
"Komandan. Masuk!!
"Komandan. Masuk!!
"Di terima!! Di terima!!
"Posisi ketiga korban sedang berjalan melalui jalan setapak bersama ketiga preman yang membonceng.!!
"Siap. Laporan di terima.!! Segera bergabung dengan mochi satu yang berada di area rest area jembatan Citarum.!!
"Siap komandan.!!
Hanya selang beberapa menit saja. Tampak terlihat' oleh Irsyad Maulana dan Iyus Saputra yang sedang bersembunyi dalam semak belukar malam itu, setelah menerima laporan dari anak buahnya melalui interkom.
Secara endap mengendap, kedua lelaki berbeda usia itu pun mulai mengikuti dari jarak jauh posisi korban yang di giring oleh ketiga lelaki yang tak lain anak buah Engkos Kosasih menuju pertengahan sawah dan terlihat ada sahung kecil di tengah nya.!!
"Tuan Irsyad sudah jelas Tuan Muda Awan dan Nona Nabil beserta Bu Dewi akan di bantai di sahung tersebut.. Sebaiknya kita berpencar dan mulai menyerang." Kata Iyus Saputra berbicara secara pelan.
"Baik..... Kang Iyus...!! Saya akan ke kiri. Akang berjalan ke kanan.......! Ketika situasi mendukung kita akan segera bergerak." Kata Irsyad...
Dalam kegelapan malam Iyus hanya mengacung kan jempolnya dan mengangguk.!!
Sesampainya di tengah tengah sawah. Irsyad maupun Iyus yang berjalan dengan cara mengendap ngendap agar tidak di ketahui oleh pihak musuh, merasakan keterkejutan ketika seorang wanita yang tiba tiba muncul dari tumpukan jerami menyerang kedua preman yang akan menghajar pemuda yang menjadi majikan nya itu.
Tepat pada wanita itu berhasil menyandera lelaki yang menjadi dalang rencana nya itu.. Irsyad dan Iyus pun langsung menarik Nabil dan Bu Dewi yang sebelumnya sudah di beritahu oleh Awan dengan membisikkan ketelinga mereka berdua.
Agar pergerakan mereka berdua tidak di ketahui oleh pihak musuh yang sedang bersitegang antara Lara dan para preman yang di ketuai oleh Rantai Bumi, keuangan Lara yaitu memegang kendali dengan pisau di tempelkan ke leher Engkos Kosasih.
Iyus dan Irsyad Maulana secara perlahan berjalan mundur bersama Nabil dan Bu Dewi secara pelan pelan dan tampak tak terlihat lagi oleh Awan serta Lara.
Akang Tiga yaitu Cecep dan Akang empat yaitu Bahar, yang bersembunyi tadi nya di tumpukan jerami bersama Lara, ketika wanita itu sudah mulai menyerang dan berhasil menekuk pimpinan nya itu Engkos Kosasih langsung bergerak untuk membantu menyelamatkan para sandera yang hanya beberapa meter dari tempat itu dan di jaga oleh Sueb dan beberapa pengawal nya serta bergabung dengan Akang Akang lainnya.
__ADS_1
Rencana yang di jalankan oleh Muhammad Awan Pratama dengan Dor Tu Dor melalui pesan singkat grup Wasttap, untuk saat ini terbilang mulus dan berhasil.
***
Sehebat apapun ilmu beladiri yang di miliki oleh Awan, tetapi lawannya yang jumlah nya begitu banyak. Ia pun tersudut dan terpojok dalam perkelahian malam itu, sama hal dengan Lara yang notabene nya hanya mengandalkan keberanian nya saja..
Melihat majikannya terpojok dalam hantaman dan serangan para preman anak buahnya Rantai Bumi. Lara mau tidak mau harus memanggil ilmu pemanggil Sukma untuk kedua kali nya.
Sambil menghindari serangan serangan dari pihak musuh, mulut komat kamit membaca mantra yang di berikan oleh Ayah nya Tarmin..
"Wuzzzzzzzzzzz.........
"Bughh..................
Seketika angin yang begitu kencang datang secara tiba tiba dengan terpental nya Lara akibat pukulan yang tepat mengenai perut nya, oleh salah satu preman yang berkelahi dengannya.
"Modar. Sia wanita iblis." Teriak Imin salah satu dari empat preman yang menghajar wanita tersebut.
Sesaat kemudian dengan susah payah. Lara pun bangkit kini sorot mata nya tajam dan menyala nyala deru napasnya tak beraturan..
"Kalian cari mati ya? mau cari mati ya." Bentak Lara, lalu mencabut senjata keris kecil yang Ia selipkan dalam pinggang nya.
Begitu keris tersebut keluar dari kerangka nya, tiba tiba berhembus bau harum bunga Cempaka yang membuat bulu kuduk berdiri, di tambah lagi suasana malam membuat suasana makin mistik di area sawah tersebut.
Tanpa ba, bi, bu, lagi seperti di seret kekuatan ghaib, Lara pun mengamuk melompat ke sana sini membantai siapa saja yang ada di hadapannya.
Lara saat ini layak nya seekor monyet yang melompat langsung keatas pundak orang orang itu lalu menikam senjata di tangan nya itu tepat di bagian lehernya.
"Krakh..............!!
"Akh..................!!
__ADS_1
Pekik dan jeritan memenuhi kawasan persawahan tersebut membuat suasana malam itu semakin mencekam dengan semerbak harum bunga Cempaka dari bilah keris itu terus saja menyengat hidung.
Beberapa menit kemudian perkelahian yang tak seimbang itu berlangsung. Kini dari arah jalan setapak bermunculan puluhan orang mengepung semua anak buah Rantai Bumi yang sudah babak belur oleh Engkos Kosasih.
"Kita terjebak.!! Ayo Ketua lari." Jerit Kadir. Tapi terlambat. Kemana pun mereka lari orang orang yang berpakaian ala preman itu sudah menunggu dengan senjata di tangan nya.
"Salah besar jika kalian berpikir semudah itu untuk melarikan diri." Kata Lara lalu memburu lelaki yang bernama Kadir itu.
Layaknya Superman yang terbang, Lara langsung mengirimkan tendangan nya yang langsung mengenai pinggul Kadir sehingga dia jatuh tersungkur.
"Hahahaha. Mau lari ya.!! Tidak semudah itu." Kata Lara lalu menjambak rambut Kadir kemudian dengan begitu sadis dan kejam nya Lara menusukkan keris nya itu tepat di pusaka warisan milik Kadir.!!
"Tusukan ini untuk mendiang suami ku yang telah kau bunuh." Bisik Lara..
"Bleszzzzzzzzz..........................!!
"Arhk................................!!
Kadir seketika berteriak kesakitan dalam celana nya keluar darah segar. Orang orang yang melihat nya bergidik ngeri tak menyangka seorang wanita yang begitu anggun dan cantik seketika berubah menjadi Iblis ketika api dendam itu timbul dalam dirinya.!!
Setelah puas dengan menyiksa Kadir... Lara pun bangkit dan mata nya menatap tajam kearah Rantai Bumi yang sedang meringis kesakitan akibat pukulan demi pukulan di lancarkan oleh Engkos Kosasih.
Tatapan dan sorot mata Lara menyala nyala. Ia mulai melangkahkan kaki menuju Rantai Bumi yang berada pada tumpukan jerami. Api dendam masih terselimuti di seluruh tubuh nya, semerbak harum bunga Cempaka masih menusuk hidung di malam itu.
"Bughh..................!
Tiba tiba pukulan sangat keras mengenai leher belakang wanita yang sedang memegang pusaka keris tersebut. Wanita itu seketika menggelosoh ambruk ke tanah tepat di samping Rantai Bumi..
Semua tak menyangka... Kenapa bisa bisa nya pemuda itu menyerang Lara yang notabene nya adalah bawahannya sendiri dan menyelamatkan dirinya dari pengeroyokan para preman sebelum datang nya para anggota yang di ketuai oleh Irsyad Maulana dan Iyus Saputra.
Bersambung.
__ADS_1