Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Urusan Aden Haruman Selesai.


__ADS_3

Raja Siluman Ular lalu bergumam dengan membaca mantra mantra yang tidak di pahami oleh Abah Aden Haruman. Seketika cahaya merah membara muncul dari dalam tanah.


"Kau..... Kau benar benar siluman keparat.!! Kau memanggil atasan mu hah.?" Aden Haruman terkejut melihat sosok yang datang dari kerak neraka.


Sosok makhluk mengerikan dengan empat tangan dan mata merah menyala serta terdapat tanduk di kepalanya. Aura kejahatan nya menusuk hingga ke tulang. Bahkan Punggawa Ki Aden Haruman pun gemetar berhadapan dengan salah satu iblis berpangkat di alamnya.


Berbeda dengan Abah Aden Haruman dia hanya tersenyum kecut setelah seorang iblis yang muncul dari dalam kerak bumi, yang di panggil oleh Raja Siluman itu. Tidak ada rasa takut sedikitpun.


"Yang Mulia. Maapkan hamba membutuhkan bantuan dari yang Mulia. Ucap Raja Siluman Ular, sambil menunduk di hadapan Chernobog. Sang iblis perbudakan manusia malam.


Tampa mengeluarkan sepatah kata apa pun, Iblis itu mengarahkan telunjuknya kepada Aden Haruman. Aden Haruman sedang membaca mantra mantra penahan serangan dari sang Iblis, berupa semburan api yang begitu panas mengarah kepada Aden Haruman, hingga kobaran api pun tak mempan membakar diri nya. Kini kobaran api pun berbalik menyerang Chernobog dan Raja Siluman Ular. Mereka berdua terbalut kobaran api neraka milik sang iblis tersebut.


"Rasakan senjata makan Tuan." Gumam Aden Haruman.


"Aaaaaaaaaa...... TIDAK.!! Teriak Raja Siluman Ular dan Chernobog bersamaan dan hilang terlelap api serta ikut masuk kedalam kerak Bumi dengan menghilangnya beberapa para pengawal siluman ular. Raja Siluman Ular dan Sang Iblis Chernobog musnah.


Setelah mengalahkan mereka berdua, dan beberapa para pengawal siluman ular itu ikut menghilang, Aden Haruman pun langsung pamit kepada Punggawa Ki Aden Haruman kakek buyut nya.


"Eyang Atas Angin, urusan ku sudah selesai. Aku akan kembali lagi ke raga ku. Sampaikan Salam Rindu Alam kepada kakek buyut ku." Pamit Aden Haruman.


"Sendiko Pangeran, salam dari Ananda akan, saya sampaikan kepada yang Mulia." Jawab Eyang Atas Angin membungkuk hormat.


"Sementara untuk Dukun Sesat itu sebaiknya musnahkan ilmu nya dan biarkan dia terpisah dengan raga nya sampai dia melayang menjadi arwah yang tidak di terima oleh Langit dan Bumi hingga hari akhir pun tiba." Titah Aden Haruman kepada Eyang Atas Angin.


"Siap Pangeran Aden Haruman." Ucap Atas Angin.


"Wuzzzzzzz.................!!


Abah Aden Haruman pun melesat meninggalkan Gunung Slamet pergi menuju Gunung Gede dan kembali kedalam Raga nya tepat pukul 03:09 Dini hari.

__ADS_1


**************


"Adzan subuh berkumandang di kampung Situhiang, seperti kebiasaan pemuda itu selalu terbangun sebelum waktu Adzan Subuh berkumandang.


Awan pun berjalan kearah kamar mandi untuk segera membasuh seluruh badan nya, setelah beres dengan aktivitas mandi di pagi hari, ia langsung menyeduh kopi dan membuka pesan Wasttap untuk mengirim pesan kepada, Pak Kohar untuk memberi tahukan bahwa pegawai nya yang bernama Asep Sunandar putra dari Abah Kusuma untuk menemani dirinya dalam mengintai Tuan Muda Excel yang akan memantau proyek di kota kecil.


Setelah menerima balasan dari Pak Kohar di pagi buta itu. Awan pun berjalan kearah kamar kedua Orang Tua nya untuk melihat keaadaan Hilman ayah nya yang terkena kiriman Guna Guna dari seorang yang tidak suka terhadap keluarga nya. Serta menjadikan dirinya di pitnah di kampung sendiri.


"Alhamdulillah............ Ayah sudah kembali normal, kedua kaki dan perutnya sudah mengempes, pertanda Abah Aden Haruman sudah memusnahkan dukun santet itu." Ucap Awan bersyukur dalam kesendirian.


Tak lama kemudian Nenek' Romlah pun terbangun dan menghampiri pemuda itu yang sedang menikmati secangkir kopi di temani dengan rokok yang sedang ia hisap.


"Cucuku Awan, kelihatannya nikmat." Tegur Nenek, mengagetkan pemuda itu yang sedang asyik menghisap rokok dan pikiran sedang melayang ke dimensi lain.


"Aduh......... Nek ngagetin Awan aja." Ucap Awan.


"Emang kamu sedang memikirkan apa.! Sehingga kaget dengan teguran dari Nenek.?" Tanya Romlah seraya ikut duduk di kursi berhadapan dengan Cucu nya.


"Hal wajar bila kamu punya pemikiran kesana. Bukan kamu sendiri yang punya pemikiran sampai kesana tapi Bunda mu juga sama yang di pikirkan oleh mu." Kata Romlah dengan wajah sayu.


"Hmmmmmm." Itu lah yang sedang Awan pikirkan saat ini Nek.....!!


"Cucuku Nenek ngasih saran untuk di pikirkan dan di timbang oleh mu sebelum membangun rumah ini." Kata Romlah di pagi buta itu.


"Awan mendengar kan saran dari Nenek. Silahkan kemukakan Nek." Pinta Awan.


"Cucuku sebelum kau mau membangun rumah Bunda, sebaiknya kau bersama ayahmu dan kedua kakak mu di musyawarah kan terlebih dahulu. Kenapa Nenek bilang begitu, karna yang di takutkan kedepan nya antara pihak anak anak bunda yang lainnya, setelah bunda tiada kakak kakak mu dan adik adik mu meminta hak warisan sedangkan, rumah ini kan milik Bunda. Cuma di perbaiki oleh mu sebagai anak." Kata Romlah.


"Lanjutkan Nek saran dari Nenek cukup menarik.!!

__ADS_1


"Jadi begini Awan, sebaiknya rumah Bunda kamu beli, sebelum di bangun dan di atas namakan sertifikat nya Nana kamu. Mengapa Nenek menyuruh untuk membeli rumah bunda saat ini, agar bunda bisa membagikan harta warisan miliknya saat ini juga. Nanti di saat Bunda mu sudah tiada, anak anak tidak ada yang merebutkan harta warisan karna rumah serta sawah sudah menjadi milikmu dengan di saksikan oleh notaris atau kuasa hukum." Saran nenek kepada cucu nya.


"Nek. Apakah tidak menyinggung perasaan Bunda.?" Tanya Awan.


"Justru Ini adalah ide Bunda mu." Ucap Romlah.


"Kalau Cucuku tidak percaya, tanya aja langsung kepada Bunda mu." Titah Romlah tidak memberikan kesempatan kepada pemuda itu menjawab.


"Baik'lah. Nek nanti Awan tanya langsung sama Bunda." Ucapnya.


Wanita Paruh Baya itu mengangguk dan mulai berbicara pelan.!!


"Emang cucuku punya uang simpanan berapa.?" Tanya Romlah suara nya pelan.


"Ada sekitar 30 lebih Nek." Jawab Awan.


"Tiga puluh juta bukan.!!?" Tanya Nenek penasaran.


"Bukan Nek, seraya menggeleng kan kepala.


"Jadi berapa.?"


"Tiga puluh tiga miliar Nek.!!


Wanita paruh baya itu tiba tiba pingsan membuat Awan Cemas, dan tak lama dia terbangun, ternyata tadi hanya pura pura pingsan akibat rasa kaget dan syok setelah mendengar jawaban dari cucu nya itu. Kata terakhir Miliar.


Obrolan mereka terhenti ketika suara adzan subuh berkumandang, Awan pun langsung pamit ke Nenek nya untuk pergi menuju masjid yang tak jauh dari rumah milik Bunda.


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2