Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Kedatangan Lelaki Yang Tiga Tahun Meninggalkan


__ADS_3

"Bunda kerumah ayahnya entar aja ya.! Kata Awan setelah sampai di rumah, pulang dari belajar mengaji di madrasah Aliyah itu.


"Emang kenapa anakku.? Tanya wanita bergelar ibu kandung itu.


"Lagi malas berdebat sama ibu tiri yang super nyebelin itu." Jawab Awan.


Anakku setiap di suruh untuk menemui ayahnya kenapa selalu ada aja alasan nya, apakah sebenci itu terhadap ayahnya. " Ucap Lisnawati dalam hati.


"Yaa....... Sudah, terserah Awan saja." Ucap Lisnawati.


Setelah berbicara sama Bunda, Awan pun langsung keluar hanya sekedar nongkrongnya di depan bersama ketiga sahabatnya.


"Bunda Awan keluar dulu mau nongkrong bersama Mira." Teriak Awan seraya nyelenong keluar rumah.


"Jangan malam malam Nak pulang nya." Jawab Bunda dengan nada tinggi.


"Iya Bunda.............!


Tak lama setelah itu Muhammad Awan Pratama lalu berjalan kearah pos ronda untuk memberi tahukan kepada Mira bahwa tidak jadi ke rumah ayahnya kemungkinan dirinya sudah menunggu di pos ronda.


"Mira......... Tegur Awan dari kejauhan......!


Gadis itu menoleh tersenyum melihat siapa yang menegur nya. Lalu dia mengangkat tangan kanannya seraya melambaikan kearah pemuda yang berjalan menghampiri nya.


"Berangkat sekarang? Tanya Mira.


"Nggak jadi mending kita nongkrong yu di warung Bu Jubaedah tukang seblak." Ajak pemuda itu.


"Ayo......! Sahut Mira cepat.


Ketika kita berdua baru beberapa langkah berjalan Mira berhenti dan berkata kepada pemuda yang dari jalannya menunduk.!


"Awan..... wan.... wan...... Ucap Mira seraya menahan tangan pemuda yang berjalan di sampingnya.


"Iya...... Mira ada apa?" Tanya Pemuda itu.


"Bukan kah itu ayahmu sedang berjalan kearah rumah ibu mu." Kata Mira menunjuk kearah lelaki yang berjalan dengan tertatih-tatih.


"Pucuk di cinta ulam pun tiba, seorang lelaki yang tega meninggalkan istri nya selama tiga tahun kini tertatih tatih datang berjalan kearah rumah' nya." Ucap Awan dengan wajah benci atau pun wajah bahagia hanya dia sendiri yang menebak nya.

__ADS_1


"Mau ngapain ya Mira dia pulang kerumah Bunda?" Tanya Awan kepada Mira.


"Mana gue tahu Sarwan......., Bukan loe mau nemuin ayahmu.?" Tanya Mira.


"Mira gue nemuin hanya sekedar memberi tahukan kepada istri muda sama anak anaknya agar mereka kedepannya tidak mengungkit harta milik Bunda, karna murni itu hasil jerih payah Bunda dan warisan dari kakek." Lirih Awan.


"Maap Awan aku gak tahu." Jawab Mira merasa bersalah tentang pertanyaan barusan.


"Santai aja kali Mira, ayo kita ke rumah bundaku." Ajak Awan seraya di pegang tangannya.


Mira tidak menjawab hanya menurut saja, apa lagi tangannya di genggam oleh pemuda yang ia sukai.


Beda hal dengan seorang gadis yang sedang mengintip di belakang pos ronda, hatinya begitu membara terbakar api cemburu, dan kaki nya jingkrak jingkrak terkena serangan nyamuk nyamuk yang sangat nakal.......! Hingga punggung kaki sampai ke betis seketika bentol bentol...!


Kini dua sejoli berjalan menuju rumah Bunda Lisnawati, tepat ketika di pintu masuk dia mendengar tangisan seorang wanita yang paling dia sayang.......!


Seketika amarah nya memuncak, dan di tendang lah pintu belakang rumah dengan sangat keras oleh pemuda yang sedang menggenggam tangan gadis itu.


"Bruuk....................!


"Braak.....................!


"Teh Dena kang Ujang serta Rina dan Indri, melongo ketika melihat pintu itu di dobrak oleh pemuda bernama Awan itu.


"Ada apa anakku.? Tanya Bunda dengan suara serak.


"Justru Awan bertanya kenapa Bunda menangis, apakah lelaki itu menyakiti Bunda." Jawab Awan seraya mengepalkan tangan mata nya menatap tajam kepada sosok lelaki yang sudah tiga tahun meninggalkan anak dan istrinya, dia lebih memilih wanita itu.


Lisnawati menghampiri anak ketiga nya itu dan meredakan amarahnya, dia tahu bahwa Muhammad Awan Pratama, adalah anak yang paling tersakiti oleh suami sekaligus ayahnya.


"Anakku, Bunda menangis bukan di sakiti oleh ayahmu, tapi Bunda menangis karna ayahmu sudah sadar dan meminta balikan lagi kepada Bunda." Ucap Lisnawati seraya menenangkan hati anaknya.


"Bunda percaya sama lelaki itu? Tanya Awan seraya mata nya menatap kearah lelaki yang sedang duduk di samping kakak nya.


"Iyaa anakku, berprasangka baik itu lebih baik dari pada berprasangka buruk." Pesan Lisnawati.


"Maapkan, Awan Bunda, aku lebih baik keluar dari rumah ini, ketimbang harus bertemu dengan lelaki yang tidak punya rasa malu dan tega meninggalkan anak anak dan istrinya ketimbang wanita lain." Tegas Awan lalu masuk ke dalam kamarnya melewati lelaki yang bernama Hilman ayah kandung nya Muhammad Awan Pratama.


"Anakku................ Berhenti....... Bunda mohon......... Anakku...... jangan kau pergi......! Isak Lisnawati melihat Awan sudah keluar dari kamarnya seraya berjalan kearah pintu keluar tapi di tahan oleh Mira dan kedua adiknya.

__ADS_1


"Awan sahabat ku, tenangkan lah dirimu, sebenci apapun dia ayahmu, karna dia kau hadir di dunia ini." Bijak Mira menasehati sahabatnya.


"Hiks........" Hiks........" Kak Awan jangan pergi, jangan tinggalkan Bunda dan kami berdua." Lirih adiknya dalam tangis seraya tangannya menahan kaki kakaknya itu.


"A jemput nenek pakai motor Awan, bawa sekarang kesini." Bisik Dena


"Iya........ Balas Ujang suaminya.


Lelaki yang tadi hanya diam saja melihat semuanya kini dia beranjak mulai menghampiri pemuda itu.


"Anakku sebenci ini kah kepada aku.?" Tanya Hilman.


Awan tidak menjawab hanya tersenyum sinis kearah lelaki yang baru saja bertanya.


Ayah hanya terdiam. Hanya airmata yang mengalir dari kedua kelopak matanya. Mata lelaki itu menerawang hingga menembus batas samudera luas yang tak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata dan narasi tentang stigma buruk dirinya hingga anak ketiga dan anak anak lain nya membenci nya.


"Anakku Muhammad Awan Pratama. Penyesalanku adalah pernah hadir ke dalam kehidupanmu dan menghancurkan kesempurnaan mu. Menangisi penyesalanku, aku tahu ini mungkin karma, ya aku terima karma ini, kenyataan jika waktu nggak akan bisa kembali lagi." Di antara deretan panjang penyesalanku, melepasmu pergi bukan salah satunya. Ayah bener bener meminta maap kepadamu." Lirih nya dalam tangisan bersama Bunda.


Tak lama setelah itu, satu suara wanita paruh baya yang baru turun dari motor yang di bawa oleh kakak pertama nya.


"Cucuku Muhammad Awan Pratama." Ucap Nenek Romlah seraya berjalan menghampiri nya dan lalu memeluk nya.


"Hilman sebaiknya kau pergi ke kamar jangan dulu keluar sebelum ibu menyuruh mu keluar." Bentak Romlah ibu mertuanya.


Lelaki tua itu hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamar Bunda Lisnawati.


"Cucuku ayo duduk tenangkan dulu hatimu." Ajak Nenek.


Awan pun lalu mengikuti nya dan duduk di kursi yang tidak jauh dari kamar miliknya.


"Bunda, Nenek, Awan akan pergi untuk menenangkan diri dulu, untuk urusan masalah kepada Pak Engkos biar nanti Bu Dewi yang urus semuanya." Lirih anaknya menyeka Air mata yang mengalir dari kelopak mata nya.


Nenek Romlah menggeleng kan kepala nya dia tidak menangis' menahan nya, beda dengan Bunda dia menangis' dalam pelukan seorang anaknya.


"Maapkan Bunda, anakku, Maapkan.......!


"Bunda tidak usah meminta maap, mudah mudahan hati Awan bisa menerima nya kembali, untuk saat ini ijinkan Awan untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Suatu saat bila rindu, Awan akan menelepon Bunda." Ucap anaknya lalu melepaskan pelukan ibunya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2