Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Ucapan Terima Kasih dari Friska


__ADS_3

Iring iringan mobil mewah bergerak berombongan dari Vila yang berada di kaki bukit Gunung Batu menuju ke rumah sakit rakyat.


Ketika rombongan itu sampai tampak beberapa para pengawal berlarian membukakan pintu untuk mobil yang paling tengah.


Tampak dua pemuda tampan yang tinggi nya hampir sama tapi usia terpaut sembilan tahun di sambut oleh Robi. Iyus, dan Asep Sunandar yang terlebih dahulu keluar dari mobil.


"Apakah di rumah sakit ini Nyonya Agista di bawa oleh Hendra dan Hendri.?" Tanya Pemuda itu.


"Bener Nak Awan. Sebelum nya Tuan Besar dan Nona Muda Friska sudah berada di ruangan Unit Gawat darurat dan sudah menghubungi saya, memberitahu bahwa Nyonya Besar sedang dalam penanganan Dokter." Jawab Robi.


"Hmmmm." Ayo kita masuk. Tuan Muda mari." Ajak Awan. Silahkan Adik ku." Balas nya seraya mengangguk.


Begitu Awan dan Tuan muda tiba. Tedi Ferdiansyah tersenyum sementara Friska menghampirinya seraya memeluk dengan Isak tangis bahagia.


"Awan. Terima Kasih. Terima Kasih banyak. Friska terisak dalam pelukan seorang pemuda.


"Sama sama Kak Friska. Berterima kasihlah kepada Hendra dan Hendri bersama Iyus dan Asep dan yang lainnya, yang telah membawa Ibu kakak dari sekapan orang jahat." Ucap Awan seraya mengelus punggung Friska.


Friska pun lalu melepaskan pelukan nya. Dan langsung menghampiri kedua pemuda yang di bawa oleh Awan. Sementara Excel sedang memeluk Tedi Ferdiansyah Ayah nya dengan balutan air mata.


"Tuan Besar bagaimana keaadaan Nyonya Agista.?' Tanya Awan setelah mendekat kearah Ayah dan anak yang sedang berpelukan.


Tedi melepaskan pelukan Excel dan menatap kearah pemuda yang bertanya dengan sorot mata yang berkaca-kaca.


"Alhamdulillah. Nak. istriku tidak kenapa napa. Hanya pingsan karna terkuras tenaganya, kata salah satu perawat, tapi baru beberapa menit Dokter masuk untuk memeriksa nya." Jawab Tedi Ferdiansyah.


"Mudah mudahan Nyonya Agista tidak terjadi kenapa napa." Ucap Awan dengan di akhiri kata Amiin dan tangannya Ia usapkan keseluruh wajahnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian. Tampak seorang dokter dan para staf keluar dari ruangan tempat Nyonya Agista di periksa. Langsung di sambut oleh Tedi Ferdiansyah dan kedua anaknya.


"Dokter....... Bagaimana dengan keaadaan Ibu saya.?" Tanya Excel.


"Maap sebelumnya dengan siapa saya berbicara dan apa hubungan anda dengan pasien.?" Tanya Sang Dokter tersebut.


"Nama saya Excel Ferdiansyah dan pasien adalah Ibu kandung saya. Oh iya...... Yang di samping kanan adalah Ayah saya Tedi Ferdiansyah dan yang di samping kiri adalah Adik saya Friska Ferdiansyah." Kata Excel seraya menunjuk memakai jempol kepada ayah dan adiknya.


"Begini Pak Excel. Alhamdulillah saat ini pasien dalam keaadaan baik baik saja. Sebentar lagi juga akan siuman. Untuk sementara waktu jangan di berikan pertanyaan pertanyaan tentang seputar kejadian, itu akan mempengaruhi mental dan pikirannya. Serta jiwa nya terguncang, peran dari pihak suami dan kedua anaknya harus bisa melupakan kejadian yang menimpa pasien." Ucap Sang Dokter memberi arahan kepada mereka bertiga.


"Baik......... Dok...... Terima Kasih banyak." Jawab Excel. Sedangkan Dokter itu mengangguk dan meninggalkan mereka.


Tak lama setelah itu tampak asisten dokter keluar dari ruangan unit gawat darurat untuk memindahkan Nyonya Agista dari ruangan itu.


Melihat keaadaan istri Tedi Ferdiansyah baik baik saja. Merasa lega dalam hati.


"Tuan Besar. Tuan Muda. Dan Nona Muda Friska serta Tuan Robi. Saya bersama beberapa orang orang ku ijin pamit untuk kembali ke rumah nya masing masing." Ucap Awan dengan membungkuk hormat. Akan tetapi buru buru di cegah oleh Tedi Ferdiansyah.


"Nak Awan. Tak usah membungkuk begitu. Bagiku kau adalah penolong ku dan anakku. Yang dapat pelukan dari saya, dan kedua anakku." Ucap Tedi langsung memeluk nya.


"Terima Kasih Tuan. Semua sudah kehendak illahi. Aku dan semua orang orang ku. Hanya pelantara dan jalan yang di tugaskan untuk menolong kesulitan keluarga Tuan." Ucap nya lalu melepaskan pelukannya.


"Anakku Muhammad Awan Pratama. Setelah istriku sembuh dan kembali nya keluarga ku ke Kota Jakarta. Kalian semua yang telah berjasa kepada keluarga ku. Saya mengundang untuk datang ke Mansion yang ada di Jakarta Minggu depan." Kata Tedi Ferdiansyah kepada mereka semua yang ikut andil dalam pembebasan istrinya.


Jawaban serentak dari mereka dan anggukan kepala dari Awan menandakan akan datang dalam undangan dari pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group.


Perpisahan di pagi hari itu dan ucapan rasa terima kasih yang di berikan oleh Awan kepada beberapa murid senior Aden Haruman dan anaknya Opan melepas kepergian nya. Sementara Asep Sunandar dan Iyus Saputra beserta Hendra dan Hendri ikut bersama Awan untuk beristirahat di rumahnya yang berada di perumahan elit Leles Residance.

__ADS_1


#################


Mira. Kiara apakah kalian berdua merindukan sosok sahabat kita. setelah beberapa warga di kampung kita mempitnah nya. Bahwa Awan sendiri yang telah menyantet Ayah nya sehingga perut dan kaki nya membesar dan oleh dirinya juga dapat di sembuhkan." Ucap Irma di sela obrolan pagi ketika beristirahat dari lari pagi nya di hari Minggu itu.


Di Desa pemuda yang di tempati seperti biasa nya bila hari Minggu tiba. Orang orang yang ada di kampung Situhiang, atau pun Babakan Situ dan kampung lainnya. Tumpah ruah ke jalan Pramuka sekedar untuk lari pagi atau pun menikmati kesegaran udara nya menuju waktu siang. Terutama bagi ketiga sahabatnya Mira dan Irma serta Kiara.


Kiara meneguk air minum dalam kemasan botol. Setelah itu menyerahkan kepada Mira yang bergantian untuk meminumnya sebelum menjawab pertanyaan dari Irma yang bertanya seputar sahabat nya itu.


"Entahlah Irma. Semenjak kedua Orang Tua ku termakan oleh pitnah yang di ucapkan oleh keluarga Nabil Nur Fadillah. Mereka berdua melarang keras aku untuk menghubungi atau sekedar mengirim pesan Chat media. Bahkan Orang Tua ku melarang untuk melewati rumah'nya bila aku mau ke warung." Jawab Kiara dengan mata yang menatap kearah muda mudi yang berjalan di pagi hari itu.


"Kenapa bisa sama ucapan Orang Tua mu. Ayah ku melarang diriku untuk melewati rumah Bu Lisnawati bila mau ke warung atau pun ke jalan." Timpal Mira.


Berbeda dengan Irma. Orang Tua nya tidak melarang. Namun untuk berkomunikasi dengan Awan Ia tidak di bolehkan.


"Aku tidak mungkin membantah perkataan Orang Tua ku." Ucap Kiara. Aku pun sama Irma." Sahut Mira.


"Tapi.................! Irma ucapan nya di potong oleh Kiara.


"Tidak ada tapi tapian. Kita berdua percaya akan ucapannya kedua Orang Tua. Demi kebaikan kita.


"Bukan begitu. Kiara, Mira. Seandainya pitnah itu tidak terbukti. Apa yang akan kau lakukan." Ucap Irma kecewa dengan pemikiran dangkal kedua sahabatnya.


"Semua sudah nyata dan aku melihat dengan mata kepala ku sendiri. Penyakit Ayah nya Awan bisa di sembuhkan oleh kehadiran Awan sendiri." Ucap Kiara teguh dengan pendirian nya.


"Terserah loe saja. Irma beranjak pergi meninggalkan mereka berdua dengan hati penuh rasa kecewa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2