Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Penjemputan Bob Hidayat dan Betmen.


__ADS_3

Pagi ceria, kami sambut pagi hari ini dengan semangat. Suasana tak berubah, kota bunga tetaplah indah di mata. Pagi ini terpaksa kami tinggalkan kota bunga dengan sejuta kenangan manis yang telah kami rasakan. Dengan berat hati, kami tinggalkan segala keindahan yang tersedia di kota bunga. Namun, walaupun begitu, tetap saja rasa rindu kami terhadap tempat tinggal lebih menggebu. Meskipun tempat tinggal kami tak seindah kota bunga yg kami kunjungi, tempat tinggal tetap menjadi tempat ternyaman bagi kami.


Rantai Bumi. Kamu tahu nggak kenapa aku suka sekali dengan tempat ini.?" Tanya Engkos Kosasih kepada anak buahnya di pagi hari ini.


"Mungkin bos suka dengan taman taman bunga yang tersusun rapi di kota ini." Jawab Rantai Bumi.


"Anda salah besar. Saya suka dengan tempat ini. Karna satu alasan. Sebelum saya bersama dengan Istri ku yang sekarang. Saya pernah mengenal yang nama nya cinta pertama dan pandangan pertama kepada seorang wanita yang membuat hatiku berdebar kencang saat itu." Kata Engkos Kosasih mengingat masa lalu nya.


"Anjir Si bos berarti nostalgia cerita nya. Bisakah bos menceritakan kepada saya, tentang masa lalu bos bersama cinta pertama nya." Pinta Rantai Bumi penasaran.


"Untuk Apa Rantai Bumi. Itu sama saja, menggali luka lama yang telah aku kubur hidup hidup dalam sebuah kenangan yang tak mungkin aku gapai." Kata Engkos Kosasih pandangan mata nya mengarah kearah hamparan tanaman bunga yang bermekaran.


"Hehehehe. Mohon maap kan hamba ini bos, telah mengungkit masa lalu bos yang sakit itu. Tadinya cerita bos itu menarik, ingin ku Tuangkan dalam plafon novel ini." Ucap Rantai Bumi.


"Tidak apa apa santai aja. Sebaiknya kita kembali ke kampung kita dan menyusun rencana untuk membunuh anak nya Lisnawati yang bernama Muhammad Awan Pratama." Kata Lelaki paruh baya yang di panggil Bos itu.


"Apakah anak buah mu sudah selesai dengan aktivitas mandinya.?" Tanya Engkos lagi.


"Sudah. Bos mungkin sebentar lagi mereka keluar dari kamarnya masing masing." Jawab Rantai Bumi.


Tak lama ketika ketua preman dan bos nya sedang berbincang bincang tentang masa lalu bos Engkos Kosasih di taman bunga nusantara ini. Ke lima anak buah Rantai Bumi pun sudah keluar dari kamar vila mereka masing masing dan berjalan bergerak menghampiri ketua dan bos nya.


"Ayo. Kita kembali lagi ke rumah ku. Bila istri dan anakku bertanya kepada kalian, bilang saja habis survei ayam kampung di kota Purwakarta. Jangan bilang kita habis nginep di vila bersama jablay." Pesan Engkos Kosasih.


"Siap Bos besar itu bisa di atur." Kata mereka serentak.!! Lalu mereka pun langsung masuk kedalam mobil setelah ketua preman dan Engkos Kosasih berpamitan terlebih dahulu kepada penjaga vila mewah itu.

__ADS_1


Dua unit mobil berbeda merek pun bergerak meninggalkan Vila mewah yang di sewa malam itu membelah jalanan di pagi hari menuju siang itu.


Satu jam mereka telah sampai di parapatan lampu merah penghubung jalan utama dan jalan desa. Mobil Suzuki Ertiga tiba tiba berhenti ke bahu jalan pandangan mata nya menatap kearah warung kios yang ia sangat kenal.


Sementara mobil Xenia yang mengikuti dari arah belakang pun ikut berhenti, pengemudi mobil Xenia pun langsung turun dan menghampiri pengemudi mobil Suzuki Ertiga untuk bertanya kenapa berhenti.


"Bos ada apa.?" Tanya Rantai Bumi.


"Kamu masuk perhatikan saja seorang pemuda yang sedang duduk di kios itu." Tunjuk Engkos Kosasih. Pandangan Rantai Bumi pun beralih ke kios tersebut.


*****


Sementara di pagi itu masih waktu yang sama dan jam pun hampir sama, hanya berbeda tempat dan kota saja. Tepatnya di salah satu bukit Gunung Slamet yang berada di provinsi Jawa tengah. Rombongan mobil mobil Toyota Avanza dan Xenia serta mobil Suzuki Ertiga dan yang paling depan Mobil mewah X Fander tiba di sebuah rumah yang berjejer sahung sahung dan area parkir yang lumayan luas.


Setelah mobil itu berhenti, tak lama setelah itu dari arah warung tampak seorang pemuda berusia 28 tahun berlari kearah mobil X Fander untuk membuka kan pintu mobil mewah tersebut.


"Selamat datang di desa kami Bang Jamil." Ucap Pemuda itu setelah lelaki berusia di atas nya turun dari mobil.


"Terima Kasih Mas Imron." Jawab Lelaki itu.


"Sama sama Bos. Apakah mau langsung atau istrahat dulu sekedar minum kopi.?" Tanya Lelaki yang bernama Imron tersebut.


"Sebaiknya langsung ke lokasi dimana mereka berdua berada." Jawab Jamil agar tidak membuang waktu sia sia.


"Baik. Bos mari............!

__ADS_1


"Hmmmmm. Silahkan Mas Imron berjalan duluan.!


"Kalian sebagian ikut dengan saya untuk menjemput Tuan Bob Hidayat dan Betmen. Sisa nya tunggu di sini." Titah Jamil. Sebagian mengangguk dan sebagian mengikuti nya.


Perjalanan kerumah Mas Jono tempat Bob Hidayat dan Betmen sedang bersembunyi di situ akibat menjadi DPO melewati hutan hutan yang angker bila pada malam hari. Satu jam lama nya rombongan orang orang dari kota Jakarta pun tiba di rumahnya Mas Jono yang di antar langsung oleh Mas Imron orang desa kaligiri tersebut. Sial bagi mereka yang baru datang itu. Bahwa dua orang yang sedang di cari sedang bertapa di kaki bukit Gunung Slamet. Mungkin esok baru pulang.


"Bos. Begitu lah kata pemilik rumah ini. Jadi bagaimana apakah mau menunggu di sini atau kita balik lagi.?" Tanya Imron kepada Jamil.


"Sebaiknya. Aku bersama anak buah nunggu di sini saja. Agar nanti pas kedatangan Tuan Bob Hidayat dan temannya bisa langsung pulang bersama." Jawab Jamil dari pada bolak balik capek.


"Baik Bos. Kalau anda sudah berkata demikian. Apakah bos ingin membeli sesuatu untuk pembekalan malam tiba. Karna jauh dari lokasi warung." Kata Imron.


"Boleh..... Kau atur bersama pemilik rumah ini. Beli apa saja makanan untuk pengganjal malam tiba. Ingat jangan di lupakan Kopi dan Rokok." Kata Jamil. Lalu ia merogoh saku celana dan memberikan uang lembar sebanyak dua puluh lembar.


"Siap. Bos. Kita bikin nasi liwet dan ayam bakar malam ini " Kata Imron. Jono. Ayo kita belanja." Ajak Imron kepada anak dukun santet itu.


"Lest' Go'. Ron.! Jawab Jono dengan panggilan khas nya.


"Kemon. Jon.! Mereka berdua dengan semangat pergi meninggalkan Jamil dan beberapa anak buahnya untuk membeli keperluan buat malam ini.


Jamil pun lalu mengeluarkan ponselnya untuk memberi kabar kepada majikannya yaitu Firmansyah, bahwa Bob Hidayat dan Betmen besok baru berangkat dari kota ini menuju Jakarta.


Tak butuh berapa lama balasan dari Firmansyah pun telah di terima oleh Jamil dengan kata singkat ok.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2