Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Haruman Jaya Diningrat berangkat Ke gunung Slamet


__ADS_3

Tuan Besar saya undur diri untuk kembali kerumah Orang Tua saya." Ucap Awan setelah mengantarkan Tedi Ferdiansyah kembali ke rumah nya.


"Nak Awan untuk acara besok bagaimana.?" Tanya Tedi Ferdiansyah.


"Tuan Besar tidak usah khawatir dan cemas saya sendiri yang akan langsung mengintai Tuan Muda Excel untuk meninjau lokasi perumahan itu dari jarak jauh. Sampai dia kembali ke kota Besar." Jawab Awan.


"Terima Kasih Banyak Nak sebelumnya." Ucap Tedi Ferdiansyah dengan seringai kecil yang manis.


"Tapi Tuan Besar tentang saya akan memantau dan mengintai Tuan Muda Excel jangan sampai orang lain' tahu.........!! Terutama Tuan Robi asisten dari Tuan Besar jangan di beritahu terlebih dahulu." Pinta Awan.


Memang nya kenapa Nak. Bukan kah itu lebih baik para pengawal ku mengetahui nya.?" Tanya Tedi Ferdiansyah penasaran dengan pola pikir anak itu.


"Hehehehe......... Tidak apa apa yang penting Tuan muda selamat dari intaian musuh." Kata Awan singkat.


"Baiklah kalau kamu sudah berbicara begitu. Aku hanya mengikuti nya." Pasrah Tedi Ferdiansyah.


"Hehehehe........ Awan pulang ahk Tuan tidak ada habis nya kalau terus mengobrol." Kekeh pemuda itu cekikikan.


"Yaaa........ Sudah sana pulang. Awan pake saja mobil saya. Biarkan motor kamu di simpan di sini." Titah Tedi Ferdiansyah.


"Siap Gerak........ Komandan tertinggi." Kekeh Awan seraya berjalan keluar rumah. Membuat Tedi Ferdiansyah geleng geleng kepala nya.


Mobil Pajero sports berwarna putih pun keluar dari halaman rumah tuan Besar Tedi Ferdiansyah di sore hari itu. Membelah jalanan menuju jalan utama labuan Cianjur Bandung.


Hanya kurang lebih 30 menit perjalanan Mobil yang di kemudikan oleh pemuda yang usia nya genap 16 tahun itu membelokkan mobil tersebut ke jalan desa yang menuju rumah orang tuanya.


Tak lama setelah itu mobil mewah dengan keluaran terbaru itu pun berhenti tepat di samping rumah milik Orang Tua Nabil Nur Fadillah. Seorang gadis yang menyukai pemuda itu tapi terhalang karna kedua orang tua dan kakak nya yang sangat membenci karna status pemuda itu yang jauh berbeda dengan keluarga Nabil Nur Fadillah.

__ADS_1


Terlihat oleh pemuda itu beberapa ibu ibu dan bapak bapak masih berada di dekat rumah gubuk yang terlihat usang dan memprihatinkan, mereka masih ingin melihat keaadaan suaminya Lisnawati yang terkena penyakit yang sangat di luar nalar.


Bisik membisik pun terdengar bahwa penyakit yang di alami oleh Hilman ayah kandung nya Awan itu terkena guna guna oleh anak nya sendiri. Karna menolak menerima kehadiran seorang ayah yang sudah meninggalkan selama tiga tahun lamanya.


Lantas apakah Lisnawati dan Siti Romlah beserta kakak dan adiknya percaya dengan pitnah yang di tunjukan kepada anak nomor tiga tersebut.


Sudah jelas mereka tidak percaya, karna Lisnawati dan Siti Romlah sudah mengetahui sebelumnya. Ancaman yang di berikan oleh Titin Kharisma waktu mereka berdua di temani oleh Bu Dewi dan pengacara secara terang terangan mengancam dan akan mengirim guna guna kepada keluarga nya.


Dampak pitnah yang di terima oleh pemuda itu. Kini ketiga sahabatnya Mira dan Irma serta Kiara di larang keras bergaul dengan anak Lisnawati dan tidak di bolehkan untuk sekedar mengirim pesan atau telepon oleh Orang Tua Nya.


"Hmmmmmm.'' Kampung ku menjadi trending topik tentang Muhammad Awan Pratama menyantet ayah nya sendiri." Ucap Awan dalam dirinya sendiri.


"Masa bodoh biarkan saja orang mau berkata apa yang penting gue tidak merugikan mereka." Ucap Awan langsung turun dari mobilnya.


Tatapan tatapan para tetangga dan warga lainnya kepada pemuda yang baru turun dari mobil itu terlihat sinis dan tajam seakan akan mau membunuh nya.


"Huh......... Laga nya itu orang. Mobil orang lain juga dia bawa. Untuk sekedar pamer di kampung nya." Cibir Seorang wanita yang sedang berdiri menghadap kearah rumah itu.


"Betul sekali Bu Komariah......... Dia kan jarang pulang........ Ihk..... Takut ya awas loe Bu Komariah nanti di tumbal kan sama pemuda itu." Kata Bu Salamah Ibu dari Nabil Nur Fadillah.


"Astaghfirullah alladzim......... Ibu ibu tidak boleh berburuk sangka terhadap Nak Awan. Lebih baik berbalik sangka lah." Ucap Ustadz Hilal.


"Pak Ustadz Hilal yang terhormat. Kita kita bukan berburuk sangka tapi ini Survei yang membuktikan." Ucap Salamah dengan seringai dendam menatap kearah pemuda itu yang sedang berjalan masuk kedalam rumah nya.


"Anakku........ Sudah pulang..... Yang sabar ya biarkan mereka berbicara sesuka hati yang penting kita sekeluarga tidak termakan ucapan ucapan mereka yang tidak suka terhadap keluarga kita." Kata Lisnawati memberi nasehat kepada anak nya yang baru datang.


"Ambil pusing amat Bun. Biarkan saja mereka mau berkata apapun. Ehk bagaimana keaadaan ayah bunda.?" Tanya Awan.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Ayah sudah mendingan, cuma perutnya dan kedua kakinya belum berubah seperti semula." Kata Bunda.


"Mungkin Genderuwo nya masih menempel di badan Ayah. Kata Abah Aden Haruman nanti setelah melenyapkan dukun santet nya kaki dan perut ayah kembali normal." Ucap Awan.


"Mudah mudahan Nak. dan ayah segera sembuh serta kembali seperti sedia kala." Ucap sayu Lisnawati.


"Bunda yang sabar ya.....!! Ehk nenek sama teh Dena kemana.?" Tanya Awan.


"Nenek dan kakak ipar mu sedang kerumah nya mengambil pakaian dia mau nginap di sini dan akan mengajikan untuk ayahmu." Ucap Lisnawati.


"Ohk bagus bunda kalau begitu mah.!! Kalau begitu Awan mau mandi dulu dan belum melaksanakan ibadah solat ashar." Katanya langsung berjalan menuju kamar nya untuk membawa handuk.


"Anakku Solat nya di rumah aja. Teriak Lisnawati kepada anaknya yang sudah memasuki kamar mandi.


"Siap.............!!


***********************************


Di kaki Puncak Gunung Gede seorang lelaki paruh malam itu sedang bersila dengan membaca beberapa mantra untuk menembus alam ghaib dan akan langsung meleset terbang menuju Gunung Slamet yang akan bertarung melawan Dukun santet yang bernama Mbah Wongso.


"Wuzzzzzzz.............. Lelaki tua yang bernama Haruman Jaya Diningrat itu pun melepaskan Sukma dari tubuh nya dan mulai melangkah kan kaki nya menuju Gunung Slamet di malam itu.


Tidak lama setelah itu, setelah Abah Aden Haruman tiba di puncak Gunung Slamet. Beberapa makhluk ghaib yang ada di sana semua membungkuk hormat dan tidak berani mengangkat wajah nya kepada lelaki yang baru datang itu.


Dengan suara yang menggelegar bagaikan petir di waktu hujan. Aden Haruman pun berkata.


"Wongso. Aku tunggu kau sekarang juga di sini. Bila kau tidak datang akan ku cabut nyawa mu sekarang juga." Teriak Aden Haruman.

__ADS_1


"Hai.......... Wongso Apakah kau takut dan bersembunyi hingga tak menampakkan batang hidung mu." Teriak lagi Aden Haruman. Karna yang di tunggu tunggu belum muncul juga.


Bersambung.


__ADS_2