Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Meminta Bantuan Dari Murid Mama Sepuh


__ADS_3

Satu Unit Mobil Mewah Marcedez Benz e-class yang sudah di modifikasi dengan Ban Besar dan knalpot racing melesat dengan kecepatan yang sangat cepat membelah jalanan di waktu menjelang senja itu.


Sesampainya di jalan Cibeber Sukanagara. Mobil itu masuk kedalam area halaman Masjid Jami untuk melaksanakan ibadah shalat magrib yang sudah berkumandang di kota itu.


Setelah mobil mewah itu berhenti tepat di samping mobil yang terparkir di area tersebut. Pemuda itu lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada temannya bahwa satu jam lagi Ia akan sampai pada tujuan nya.


Tak lama lima belas menit kemudian balasan dari seorang teman pemuda itu, membalas dan telah di terima oleh Awan yang sudah beres melaksanakan kewajiban nya bagi seorang muslim yang sangat taat.


Muhammad Awan Pratama kini sudah berada dalam mobilnya dan mulai melajukan lagi kendaraan untuk menempuh perjalanan yang mungkin satu jam sampai pada tujuan nya.


Tepat di parapatan yang mengarah menuju jalan Campaka warna, mobil mewah yang di kendarai oleh seorang pemuda itu pun berbelok dan tak lama berhenti tepat di pinggir warung grosir sembako.


"Tut........ Tut....... Tut......... Awan menelepon seseorang setelah mobil itu berhenti.


"Assalamualaikum. Bos. Sudah sampai mana.?" Tanya seorang lelaki yang menjawab telepon masuk malam itu.


"WaallAikum Salam. Tisna. Saya sudah sampai di perapatan Ojeg yang mengarah ke jalan Campaka warna. Tepatnya di depan warung grosir." Jawab Pemuda yang mengendarai mobil mewah tersebut.


"Baik. Bos. Anda tunggu di situ. Saya sekarang kesana." Kata seorang dari sebrang telepon.


"Baik. Tisna. Jangan lama lama." Kata Awan.


"Ok." Bos. Lalu mengakhiri panggilan telepon nya.!!


Sepuluh menit berlalu seorang lelaki berusia 20 tahun sedang berjalan kearah mobil mewah dengan sesekali celingak-celinguk kesana kesini, seolah olah mencari sesuatu.


Tepat di hadapan bahu jalan di depan grosir warung itu, pemuda itu mengeluarkan ponselnya, berniat untuk menelepon seseorang yang di cari nya itu. Namun tiba tiba dari arah belakang seseorang menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Tisna......... Loe cari siapa. Kaya orang linglung." Tegur seseorang dari arah belakang.!!


Pemuda yang di tegur seketika membalikkan badannya. "Ahk...... Bos mengagetkan saja. Sudah tahu saya mencari anda." Jawab Tisna seraya mengusap dadanya.


"Hahahaha. Lagian Lama sih Loe. Jadi saya pergi ke warung dulu untuk membeli sesuatu untuk di jadikan bahan cemilan nanti di lokasi." Kata Seorang pemuda yang di panggil bos itu.


"Kopi Bos. Sudah beli belum.?" Tanya Sutisna biasa di panggil Tisna.


Belum Tisna. Aku hanya beli jajanan untuk anak anak pondok saja. Kopi sama rokok apa saja loe yang beli." Titah Awan lalu memberikan uang berwarna merah tiga lembar.


"Baik Bos." Jawab Tisna lalu melangkah menuju warung grosir. Awan sendiri menyebrang jalan menuju mobil yang terparkir.!!


Setelah selesai dengan membeli beberapa kopi dan Rokok, Sutisna pun langsung keluar menuju mobil mewah yang di kendarai oleh pemuda yang di panggil Bos oleh Sutisna itu.


"Beres. Tisna. Ayo masuk." Titah Awan. Pemuda itu hanya mengangguk dan masuk kedalam mobil tersebut.


Tepat pukul 20:00 Malam. Mobil Mewah Marcedez Benz memasuki sebuah halaman yang di depan nya terdapat beberapa bangunan berjejer seperti apartemen yang terbuat dari bambu dan bertuliskan sebuah nama.


PONDOK PESANTREN DARUL HIKMAH.


Kedatangan pemuda itu telah di sambut oleh seorang pengurus sekaligus pemilik pondok pesantren tersebut yang bernama Kiayi Haji Mangku Bumi. Biasa di panggil dengan sebutan Mama Sepuh.


Awan dan Sutisna pun langsung keluar dari mobilnya dan melangkah menuju seorang lelaki paruh baya dengan tangan memegang tasbih dan pakaian Koko putih serta surban yang menempel di bahu kanan.


"Assalamualaikum. Mama Sepuh. " Ucap dua pemuda secara bersamaan.


"WaallAikum Salam. Jawab Lelaki paruh baya yang di panggil Mama Sepuh.

__ADS_1


"Awan langsung mencium tangan nya seraya membungkuk hormat. Anakku. Sehat." Kata Mama Sepuh seraya tangannya mengelus ngelus rambut pemuda itu.


"Alhamdulillah. Mama. Ada salam dari Abah Aden Haruman. Salam Rindu Alam." Ucap Awan setelah selesai mencium tangan lelaki paruh baya itu.


"WaallAikum Salam. Salam Penuh Damai. Untuk Aden Haruman." Jawab Mama Sepuh. Awan hanya mengangguk.!!


Setelah bincang bincang sedikit di halaman pondok pesantren. Lelaki paruh baya itu mengajak kedua pemuda itu untuk mengobrol di Aula madrasah bersama beberapa santri senior. Karna bagi Mama Sepuh maksud kedatangan pemuda itu sudah mengetahui nya dari mata batinnya.!!


"Anakku. Berapa orang yang di butuhkan oleh mu Nak dalam menghadapi permasalahan yang mungkin nyawa mu menjadi taruhan nya dalam misi kali ini.?" Tanya Mama Sepuh. Tampa pemuda itu memberitahu kan dahulu maksud dan tujuannya.


Awan pun sudah menyadari dan memahami Mama Sepuh sama dengan Abah Aden Haruman yang sudah mengetahui hati seseorang tanpa harus bertanya itu ini terlebih dahulu. Kelebihan yang di berikan oleh sang pencipta terhadap hamba hamba yang saleh.


"Empat orang yang ahli dalam beladiri, dan bertanggung jawab dengan tugas yang di berikan oleh ku." Jawab Awan dengan pandangan menunduk.


"Baik. Nak, Kapan di butuhkan nya empat orang tersebut.?" Tanya lelaki paruh baya itu.


"Bila pertemuan dengan Tuan Aidil dan Tuan Ahmad. Malam Minggu sekarang. Tapi sebelum pertemuan itu datang anak dari Tuan Besar Tedi Ferdiansyah yaitu Tuan muda Excel akan meninjau terlebih dahulu lahan yang akan di bangun Mall terbesar di kota kita. Esok lusa tepatnya hari Kamis." Kata Awan menjelaskan semuanya.


"Mama Sepuh bergeming. Diam membisu matanya tertutup, seolah olah Ia sedang memusatkan mata batinnya melihat perjalanan seorang pemuda yang akan di hadapinya ke depannya akan bagaimana.!!


"Hmmmmmmmm. Perjalanan kali ini.Tidak sederhana yang di bayangkan. Dari sisi kanan kiri depan belakang banyak yang akan mengincar pemuda itu. Ada bagusnya pemuda itu datang terlebih dahulu ke sini." Gumam Lelaki paruh baya tersebut, terdengar oleh Awan dan yang lainnya.


"Anakku. Mama sudah mengetahui kedepannya akan bagaimana.?" Anakku tidak usah khawatir. Beberapa murid dari Mama akan menjadi pengawal bayangan. Sepuluh orang terlatih dalam beladiri dan akan mematuhi setiap ucapan mu, akan ada di belakang mu tanpa ada orang lain' yang mengetahui nya. " Kata lelaki paruh baya itu berhenti lalu melanjutkan lagi pembicaraan nya.


"Besok sore. Sepuluh orang yang di utus oleh Mama sudah berada di terminal Pasir Hayam di antar oleh Sutisna. Nak Awan tinggal memberikan tugas tugas nya kepada murid murid didikan Mama." Kata nya, Awan pun mengangguk.


"Malam pun semakin larut. Obrolan di Aula madrasah pondok pesantren Darul hikmah cukup serius ketika Mama Sepuh berada. Akan tetapi setelah urusan yang penting nya saja selesai dengan pemuda itu. Mama Sepuh pun Ijin pamit untuk beristirahat. Sementara Awan dan Sutisna mengobrol bersama dengan santri santri yang ada di aula madrasah dengan di temani Rokok dan kopi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2