Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Awal mula Awan dan Azzahra bertemu


__ADS_3

Langit tampak masih gelap, suara adzan berkumandang dan terdengar merdu di telinga gadis cantik berusia sepuluh tahun yang sedang tertidur di tengah tengah hamparan sawah yang terdapat sahung bagi para petani beristirahat bila sudah beres mencangkul atau pun hanya sekedar mengusir burung burung Pipit memakan padi milik petani.


"Bunda........ Bunda........ Bangun..... Nabil lapar...... " Ucap nya seraya menggoyang goyangkan tubuhnya.


"Wanita yang di panggil Bunda oleh anak berusia sepuluh tahun itu, membukakan matanya seraya mengucek ngucek oleh kedua tangannya, kesadaran nya belum seratus persen, Ia pun lalu bangun dari tidurnya dan tersenyum penuh kepalsuan menutupi kesedihannya yang ada dalam hatinya.


"Kamu lapar Nak.?" Kamu mau makan sayang.!


"Iya....... Nabil mengangguk.!!


"Ayo. Kita cari makanan.!! Uang Bunda semua telah di curi oleh supir taksi yang membawa kita berdua.! Bunda tidak mempunyai apa apa sekarang. Kita harus mencari makanan untuk bertahan hidup di tempat asing ini." Ucap Wanita itu menjelaskan.


"Bunda...... Kenapa tidak pulang saja ke rumah ayah.?" Kenapa kita harus menyiksa diri kita berdua dengan pergi meninggalkan Ayah." Ucap Polos anaknya yang belum mengerti tentang semua ini.


Azzahra, tak kuasa lagi. Air matanya seketika jatuh. Ia coba dari waktu bangun dari tidur nya agar tidak menangis tapi apa daya.


"Maap....... Membuat Bunda menangis.! Lirih Nabil seraya menyeka air mata Ibu kandung nya itu.


"Sayang......... Kamu tak harus meminta maap. Ini semua sudah takdir yang harus kita berdua jalani. Kamu akan mengerti dengan seiring waktu. Kenapa dunia ini sangat kejam. Tapi kita berdua tidak boleh putus asa dengan perjalanan yang akan kita hadapi kedepannya. Cukup kamu berada di samping Bunda. Akan indah pada waktunya." Ucap Azzahra menasehati Nabil seraya mengelus rambut nya.


Satu tahun lamanya mereka berdua Luntang Lantung hidup berpindah pindah dari kampung A ke kampung B dari jalan C ke jalan D serta dari pasar F ke pasar G seraya meratapi perjalanan hidup yang begitu pahit, Dunia sudah terbalik bagi mereka berdua, kehidupan sebelumnya penuh dengan kemewahan, dan kebahagiaan kini terbalik penuh penderitaan, untuk makan pun mereka berdua harus meminta minta belas kasihan orang orang. Cacian hinaan serta pengusiran sudah menjadi makanan sehari hari bagi mereka berdua. Drastis sungguh memprihatinkan seorang Nyonya Besar dan Nona Muda anak dari Moch Ismail orang terkaya di negara nya, untuk sekedar mengisi perutnya harus mencari di tempat pembuangan sampah.


###

__ADS_1


Pasar induk di kota kecil Jawa Barat. Hari Minggu.


Pukul 03:00 dini hari seorang anak berusia 11 tahun turun dari angkot berwarna hijau dengan langkah penuh semangat menuju pintu masuk bangunan besar berlantai empat. Senyuman dan sapaan ke para pedagang yang berjualan di pagi dini hari itu menjadi rutinitas anak yang masih sekolah di bangku SD itu.


Sudah hampir seminggu lebih pikiran dan mata nya tertuju kepada kedua orang wanita yang berbeda usia cukup jauh, wanita dan anak kecil itu selalu tidur di kios milik tempat pemuda itu selalu membantu dan membukakan kios milik Pak Ibrahim.


Sesampainya di kios milik Pak Ibrahim seperti biasa anak muda itu langsung membuka kios nya, dan dengan sopan membangunkan kedua wanita yang tertidur di depan meja kios dagangan Pak Ibrahim.


"Bu....... Bu....... Bangun....... Aku mau membuka kios." Ucap anak yang seumuran dengan anak dari wanita setengah Tua itu.


Wanita penampilan persis seperti musafir dengan baju yang kumuh dan wajah yang sangat kucek itu terbangun dan segera berkata.


"Mohon. Maapkan kami berdua Nak. Lagi dan lagi tertidur sebelum kamu membuka kios milik majikannya." Lirih Wanita itu lalu bangkit dan turun dari meja seraya menggendong anaknya yang masih tertidur.


"Ahk...... Tidak harus meminta maap Bu. Sebaiknya anaknya di pindahkan di kios yang masih belum buka. Kasihan masih tertidur pulas." Saran Pemuda itu seraya membuka kunci gembok kios itu.


"Pemilik kios sudah datang. Anak kecil itu seperti biasa ijin untuk berjualan kantong plastik seraya membawakan belanjaan ibu ibu serta bapak bapak yang sudah menjadi langganan nya.


Azzahra Masika Fatharani dan anaknya seperti biasa meminta minta ke seluruh pedagang kios untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong.


Tepat di ujung bangunan berlantai empat yang di lantai bawahnya di jadikan pasar oleh pemilik bangunan tersebut dan sudah di sah kan oleh Pemda tersebut. Seorang anak kecil berjalan keluar dari lantai bawah pasar induk tersebut menuju ruko ruko yang berjejer dengan membawa secarik kertas tertulis barang barang yang akan di beli atas perintah Pak Ibrahim.


Seketika anak itu melewati tiga ruko yang kosong mendengar suara tangisan anak kecil, karna rasa penasaran anak itu lalu melangkah kan kaki nya kearah suara yang ada di dalam ruko kosong itu.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya setelah mengintip seorang wanita setengah tua sedang di sepak sepak oleh lelaki yang menjadi preman di pasar induk itu, dan di samping nya seorang anak kecil perempuan sedang menangis karna melihat wanita setengah tua itu sedang meringis kesakitan.


"Kreak............!


"Kang Dayat Hentikan....... Teriak anak kecil itu.


Preman itu lalu membalikkan badannya dan menatap tajam kearah suara yang tiba tiba datang dan menyuruh menghentikan sepakan kepada wanita dekil itu.


"Awan.............. Kau jangan ikut campur. Akang harus memberi pelajaran kepada pencuri ini." Kata Preman itu yang bernama Dayat.


"Dia mencuri apa Kang.?" Lihat lah saya Kang.! Kasian mereka berdua." Pinta anak itu yang di panggil Awan.


"Awan....... Mohon maap. Aku hanya di suruh oleh Pak Isak, pemilik kios buah. Katanya setiap mereka berdua mengemis selalu mengambil buah yang sedang di dagang kan." Kata Dayat preman pasar menjelaskan.


"Ohk......... Begitu Kang.........!! Yaa...... Sudah...... Lebih baik akang hentikan, kasian wanita itu sudah babak belur di pukuli dan di sepak oleh Kang Dayat. Untuk Pak Isak biar aku yang berbicara." Kata Anak itu.


"Huh........... Baiklah....... Aku melihatmu. Kalau tak memandang dirimu Awan, sudah aku habisi wanita ini bersama dengan anaknya." Kata Dayat lalu melangkah keluar dari Ruko kosong itu.


"Terima Kasih Kang.!


Preman itu berhenti. Lalu berkata kepada Awan.


"Sebaiknya wanita dan anak itu jangan mengemis di pasar ini Awan." Saran Kang Dayat. Tapi terserah kamu saja. Akang hanya memberi saran. Kamu tahu sendiri bagaimana sipat dan karakter Pak Isak." Kata Dayat mengingatkan nya.

__ADS_1


"Siap Kang. Aku coba bicara baik baik pada ibu itu." Kata Awan.


Bersambung.


__ADS_2