir jelas di mulut Tuan Besar.
"Bagus kalau begitu segera berangkat sekarang juga, atur beberapa anak buah di lokasi villa itu dengan berhati hati dan jangan sampai ada yang mencurigai oleh pihak penculik. Berbaur dengan masyarakat disana untuk memberi informasi satu sama lain." Titah Tedi Ferdiansyah.
"Siap Tuan Besar." Ucap Robi sementara Asep Supriatna dan Iyus Saputra mengangguk.
Tak lama kemudian setelah mereka bertiga berangkat bersama beberapa anak buah Asisten Tuan Besar. Pak Arianto pun langsung bergerak menuju kantor kepolisian untuk mengatur rencana yang sudah di tetapkan oleh pemuda itu. Kini di dalam ruangan keluarga hanya ada lima orang saja yang tersisa.
"Bu Dewi............ Bukan kah dua pegawai kita yang ada di pasar induk, mereka berdua mantan murid padepokan pencak silat Paguron yang berlokasi di bawah Gunung lanjung.?" Tanya Awan.
"Maksud anakku. Hendra dan Hendri.! Alis nya berkerut.
"Iya itu Bu.........!!
"Emang nya mau ngapain Nak. Apakah mereka berdua mau di ikut sertakan dalam misi ini. Tetapi setahu ibu mereka berdua badan besar tapi sipat nya kaya mempunyai dua kelamin." Ucapnya. Hingga Tedi Ferdiansyah dan kedua anaknya melotot dan mulut menganga terbuka lebar.
"Hehehehe........!! Ibu...... Setahu saya mereka berdua dalam seni beladiri nya lumayan jago. Walau pun sedikit geli geli gitu deh. Bagaimana kalau kita tanya dan meminta bantuan mereka berdua.?" Tanya Awan.
"Baiklah Nak. Ibu akan coba telepon sama suami ibu, yang kemungkinan masih ada di Pasar.!!
"Silahkan Bu. Sekalian obrolkan kepada suami, tentang masalah ini secara perlahan lahan dan jangan sampai di bicarakan kepada orang lain." Kata Awan mengingat kan. Anggukan pun di berikan oleh Bu Dewi dan langsung mengeluarkan ponselnya.
Ketika Bu Dewi sedang menelepon kepada suaminya. Pemuda itu pun langsung ijin untuk menelpon Abah Aden Haruman.
__ADS_1
"Tuan Besar. Ijin Awan mau menelepon Abah Aden Haruman yang ada di puncak Bogor." Kata Awan, dan langsung di jawab oleh Tedi Ferdiansyah.
"Silahkan Nak.
############################
Di waktu yang sama hanya berbeda tempat saja tepatnya di jalan yang mengarah ke pesisir pantai selatan. Tepatnya di salah satu rumah gubug reot yang berada di puncak bukit gunung gong gong. Seorang lelaki berusia 40 tahun sedang menangis histeris setelah mendapatkan kabar dari anak dan istrinya Mbah Wongso, bahwa suaminya telah meninggal.
Engkos Kosasih. Lelaki itu berniat datang bukan untuk melayat tapi kedatangan nya itu mau menanyakan mengapa kiriman santet kepada keluarga Lisnawati tidak mempan dan hanya kepada suaminya saja.
Lara Anak perempuan Mbah Wongso menceritakan. Bahwa sebelum kematian ayah nya. Mbah Wongso sedang bermeditasi di puncak bukit gunung gong gong. Tiba Tiba sosok berbaju putih dan berjenggot panjang datang menantang dirinya untuk bertarung di Gunung Slamet malam itu. Dia memperkenalkan diri nya bernama Aden Haruman dari puncak gunung gede.
Anak bungsu perempuan Mbah Wongso. Emang mempunyai mata batin yang bisa menembus alam lainnya. Karna dia Tampa sepengatahuan dari Ayah nya mempelajari ilmu yang di tulis oleh Mbah Wongso dalam bukunya.
"Nak lara jadi sekarang bagaimana.?" Tanya Engkos Kosasih.
"Bagaimana apa nya Pak. saya tidak mengerti tentang pertanyaan dari anda.?" Tanya Lara berkerut alisnya.
"Hmmmmmmmm. Aku tidak ada niat untuk membalas dendam tentang kematian ayahku. Karna dendam itu tidak akan menyelesaikan permasalahan. Justru akan membawa kedalam kesengsaraan hidup." Bijak anak bungsu Mbah Wongso menjawab.
"Tapi Nak.........
"Cukup Pak." Bentak Lara. Aku tahu maksud tujuan mu itu." Ucap Lara dalam hati.
"Sialan........ Bajingan Kau, baru sekali ini saya di bentak sama anak kencur ini. Tunggu Tunggu akan ku buat kau menyesal." Ucap Engkos dalam hati.
"Sebaiknya Pak Engkos pulang. Dan berhati-hatilah di jalan." Usir Lara.
"Apakah Nak Lara mengusir saya. Ini waktu sudah hampir senja. Bila Bapak pulang kemungkinan di jalan akan kegelapan dan saya lupa membawa senter." Ucap Engkos memberikan alasannya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Kita sama sama akan turun berdua dan pak Engkos bisa menginap di gubug rumah ayah ku.
*********** Setelah Awan menjelaskan semuanya kepada Abah Aden Haruman melalui sambungan telepon milik Anak nya.
"Anak Jin Kuya kau tidak usah takut dan cemas saat ini. Anakku Opan dan beberapa murid murid senior akan ikut membantu menyelamatkan istri dari Tuan Tedi Ferdiansyah. Sementara Abah sendiri akan datang malam itu bersama pasukan pasukan ghaib nya. Ketika ada angin yang berhembus kencang atau pun pundak mu terasa bergidik ngeri di situ Abah dan pasukan pasukan datang membantu mu." Ucap Aden Haruman, dalam obrolan telepon.
"Kapan Opan dan yang lainnya berangkat ke Gunung Batu Abah.?" Tanya Awan.
"Pukul 21:00 malam Opan akan menunggu di parapatan Pacet." Jawab nya.
"Baiklah Abah.!! Di kira sekarang juga mulai berangkat. Kata Awan sayu matanya.
"Hmmmmmm." Kau tak usah risau dan khawatir. Abah yakin kau akan mampu menyelesaikan dan menyelamatkan istri majikanmu itu.
"Alhamdulillah. Siap Abah......... Awan menjadi tenang saat ini." Kata nya, tersenyum puas melirik kearah ruangan keluarga.
"Hei Jin Kuya........ jangan tenang dulu. Dengarkan pesan Abah.
"Hehehehe. Sory Abah...... Awan mendengar kan.
"Anak Tuan Besar dua dua nya sebaiknya suruh mandi dulu. Dan siapkan Air tiga botol dengan terbuka tutup nya. Lalu kau baca Shahadat tiga kali. Setelah itu suruh mereka mandi. Setiap satu guyuran Air kedalam tubuh mereka berdua. Baca shalawat badar satu tarikan napas. Sampai tujuh Guyuran air gayung. " Pesan Abah untuk anak anak Tuan Besar.
"Siap Eyang Guru Abah Aden Haruman. Saat ini pesan dan amanah dari Abah akan di sampaikan langsung." Kata Awan bersemangat.
"Sok...... Buru...... Kata Abah langsung mematikan ponselnya.
"Huh........ Abah ompong main matikan saja. Kan Awan belum beres ngobrol nya. Tadinya mau pinjam pusaka yang ada di rumah Abah. " Gerutu Awan seraya garuk garuk kepalanya.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
__ADS_1
Bersambung.