Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Mereka Berdua Yakin Akan Berhasil Agus dan Engkos


__ADS_3

Pak Engkos langsung membuka pintu mobilnya dan mulai berkata.!!


Berapa banyak orang yang kau bawa. Mata nya menatap hanya ada dua orang preman saja.


"Kita di sini dua orang bos.!! Tapi empat pagi sedang berada di warung sambil minum kopi." Tunjuk salah satu ketua preman, Mata Engkos Kosasih pun langsung menatap kearah telunjuk jari yang di tujukan.


"Bagus." Ucap nya dengan seringai kecil penuh dendam di wajah lelaki setengah tua itu.


Kapan kita semua mulai mengeksekusi korban. Berapa orang yang harus di bantai.?" Tanya Preman itu.


"Ketika mereka sudah terlelap dalam tidur, perkiraan pukul satu dini hari waktu yang pas untuk kalian mengeksekusi.!! Hanya ada empat penghuni di rumah itu. Dua di antaranya kau habisi dan dua lagi anak dan cucunya biarkan mereka hidup dan bawa ke gudang kosong tempat penyimpanan ayam kampung milikku. Apakah kau mengerti.!!


"Siap bos.!! Lalu kedua Preman itu beranjak pergi menghampiri empat temannya yang berada di warung kopi malam itu.


Kosasih sendiri pun meninggalkan parapatan itu, dan kembali menuju rumah Mbah Wongso dengan membawa beberapa makanan penghangat di malam itu.


"Hahahaha malam ini kau Lara akan merasakan bagaimana rasa nya penolakan sesuatu yang ingin aku capai." Ucap Kosasih di dalam mobil dengan tawa yang terbahak-bahak.


******


"Kang Usep, Opan dan yang lainnya. Mohon maap kalian menunggu terlalu lama." Sapa Awan setelah sampai di hadapan sembilan orang di warung sate itu.


"Ahk...... Tidak apa-apa santai aja Awan.! Jawab Kang Usep murid pertama Abah Aden Haruman.


"Sebaiknya kita mengatur rencana jangan di sini, karna terlalu ramai. Bagaimana kalau kita buka Vila yang tidak jauh dari lokasi tempat dimana kita akan bergerak." Ucap Awan memberi saran.


Kang Usep menatap kearah Boim dan Opan......! Lalu menjawab saran yang di berikan oleh pemuda yang masih berdiri.


"Itu lebih baik.........!! Awan ayo kita berangkat." Ajak Usep kepada yang lainnya.

__ADS_1


"Opan. Bayar dulu, makan kalian sekalian beli rokok dan kopi di supermarket." Titah Awan lalu memberikan uang lembaran kertas warna merah sepuluh lembar.


"Ok siap.!! Jawab Opan menerima uang dari Awan, lalu beranjak jalan ke meja kasir. Sementara pemuda itu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Hendra dan Hendri untuk menyiapkan Vila yang tak jauh dari Gunung Batu.


Tak lama kemudian. Anak dari gurunya yang bernama Opan sudah beres semuanya membayar makan dan membeli rokok serta kopi. Mereka pun langsung pergi keluar menuju parkiran motor di warung sate tersebut.


"Dreet.......... ! Dreet............! Notifikasi pesan masuk bergetar di saku celana Awan, ketika hendak menghidupkan motor nya.


Kiriman serlock dari Hendra, menandakan Vila sudah ready dan mereka berdua menunggu di vila itu. Lalu mengklik Serlock yang di berikan untuk di teruskan kepada aplikasi google maps, terlihat jelas arah jalan dan hanya 35 menit sampai ke lokasi tujuannya.


Iring iringan motor matic dengan merek dan tipe yang berbeda di malam itu melaju meninggalkan warung sate membelah jalanan menuju daerah kawasan Gunung batu yang ada di pinggiran kota Cipanas.


Sementara di depan iring iringan motor matic tersebut. Yamaha Jupiter MX pengemudi itu tersentak kaget setelah salah satu mobil matic menyalipnya dengan kecepatan tinggi. Sangka pengemudi itu murid dari Aden Haruman tetapi, setelah di lihat dari pakaian nya. Ternyata bukan.!!


"Hmmmmmmmmm''. Apakah dia cari mati cara menjalankan motor nya seperti kesetanan." Gumam Awan dalam perjalanan menuju Gunung Batu itu.


Empat puluh menit perjalanan mereka menggunakan sepeda motor sudah sampai titik lokasi yang di berikan oleh Hendra. Mereka berdua kini sudah menunggu kedatangan nya.


"Kak..... Hendra makin cantik aja." Goda Awan seraya melepaskan helm nya dan tersenyum genit kepada lelaki yang menyapa nya.


"Terima Kasih Bos ku yang ganteng dan suka menggoda." Manja Hendra, membuat Awan bergidik ngeri.


*******


Di lokasi Villa mewah tempat Nyonya Agista di sekap. Robi dan beberapa anak buahnya dengan di bantu oleh anak buah Awan Pratama yaitu Asep Sunandar dan Iyus Saputra sedang mengintai di lokasi lokasi yang lumayan tidak ada yang mengetahuinya.


Sementara di dalam ruangan Vila tersebut Nyonya Agista yang sedang keaadaan terikat mulut tertutup lakban. Seketika bergidik ngeri di saat terdengar suara beberapa mobil datang dan terdengar langkah kaki menuju dirinya.


Bob Hidayat dan Bos Haikal bersama lima anak buah nya menghampiri sandera yang di sekap nya itu.

__ADS_1


"Pak Bob anda sudah datang.?" Tegus satu suara dari atas dengan suara sedikit keras. Terdengar jelas di telinga mereka dan telinga Nyonya Agista.


"Tuan Besar." Ucap Bob mengangguk. Haikal hanya menatap kearah lelaki yang berdiri di lantai atas. Mungkin itu Bos nya Pak Bob." Ucap Haikal dalam hati.


"Pak Bob mari naik ke atas kita akan minum kopi seraya menunggu semut kecil itu datang dan menghabisi nya.! Titah Agus Ferdiansyah.


"Deg.......... Jantung Agista berdebar kencang.! Mendengar perkataan dari adik iparnya. Sial bagi dirinya tidak bisa berkata karna mulutnya tersumpal lakban.


"Bajingan............! Kau Agus." Umpat hati Agista.


"Terima Kasih. Tuan Besar.!! Bos Haikal. Ayo kita keatas." Ajak Bob. Menoleh kearah ketua Preman pembunuh bayaran itu.


"Mari Pak Bob.......... Silahkan." Jawab Bos Haikal mempersilahkan untuk jalan terlebih dahulu. Bob pun mengangguk.


Kelima Anak buah Preman pembunuh bayaran hanya menunggu di luar berbaur dengan pengawal dari Agus Ferdiansyah, untuk berjaga jaga dan bila anak dari Tedi Ferdiansyah datang segera memberi tahukan.


Kini mereka bertiga sedang duduk di teras luar ruangan atas mengarah kepada posisi jalan.


Bob Hidayat pun langsung membuka obrolan pertama nya dengan rasa penasaran kepada Supit dan Iwan sampai saat ini mereka berdua tak bisa di hubungi. Yang di rasakan oleh Agus pun sama dengan pikiran lelaki berusia 35 tahun itu.


"Tuan Besar. Kenapa mereka berdua tidak bisa di hubungi. Bagaikan di telan Bumi. Sementara sebelum nya mereka sangat mudah untuk di hubungi.?" Tanya Bob Hidayat dengan alis berkerut.


"Pak Bob............ Pertanyaan yang barusan kau katakan kepada ku. Saya juga penasaran dan entah kemana mereka berdua saat ini. Di saat hal penting. Mereka menghilang. Bener benar tidak bisa di maapkan untuk mereka berdua. Supit dan Iwan." Jawab Agus Ferdiansyah dengan mengepalkan tangannya.


"Betul sekali. Tidak konsekuen Tuan Besar." Kesal Bob Hidayat.


"Biarkan saja mereka berdua Pak Bob. Sebaiknya kita pokuskan malam ini untuk membunuh semut kecil itu dan pengalihan perusahaan Future Nugraha Company Group. Dengan sandera ada dalam genggaman tangan ku." Ucap Agus dengan yakin malam ini akan berhasil.


"Siap Tuan Besar.!! Bob Hidayat mengangguk dan menjawab.

__ADS_1


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.


Bersambung.


__ADS_2