Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Isi Hati Nabil Nur Fadillah


__ADS_3

"Drett.......... Dreet............ Dreet............!!


Ponsel pun bergetar, Lalu membuka nya.


"Bos ada informasi penting yang harus di sampaikan. Sebaiknya kita bertemu." Pesan seorang dari sebrang telepon.


"Baiklah. Saya tunggu jam sembilan malam di perumahan Leles Residance." Balas seorang pemuda yang sedang memperhatikan wanita cantik tersebut.


"Siap. Bos.!!


"Pak. Berapa kopi sama rokok, di tambah dua goreng pisang yang sudah saya makan.?'' Tanya pemuda itu setelah selesai dengan membalas pesan seseorang.


"Semuanya empat puluh ribu." Jawab lelaki setengah tua pedagang kaki lima tersebut.


Pemuda itu memberikan uang satu lembar berwarna biru, lelaki setengah tua menerimanya seraya berkata.


"Hatur nuhun anak muda.


"Sami sami. Pak. Sambil menerima kembalian dari pedagang kaki lima itu. Ia melangkah pergi menuju mobil mewah yang terparkir di area masjid. Wanita yang sedang duduk di teras masjid bersama dengan kekasihnya juga ikut beranjak menghampiri mobil mewah milik pemuda yang sedang bergerak melangkah.


"Permisi. Anak muda bolehkan saya dan teman ku bertanya.? Tegur lelaki yang sedang berjalan kearah pemuda itu bersama seorang wanita yang tadi selalu menatapnya.


Beberapa pasang mata dari kejauhan sedang menatap lekat kepada seorang pemuda yang sedang berdiri dengan sepasang kekasih itu, Mereka selalu siaga bila pemuda itu mengobrol atau pun sekedar menyapa dengan orang asing.


"Silahkan. Akang dan teteh mau bertanya apa kepada saya." Jawab Pemuda itu ramah.


Mohon maap sebelumnya. Bila pertanyaan hamba tidak sopan kepada anda. Tapi Insting teman ku tidak pernah meleset." Kata seorang lelaki yang bertanya itu.


"Akang terlalu sungkan. Silahkan anda bertanya. Saya akan menjawab dengan jujur." Kata pemuda itu.


"Baiklah. Saya tidak akan berbasa basi lagi. Apakah anak muda yang bernama Muhammad Awan Pratama. Murid dari Abah Aden Haruman, penguasa Gunung Gede.?" Tanya pemuda berusia 23 tahun tersebut.

__ADS_1


"Hmmmmmm. Siapakah gerangan. Akang dan Teteh ini.? Tanya pemuda yang menjawab.


"Perkenalkan. Nama saya Tarmin Laksa Juned dan ini teman saya. Siti Lara. Kedatangan saya menuju pusat kota ini, untuk mencari pemuda yang bernama Muhammad Awan Pratama, Atas perintah dari Mbah Juned yaitu ayah saya sendiri." Jawab Pemuda itu memperkenalkan diri nya.


Tidak ada rasa curiga sedikitpun kepada dua orang yang bertanya kepada diri pemuda itu, Ia tersenyum manis lalu mengangguk dan berkata.


"Akang. Tarmin dan Teteh Lara. Ayo ikut. Sebaiknya kita mengobrol di Rumah ku saja.!! Ajak pemuda itu, mereka berdua pun mengangguk.


#############


Perumahan Elit Leles Residance. Satu unit mobil mewah Marcedez Benz e-class, memasuki gerbang perumahan. Pak Salim segera membukakan pintu gerbang tersebut dan menyapa pemilik mobil tersebut dengan senyuman hangat.


"Malam. Bos Awan." Sapa pak Salim seraya tangan di simpan dalam keningnya layak seorang bawahan memberi hormat kepada atasannya.


"Malam juga Pak Salim. Sehat, kelihatannya semangat dalam bertugas." Jawab pemuda yang ada dalam mobil itu.


"Alhamdulillah. Bos saat ini dalam keadaan sehat. Hehehe. Insyaallah semangat bos, untuk memberikan keamanan dan kenyamanan dalam lingkungan perumahan ini." Kata Pak Salim penjaga kompleks perumahan Elit tersebut.


"Siap. Bos. Terima Kasih banyak, bos jadi gak enak hati." Jawab nya lalu Ia menerima pemberian dari pemuda tampan rupawan itu seraya mengangguk.


"Tin..... Tin..... Dua kali klakson mobil di bunyikan tanda pengemudi mobil mewah itu bergerak meninggalkan pos penjagaan perumahan malam itu.


########################


"Bunda. Apakah sudah yakin dengan jalan yang di tempuh oleh kita, menerima permintaan dari Paman Aidil dan Paman Ahmad.?" Tanya seorang gadis malam itu, setelah siang itu terkuras air mata yang sangat menyedihkan.


"Yakin Tak yakin. Kita harus siap menerima dan menjalani nya. Bunda berharap semuanya akan cepat selesai dan tidak ada permasalahan yang akan merugikan kita kita." Jawab wanita berusia 40 tahun yang di panggil Bunda tersebut.


"Nabil takut. Bun.!!


"Takut bukan berarti kita harus menghindari. Tapi ketakutan yang akan di hadapi oleh mu dan Bunda. Adalah ketakutan yang wajar. Tetapi bila kita bisa menghindar. Bunda ingin menghindari nya. Tapi apa daya, kita berdua tidak bisa apa apa." Jawab nya.

__ADS_1


"Apakah Bunda percaya. Kita tidak akan kenapa napa?" Apakah jalan yang kita tempuh sudah sepenuhnya harus begini.?" Bila harus jujur Bun. Nabil tidak butuh semuanya. Lebih baik tidak menerimanya dan menjalani kehidupan yang sudah kita jalani saat ini." Jawab Gadis itu dengan wajah penuh kecemasan.


"Anakku. Apa yang ada dalam pikiran mu. Sama dengan yang ada di pikiran Bunda. Kalau bisa menolak. Pasti sudah di tolak. Tapi kamu sendiri mengetahui nya, tadi siang Bunda sudah berusaha menolak. Tapi jawaban dari Paman mu Aidil. Akan semakin. Berbahaya bila kita tidak menerima nya.


"Iya. Bunda. Nabil tadi juga mengetahui nya. Kak Awan sekarang lagi apa ya Bun.?" Tanya Gadis itu seketika hati dan pikirannya mengingat kepada pemuda itu.


"Mana Bunda tahu. Baru tadi siang kamu bertemu, sekarang sudah menanyakan lagi. Kangen ya, cie cie cie. " Goda Wanita setengah tua itu.


"Ihk apaan sih Bunda. Orang cuma bertanya." Kata Nabil dengan wajah memerah.


"Hehehehe. Mau Bunda telepon nggak. Pangeran mu.?" Goda Bunda sambil terkekeh.


"Bundaaaaaa. Ihk. Apaan sih."


"Hehehehe.! Bunda telepon ya.!! Lalu mengambil ponsel yang ada di samping rak tv. Nabil dengan sigap menahannya.!


"Jangan ihk Bunda. Kak Awan mungkin sedang beristirahat. Ia besok malam berjanji kepada Nabil untuk makan malam." Alasan Gadis itu, agar tidak menelepon pemuda yang ia cintai.


"Ok. Ok. Bunda tidak akan menelepon pangeran mu. Sebaiknya kamu tidur, sudah larut begini." Titah Ibu kandung nya.


"Baik. Bun. Nabil pun beranjak menuju kamarnya dengan senyuman terukir manis di bibirnya. Semoga hari esok akan indah.


Sebelum mata terpejam dan terbawa dalam tidur yang panjang. Sebelum mimpi indah itu datang. Nabil membuka ponsel dan melihat galeri yang penuh dengan Poto bersama seorang pemuda yang sangat Ia cintai.


Rasa suka dan cinta itu tumbuh begitu saja, seiring waktu berjalan, dia datang bagaikan seorang pangeran yang menolong penderitaan dirinya dan ibunya.


"Aku sungguh tak menyangka dan duga, bahwa pemuda yang sehari harinya hanya berjualan kantong plastik dan menjadi kuli panggul di pasar, ternyata seorang pemuda yang hebat yang mampu menyembunyikan dunia yang ada dalam genggaman tangan nya.


"Aku bahagia bila terus bersama dengannya. Aku mencintaimu dalam diam. Aku menyukainya dalam setiap untaian doa doa sepertiga malam. Tuhan bolehkah aku berharap bahwa pemuda itu tercipta untuk diriku.


"Hei. Pemuda tampan yang bernama Muhammad Awan Pratama. Aku mencintaimu. Nabil tersenyum dalam selimut yang membungkus seluruh tubuh nya, dan terlelap dalam tidur panjang malam itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2