Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Janji Nabil


__ADS_3

Bibit dari dendam ialah kemarahan yang meluap luap dan tidak mampu dilenyapkan karena hawa nafsu. Jika terus menerus bergejolak dalam hati, maka akan terus timbul dendam dan hanya bisa dilenyapkan oleh orang itu sendiri. Amarah yang berlebihan sama sekali tidak dianjurkan dalam islam dimana Rasul selalu mencontohkan bahwa beliau dalam keadaan marah pun selaku berlaku dengan cara yang baik dan tidak pernah menyimpan dendam.


"Ingat Anakku. Dendam itu tidak akan mendatangkan kebaikan kepada dirinya, maupun akan merugikan diri sendiri dan orang lain." Bu Dewi memberi nasehat kepada Lara layaknya seorang ibu kepada anaknya.


"Terima Kasih Bu.! Atas nasehat nya. Lara bersedia dan menyerahkan semua kejahatan yang di lakukan oleh Engkos Kosasih dan para preman itu kepada pihak kepolisian. Insyaallah Lara akan berusaha meninggalkan rasa dendam ini, walaupun berat dan sakit akan kejadian yang menimpa dirinya." Isak tangis wanita itu dalam pelukan Bu Dewi.


"Terima Kasih Nak bila kau telah bersedia. Bersabarlah semua akan indah pada waktunya.!! Kata Bu Dewi bijak seraya mengelus ngelus punggung Lara.


"Bu. Kabar Tuan Muda Awan bagaimana.?" Tanya Lara setelah pelukan itu terlepas.


"Berdoa lah dan meminta kepada sang pencipta agar Tuan Muda mu segera sadar." Kata Bu Dewi menahan Air matanya, bila orang orang bertanya tentang seorang pemuda yang telah membantu roda perekonomian nya.


"Iya Bu. Bolehkah Lara melihatnya ada sesuatu yang harus di bisikan kepada telinga nya, mudah mudahan Tuan Muda segera sadar." Pinta Lara.


"Tapi Nak keaadaan mu.?" Tanya Bu Dewi khawatir.!


"Lara tidak apa apa Bu. Boleh ya Bu." Pinta wanita itu memelas.!


"Yaa.!! Sudah. Ibu panggilkan dulu dokter ya." Kata Bu Dewi. Lara pun mengangguk tersenyum.!


****

__ADS_1


Tak lama kemudian setelah Siti Lara dinyatakan sembuh oleh dokter dan di bolehkan pulang. Ia bersama Bu Dewi berjalan keluar menuju ruangan rawat inap yang ada di samping tempat dia di rawat.


"Bu Dewi Teh Siti Lara." Sapa Akang satu berjaga di luar pintu masuk ruangan yang di tempati oleh Awan.


"Kang Syarif. Tampak di dalam banyak orang ada siapa saja.?" Tanya Bu Dewi.


"Menjawab Anda Bu Dewi.!! " Di dalam ruangan baru saja kedatangan Tiga gadis yang di bawa oleh Bu Romlah. Putri dan putra dari Bu Dewi juga ada dalam.!!


"Mungkin Kiara dan Irma serta Mira. Bagus kalau begitu akan semakin cepat anakku Muhammad Awan Pratama sadar dan terbangun dari tidur nya.!!


"Baiklah kalau begitu saya masuk dulu.! Silahkan Kang Syarif berjaga kembali." Titah Bu Dewi.


"Siap Bu Dewi.!!


"Bunda.! Bu Dewi..! Bun.! Sapa beberapa orang yang ada dalam ruangan rawat inap tempat pemuda itu terbaring.! Tapi segera Bu Dewi memberi kode dengan jari telunjuk na untuk diam!


"Masih betah kah kamu seperti ini anakku. Apa kamu tidak merindukan semua orang? Mereka semua sangat merindukan mu. Merindukan keusilan mu, merindukan ketengilan, merindukan kemarahan mu dan merindukan canda tawa mu..... Bu Dewi menghela napasnya pelan. Ia sangat merindukan sosok Awan. Anak lelaki yang pertama kali Ia menjadi guru pembimbing dan sangat terkejut akan kemampuan otak dan cara kedewasaan yang di tunjukan kepada nya.


"Apa kamu tahu anakku......... Nabil dan Bunda mu Lisnawati sepanjang waktu selalu bersedih melihat keaadaan mu saat ini. Lihat lah......... Lihat......... Orang orang yang berarti buat mu kini sudah hadir di sini, mereka menanti dan merindukan sosok dirimu untuk segera bangun dari tidur panjang mu saat ini..... Tandas Bu Dewi penuh keyakinan bahwa pemuda itu akan sadar.


Lara dan Bu Dewi kini berada di samping ranjang pemuda tampan yang terbaring.

__ADS_1


"Nak..... Bangun lah.! Putra Ibu sudah kembali dari kuliah nya. Ia ingin seperti dirimu, menyembunyikan dunia yang ada dalam genggaman tanganmu, Ia ingin belajar menjadi dirimu. Menjadi seorang pemuda yang banyak di kagumi oleh orang orang. Bu Dewi bercerita panjang lebar tentang anak sulungnya. Tetapi pemuda itu masih saja diam.


Kini Lara membisikkan sesuatu kepada telinga majikannya. Entah bisikan apa yang di ucapkan oleh wanita beranak satu itu. Setelah itu lalu. Ia berjalan kearah Nabil dan Ibu nya Azzahra Masika Fatharani. Lara memberitahukan dengan cara membisikkan kearah telinga mereka berdua. Nabil pun mengangguk mengerti tentang perkataan yang di berikan Teh Lara.


Kini Nabil duduk kembali di samping Awan bersama Bunda Azzahra dan Bu Dewi. Di saksikan oleh ketiga sahabat pemuda itu dan Amel beserta Ibu kandung nya pemuda itu. Entah apa yang akan di katakan oleh Nabil setelah anggukan kepala dari Lara.


"Kak. Awan aku sangat merindukan mu saat ini. Aku juga mencintaimu, bahkan dulu sekarang dan selamanya aku akan selalu mencintai kamu. Jika kamu sadar aku berjanji aku berjanji mengatakan semua isi hatiku kepadamu dan aku ingin menikah dengan mu..........


"Aku akan pegang janji mu. Awas saja jika kamu mengingkari nya........ Nabil bener bener terkejut. Ia yang semula tertunduk seketika melihat kearah Awan yang telah membuka matanya dan tersenyum manis kearahnya.


"Kak Awan sudah sadar?..... Tanya nya tercengang seperti orang bodoh. Awan terkekeh Ia mengelus lembut pipi Nabil kemudian mencubitnya dengan pelan membuat sang empuh pipis meringis.


"Auuhh. Sakit.... Pekik nya mengelus pipi yang di cubit oleh Awan. Nabil kemudian berdiri mencondongkan badannya dan memeluk tubuh Awan dengan pelan.


"Kenapa lama sekali sadarnya.? Tandas Nabil memukul lengan Awan dengan pelan saat usai memeluk pria tampan di depan nya itu.


"Jika bisa memilih aku tidak ingin koma, aku ingin melihat wajah cantik mu setiap saat. Tapi aku kan hanya manusia biasa.... Nabil tersenyum menyadari pertanyaan bodoh nya. Ia kembali duduk dan menggenggam tangan Awan.


"Apa sedari tadi Kak Awan sudah sadar.?..... Tanya Nabil pelan. Dia akan malu jika Kak Awan mendengar semua ucapannya.


Awan melihat seluruh ruangan itu, Tersenyum kearah tiga wanita setengah tua yang menjadi kekuatan nya untuk kembali bangun dari tidurnya. Kiara dan Mira serta Irma ketiga sahabatnya yang sangat berarti bagi pemuda itu pun datang mereka bertiga tersenyum manis.!! Amel dan lelaki yang di sampingnya itu, mungkin Ia anak pertama Bu Dewi yang kuliah di kota Jogja.

__ADS_1


"Saat kamu mencium keningku. Di saat itu Kakak sadar..... Nabil memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Dia benar bener tidak ingin mereka semua melihatnya.


Bersambung.


__ADS_2