
Keesokan harinya Bob Hidayat dan Holik Simatupang terbangun dari tidurnya di saung tempat para tamu menunggu orang yang di tuju nya. Sementara Betmen dan Dika sudah terbangun dari pagi hari dan mereka sedang berada di warung yang tak jauh dari mereka berdua yang tertidur.
"Mas........ Pulas amat tidur nya.? Tanya satu orang yang malam nya ngajak ngobrol.
Mereka berdua hanya tersenyum tanpa menjawab lalu bangun dari tidur.
"Maap kalau kamar mandi dimana ya,? Tanya Bob,
"Di belakang rumah ini mas." Jawab lelaki yang tadi bertanya.
"Makasih......! Pak......! Jawab Bob.
"Holik.......! Ayo kita ke kamar mandi dulu cuci muka." Ajak Bob.
"Sebentar, Bob nyawa gue belum kumpul sepenuhnya. Loe aja duluan." Kata Holik.
"Yaa..... Sudah gue duluan.' Kata Bob seraya beranjak turun dan pergi ke tempat dimana di belakang rumah terdapat Balong untuk mencuci muka.
Sementara di salah satu warung yang tidak jauh dari tempat mobil terparkir, Dika dan Betmen sedang duduk di kursi panjang warung seraya menikmati kopi dan gorengan yang di sediakan oleh penjual warung kopi tersebut.
"Betmen.........! Emang tujuannya mereka berdua kesini sebenarnya mau ngapain.? Tanya Dika.
"Seruput.... ahk....... Nikmat...... Kurang tahu Dika." Jawab Betmen seraya lidahnya ia gerakkan dari kiri ke kanan karna merasakan nikmatnya kopi Hitam.
"Ahk.........! Sue loe di kira tahu, maksud tujuan datang ke kaki bukit gunung Slamet ini.
"Sumpah........! Gue gak tahu cuma ikut saja." Kata Betmen.
"Yaa....... Sudah kita temui mereka, Ajak Dika.
"Ayo.......! Loe makan apa saja?" Tanya Betmen.
"Gue kopi sama goreng pisang tiga." Jawabnya lalu beranjak pergi meninggalkan Betmen di warung yang sedang membayar kopi nya.
"Bob, si Holik kemana.?" Tegur Dika yang sedang berjalan kearahnya.
"Dia lagi mandi di rumah belakang," Jawab Bob Hidayat.
"Betmen kemana.?" Tanya Bob.
"Tuh.......! Dia nonghol....." Ucapnya.
__ADS_1
"Loe mau ikut sama kita berdua naik keatas gunung atau tunggu di sini.?" Tanya Bob.
"Hmmmmm." Dika, melirik kearah Betmen, dia yang di lirik pun mengangguk....! Ok." Saya ikut....! Jawab Dika.
"Yaa.......! Sudah......,! Siap siap saja kita berangkat sebentar lagi." Kata Bob.
Setelah Holik beres dengan aktivitas nya, yaitu mandi dan bab lalu kembali' lagi keposisi dimana Bob Hidayat menunggu di saung tempat beristirahat.
"Ayo sudah siap....... Semua nya." Ajak Bob.
"Siap." Kata mereka bertiga serentak.
*******
Perjalanan kerumah Mbah Sardjito melewati hutan hutan yang angker bila pada malam hari. Satu jam lama nya mereka pun kini sampai di rumah anaknya Mbah Sardjito dan meminta antar ke rumah ayahnya yang bergelar dukun sakti yang ada di kaki gunung itu.
"Mas Jono, saya yang kemarin malam nelepon." Kata Bob setelah sampai dan terlihat lelaki itu sedang berada di halaman rumah nya.
"Ohk....... Ini Pak Bob Hidayat." Jawab Jono anaknya Mbah Sardjito.
"Benar sekali mas Jono." Kata Bob.
"Ayo masuk, Pak Bob." Ajak Jono.
"Apakah tidak capek Pak Bob, baru sampai sudah minta langsung ke tujuan." Ucap Jono.
"Hehehehe." Cape akan hilang bila tujuan belum terlaksana." Jawab Bob seraya tersenyum.
"Yaa........ Sudah ayo kita berangkat." Ajak Jono kepada mereka yang baru datang.
"Lest' Go' kemon..........! Serentak mereka menjawab lalu mengikuti lelaki berusia 25 tahun itu.
Tak lama kemudian, mas Jono membawa mereka berempat kerumah Mbah Sardjito yang ada di pinggiran hutan angker tepatnya di kaki Gunung.
Setelah melewati sungai yang begitu jernih airnya dan naik keatas bukit sedikit akhirnya mereka sampai di gubug reot yang nampak menyeramkan dari luar.
"Pak Bob dan bapak bapak yang lainnya saya tunggu di luar dan yang punya maksud tujuan, harap sendiri sendiri yang masuk nya." Kata mas Jono mengingat kannya.
Bob Hidayat pun melangkah menuju Gubug reot itu. Baru aja Bob Hidayat mau mengetuk pintu tapi tiba tiba saja pintu tua itu terbuka.
"Kreak..............!
__ADS_1
Terdengar suara pria tua yang menyambut kedatangan Bob Hidayat dari dalam gubug tua.
"Permisi Mbah saya mau ada perlu? Ucap Bob Hidayat dengan suara bergetar karna ketakutan masuk kedalam gubug Mbah Sardjito sendirian.
"Duduk lah Nak, tenangkan hatimu dulu baru setelah itu berbicara pada ku." Kata Mbah Sardjito dengan mengelus janggut putih di dagu.
"Anu Mbah.... sa... Saya mau..... Itu saya mau em..... tidak jelas Bob Hidayat bicara nya tergagap karena semakin panik mengungkapkan tujuan nya datang ke tempat Mbah Sardjito.
"Sudah Nak tidak usah di teruskan ucapan mu, aku sudah paham tujuanmu datang ke tempat ku." Tukas Mbah Sardjito dengan seringai kecil di wajahnya.
Wajah Bob Hidayat nampak terkejut, lidah nya mendadak kelu tidak berucap lagi, karena Mbah Sardjito bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Bob Hidayat.
Kau tidak usah terkejut kenapa aku bisa mengetahui apa yang kau pikirkan saat ini. yang mau aku tahu sekarang apakah kau sungguh yakin dengan niat mu?" Tanya Mbah Sardjito menatap tajam kearah Bob Hidayat.
"Iya Mbah saya sudah yakin dengan keinginan saya itu." Jawab Bob Hidayat yang sudah tidak bergetar lagi bibir nya.
"Baiklah apakah kau sanggup dengan resiko yang harus kau tanggung? Tanya Mbah Sardjito dengan tegas dan suara yang berat.
"Mbah apakah setiap yang aku minta akan ada resiko nya.?" Tanya Bob Hidayat dengan wajah cemas.
"Tentu saja Nak semuanya ada resiko nya jika kau melanggar setiap syarat yang aku berikan." Terang Mbah Sardjito seraya menghidupkan dupa yang ada di depan nya.
"Kalau boleh tahu syarat apa yang harus saya lakukan bila keiinginan saya terlaksana.?" Tanya Bob dengan mengenyitkan dahi nya.
Setiap santet yang akan saya kirimkan kepada orang yang kau mau kau harus memberikan sesajen dan dua ekor ayam cemani di malam Jum'at kliwon, ritual itu harus di lakukan tepat pukul 00:00 jika kau sampai melupakan syarat itu maka santet akan berbalik menyerang dirimu dan juga keluarga mu sendiri." Ujar Mbah Sardjito dengan menatap tajam kepada Bob Hidayat.
"Baiklah Mbah saya mengerti, yang penting adalah orang itu mati." Ucap Bob Hidayat dengan penuh amarah.
"Untuk permintaan yang kedua, kau harus bisa menaburkan air yang saya berikan tepat di mana wanita itu bisa melewati air yang kau taburkan." Ucap Mbah Sardjito dengan senyuman manis yang terlihat gigi nya ompong.
"Siap Mbah saya paham." Jawab Bob dengan hati yang berbunga bunga.
"Kalau begitu apakah kau sudah di bawa tanah yang ada di halaman rumah orang yang akan kau santet.?" Tanya Mbah Sardjito.
"Sudah Mbah........! Ada di luar." Jawab nya.
"Yaaa.......! Sudah bawa kesini.! Pinta Mbah Sardjito.
"Baik'......." Mbah, lalu beranjak pergi keluar.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
__ADS_1
Bersambung.