Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Awan Kembali Ke pelukan sang Bunda


__ADS_3

Tawa lepas di kerajaan istana bawah laut begitu menggema dengan sangat riak, di atas Istana deru ombak begitu besar menghantam karang pesisir pantai.


Pertanyaan konyol yang di lontarkan oleh pemuda yang di bawa oleh Aden Haruman, membuat para dayang dayang Ibu ratu tertawa terbahak bahak waktu itu.


"Sialan Anak Jin Kuya bisa bisa aja, mencairkan suasana yang kaku buat dirinya. Tapi yang bikin gue enek adalah gigi ompong nya di bawa bawa." Gumam Aden Haruman.


"Ananda Awan. Kau persis seperti guru mu Aden Haruman, begitu polos dan tengil. Jawaban dari sebuah pertanyaan mu, tidak bisa Ibu jawab untuk saat ini." Kata Ibu Ratu kahyangan, dengan exfresi menahan tawa.


"Kenapa Ibu Ratu.?" Tanya Awan penasaran.


Seiring berjalannya waktu perjalanan mu di alam manusia, kau akan mengerti." Jawab nya.


"Hmmmmmmm. Ok lah." Balas pemuda itu singkat, membuat Aden Haruman geleng-geleng kepala nya.


"Ananda. Aden Haruman dan Cucuku Muhammad Awan Pratama. Lihat lah.!! Kata Ibu Ratu lalu mengibaskan selendang berwarna hijau itu, tampak sebuah kaca yang begitu besar menampilkan seorang pemuda yang terbaring kaku di ranjang dan di samping kiri dan kanan ranjang tersebut, seorang gadis dan dua wanita setengah tua sedang menangis terisak Isak.


"Na.... Nab..... Nabil...... Bunda Azzahra dan Bu Dewi.!! Awan tergagap melihatnya.!!


"Ibu. Ratu. Abah Aden Haruman, Bukan kah itu........! Awan tak sanggup melanjutkan pertanyaan.


"Iya. Ananda, Awan..... Itu orang orang yang berharap kau kembali ke alam mu. Lihatlah dengan seksama, Wanita yang terbalut Mukena putih sedang bersila meminta petunjuk dari sang maha tunggal." Titah Ibu Ratu.


"Bund...... Bundaku......... Abah....... Ibu Ratu....... Itu Bunda ku................! Kata Awan menunjuk jari nya kepada kaca yang begitu besar layak nya seorang manusia yang sedang menonton televisi.


"Bener....... Awan itu Ibu kandung mu, orang yang harus kau hormati, dan jangan sampai membuatnya meneteskan Air mata atas sikap dan sombong mu, karena kau mempunyai segalanya.


Hormati dia, patuhi dia, jangan kau bantah kata kata nya, bahagia kan dia, walaupun bukan dari segi materi. Karna surga mu ada dalam telapak kaki ibu mu." Aden Haruman memberikan nasehat nya.


"Awan menunduk merasapi penyesalan semua yang telah di jalani oleh nya dalam mengejar harta dunia, hingga Ia melupakan sosok seorang Bunda dan keluarganya.


"Amanda Muhammad Awan Pratama sudah saat nya kau kembali ke alam mu. Sudah saat nya menyelesaikan permasalahan permasalahan yang ada di hadapan mu, tuntaskan kebatilan dan tegakkan kebenaran dalam perjalanan mu kedepannya.


"Siap Ibu Ratu." Balas Awan singkat sambil tangannya mengepal erat.!!

__ADS_1


"Ananda Aden Haruman, Jaga lah Cucuku, bantu bila ada permasalahan yang begitu rumit dan tak bisa di selesaikan oleh nya." Titah Ibu Ratu.


"Baik.! Aden Haruman berkata singkat dan mengangguk.!!


"Para pengawal antarkan Cucu ku kembali ke alam nya." Titah Ibu Ratu penuh wibawa.


"Siap." Kata Dayang Dayang membungkuk hormat.!! Hal itu membuat pemuda itu senang teramat dahsyat.


"Abah.!! Cantik cantik ya." Bisik Awan.!!


"Pletak.............!! Abah Aden Haruman menjitak kepala pemuda itu, bisa bisa nya ia memikirkan para dayang Ibu Ratu.


"Wadaw..................!!


"Sakit Abah.!! Ringis nya pemuda itu.


"Rasain...... Anak Jin Kuya." Sergah Aden Haruman.


"Jin Kuya.........!!


"Abah Ompong.........!


"Jin Kuya jelek.......!


"Abah ompong peyot........!


"Anak Jin Kuya jelek lek lek lek lek.......!


"Abah Ompong peyot yot yot yot yot.......!!


Para dayang hanya saling tatap menatap melihat dua orang yang berbeda usia saling ledek meledek. Sementara Ibu Ratu sendiri hanya geleng geleng kepala nya, akibat ulah kelakuan mereka berdua, ia tidak bisa menahan lagi tawa nya, akhir nya membuncah.!!


"Sudah.......... Sudah.......... Kalian berdua anak sama bapa tak mau mengalah satu sama lain. Sebaiknya kalian segera berangkat dan kembali ke Alam kalian." Titah Ibu Ratu.

__ADS_1


"Siap. Ibu Ratu." Kata mereka berdua bersamaan.!! "Ayo nona nona cantik." Ajak Awan, membuat Aden Haruman tersenyum kecut.


###########################


Kini Muhammad Awan Pratama sudah sadar dari tidur panjangnya yang sebagian dokter menyebut nya bahwa pemuda itu sedang menjalani Mati Suri. Tapi buat pemuda itu sendiri itu adalah pengalaman hidup yang tak boleh di ceritakan kepada orang lain, karna takutnya salah penafsiran anggapan anggapan orang yang mendengarnya.


Biarlah Ia pendam seorang diri, dan hanya Aden Haruman yang mengetahuinya.Kita kembali lagi kemana seorang pemuda itu baru sadar dari tidur nya.


**


Saat kamu mencium keningku. Di saat itu Kakak sadar..... Nabil memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Dia benar bener tidak ingin mereka semua melihatnya.....


"Lebih merah dari kepiting rebus ......Ejek Awan saat melihat pipi Nabil yang memerah, Nabil menyentuh wajahnya dan memanyunkan bibir nya, kesal karna Awan selalu mengejeknya...


"Jangan mengejek ku terus..... Seru nya kesal, hal itu membuat Awan terhibur........


"Nabil........ Kakak mau bangun dulu dan ingin memeluk ketiga wanita hebat yang selalu ada di samping ku.! Ucap nya meminta Nabil untuk berpindah.


Nabil mengerti..... Lalu Ia bangkit, membiarkan pemuda itu memeluk Bunda Azzahra dan Lisnawati serta Bu Dewi.


Isak tangis bahagia di rasakan oleh semua yang hadir di ruangan itu. Hanya orang yang rak punya rasa, yang tidak merasakan air mata nya menetes.


Irma, Kiara, dan Mira. Saling berpelukan bersyukur kepada ilahi Robbi, sahabatnya itu sudah sadar dari koma nya. Apa yang di rasakan oleh ketiga sahabatnya Awan, itu juga yang di rasakan oleh Amel anak nya Bu Dewi. Walaupun dalam hatinya memendam rasa sakit yang teramat dalam karna rasa cinta nya sudah di kalahkan oleh gadis cantik yang berdiri di samping Teh Lara. Tetapi Ia buang saat itu juga, ketika pemuda itu bangun dari koma nya, atas kata kata yang keluar dari mulut gadis bernama Nabil Nur Fadillah.


"Teh Lara...... Terima Kasih banyak. Terima Kasih banyak. Atas saran yang di berikan oleh Teteh. Hingga Kak Awan sadar kembali." Lirih Nabil dalam pelukan wanita berstatus janda mati itu.


"Tak usah berterima kasih segala. Itu semua sudah menjadi kewajiban saya sebagai bawahan. Teteh bahagia dan lega Tuan Muda Awan sudah sadar." Balas Lara dengan Air mata yang mengalir.


Ketika Isak tangis bahagia di ruangan itu melanda, tiba tiba pintu terbuka, muncullah sepasang suami istri paruh baya berjalan kearah ranjang pemuda yang sedang memeluk salah satu dari ketiga wanita hebat itu, pasangan suami istri terus melangkah dengan kedua anaknya yang mengikuti dari arah belakang.


Senyuman terukir dari lelaki paruh baya dan wanita paruh baya, apa yang di khawatirkan mereka tidak terjadi ketika tampak pemuda itu sedang memeluk seseorang yang ia sangat kenal.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2