Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Kecurigaan Tedi kepada Adik tiri nya


__ADS_3

Tuhan menciptakan pagi hari ini dengan indah, maka mulailah dengan penuh keceriaan dan semangat.


"Cukup dengan secangkir kopi dan senyuman manis mu berhasil membuat pagi ku menjadi sempurna."


"Selamat pagi, lakukan yang terbaik di hari ini."


Entah bagaimana cuaca alam pagi ini, yang pasti aku selalu mendoakanmu semangat pagi."


"Tersenyumlah untuk menyambut pagi harimu."


"Ku ucapkan selamat pagi pada dunia dengan senyum dan hati yang tulus."


"Selamat pagi kawan, semoga semangatmu tetap membara dan tidak pernah padam."


Lamunan Tedi Ferdiansyah di pagi hari seketika buyar di saat salah satu tetangga nya menyapa dirinya yang sedang menatap kearah tinggi nya langit, indah nya pagi hari itu.


"Selamat pagi Pak Tedi." Sapa satu lelaki seumuran nya, dan menjadi tetangga nya di tempat yang baru dua hari pemilik perusahaan Future Nugraha Company tinggal saat ini.


"Ehk........ Pak RT sini mampir kita minum kopi dulu." Ajak Tedi setelah mengetahui suara yang menyapa di pagi hari yang indah itu.


"Terima Kasih Pak Tedi tapi saya mau ke warung Bu Ijah dulu membeli gorengan, biar makin mantap kopi di temani dengan gorengan." Jawab lelaki yang dia tahu RT di kampung yang baru dia tempati.


''Wahk....... Mantap tuh Pak, sekalian saya titip beli........ Tunggu sebentar saya ambil dulu uang nya." Ucap Tedi Ferdiansyah menahan Pak RT.


Tak lama setelah itu Tedi pun sudah berada di teras rumah nya lalu menyerahkan uang satu lembar berwarna merah, sekaligus membeli rokok, untuk menemani obrolan di pagi hari bersama Pak RT.


Disaat kepergian Pak RT menuju ke warung untuk membeli gorengan dan rokok, Tedi Ferdiansyah di kejutkan oleh suara ponsel yang berdering di ruangan keluarga.


"Tuan mohon maap telepon anda dari tadi berdering." Ucap pembantu Tedi Ferdiansyah.


"Terima Kasih mbok..........!


Tedi pun langsung mengusap layar ponsel dari bawah keatas dan langsung menjawab telepon masuk yang dia tahu dari Robi Asisten nya.


"Robi......... ada hal apa sehingga kau menelepon di pagi hari ini.? Tanya Tedi yang menjawab telepon masuk.

__ADS_1


"Mohon maap Tuan Besar mengganggu waktu di pagi hari Anda, tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan saat ini." Jawab Robi di sebrang telepon.


"Silahkan kau katakan Robi." Titah Tedi.


"Tuan muda Minggu depan dia akan memantau proyek yang sedang di garap oleh PT Bina Sakinah Group dengan kontraktor CV Hansel Mandiri, kedatangan nya sudah di tunggu oleh Adik tiri Tuan Besar yang bernama Agus Ferdiansyah dan dia memerintahkan untuk menghabisi nyawa Tuan muda, menurut informasi yang saya dapatkan dari anak buah yang di susupkan kedalam orang orang Agus Ferdiansyah." Kata Robi menjelaskan panjang lebar.


"Bajingan sudah aku duga dan terka di balik semua nya adalah adik tiri ku sendiri.


"Betul Tuan, tapi sebelum kita menangkap dalangnya, sebaiknya kita tunaskan terlebih dahulu anak buahnya saat ini, kemungkinan berada di kota kecil yang sekarang Tuan Besar tempati." Saran asisten Tuan Besar.


"Baiklah aku mengerti. Robi siapkan pengawalan penuh untuk anakku dan perketat pengawalan di Mansion dimana istriku dan anak perempuan ku tinggal." Titah Tedi Ferdiansyah.


"Siap Tuan' Besar, akan saya laksanakan segera." Jawab Robi.


"Bagus......... Kalau begitu silahkan anda sibuk di sana. Saya akan memulai aktivitas di sini dengan para warga." Ucap Tedi Ferdiansyah melihat Pak RT sudah terlihat bersama tetangga lainnya.


"Baik....... Tuan' Besar seraya mengakhiri obrolan telepon nya itu. tut...... tut..... tut...


***


"Pak Tedi mohon maap menunggu lama, tadi mengantri di warung banyak yang beli." Ucap Pak RT seraya berjalan menghampiri nya.


"Pak RT dan Pak Rojak silahkan duduk." Titah Tedi mempersilahkan.


"Terima Kasih banyak..........! Pak lalu mereka berdua duduk di kursi halaman teras rumah.


Tak lama kemudian pembantu rumah Tedi Ferdiansyah datang membawa tiga gelas kopi dan piring kosong untuk tempat gorengan yang baru di beli oleh Pak RT.


Mereka bertiga pun menikmati nikmatnya kopi di pagi hari bersama dengan gorengan yang masih panas.


Sungguh nikmat menjalani kehidupan di kampung yang jauh hiruk pikuk perkotaan ini." Ucap Tedi Ferdiansyah dalam hatinya.


**********************************************


Sementara di jalan utama puncak Bogor pagi itu motor Jupiter MX melesat dari jalan desa Citamiang menuju jalan utama yang di kendarai oleh pemuda tengil yang kadang kadang tingkat jahil nya kepada Abah Aden Haruman dan ke-tiga sahabatnya membuat mereka darah tinggi.

__ADS_1


"Motor Jupiter MX melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan di pagi hari itu menuju ke perbatasan antara Bandung barat dan Cianjur.


Dua jam lama nya kini pemuda itu sudah memasuki jalan desa Cihea Haurwangi, jalanan yang berlubang sehingga dia melajukan sangat pelan.


Tepat di ujung jalan Cihea terdapat satu warung yang menjual aneka gorengan pemuda itu pun langsung memberhentikan motor nya dan terparkir di samping warung itu, untuk sekedar beristirahat dan bertanya.


"Bu kopi luwak white kopi, satu." Ucap pemuda itu seraya duduk di bangku panjang yang di sediakan oleh pemilik warung tersebut.


"Siap, A tunggu sebentar." Jawab pedagang warung itu, wanita berusia 30 tahun.


"Muhun mangga, sekalian rokok nya Djarum Coklat dua bungkus sama Sampoerna mild satu bungkus Bu." Ucap pemuda itu buat nanti di lembah persegi bersama Abah Kusuma.


"Mangga Aa kopi nya, seraya menyodorkan gelas kepada pemuda yang baru datang, dan bertanya lagi.


"Mau kemana Aa, kelihatan bukan orang kampung sini......!


"Muhun....... Bu mau silaturahmi kepada Abah Kusuma yang ada di lembah persegi." Jawab Awan seraya menyeruput kopi nya.


"Ohk muhun...........! Lumayan sekitar dua kilo lagi perjalanan menuju Abah Kusuma." Kata wanita pemilik warung itu.


Tiga puluh menit Pemuda itu beristirahat di warung itu, lalu melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah Abah Kusuma, karna waktu semakin melaju dengan cepat.


"Bu total semua nya berapa? Tanya Awan karna mau melanjutkan perjalanan nya lagi.


"Sama apa aja Aa selain rokok dan kopi?" Tanya pemilik warung itu.


"Di tambah gorengan tiga biji dan buras dua." Ucap Awan.


"Semuanya jadi enam puluh ribu rupiah A yang harus di bayar." Kata nya, lalu pemuda itu menyerahkan uang pas.


"Bu permisi mau melanjutkannya lagi perjalanan menuju rumah Abah Kusuma." Kata Awan ramah.


"Ohk...... Iyaa silahkan Aa, hati hati jalan nya berlubang." Pesan pemilik warung itu.


Pemuda itu lalu beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri motor yang dia parkir di pinggir jalan, seraya menghidupkannya.

__ADS_1


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.


Bersambung.


__ADS_2