
Sementara di kampung Situhiang Desa Kertayasa tepat nya di rumah kediaman Lisnawati ibu kandung Muhammad Awan Pratama, malam itu Nenek nya ikut menginap di rumah anak nya.
Tepat pukul 20:30 Pemuda itu langsung masuk kedalam teras dengan sepeda motor yang sudah terparkir di depan rumahnya.
"Hei Tukang kresek sampah............! Teriak seorang gadis dari halaman teras rumah depan bunda nya itu.
"Pemuda yang di panggil oleh seorang wanita di malam itu lalu menoleh dan tersenyum sambil berkata.
"Ehk.........,! Mbak Ani..........! Ada apa ya teriak teriak.? Tanya Awan.
"Hei........ Kutu kurap, tumben loe kembali pulang kerumah, dan bawa motor segala emang habis mencuri dimana." Sergah wanita berusia 22 tahun dengan tatapan sinis.
"Yaa...... Kan ini rumah Bunda Awan.........! Bebas dong aku mau pulang atau tidak juga gak ada yang larang.! Itu motor habis nyuri dari dealer, terus ketahuan pihak dealer minta ganti rugi........! Ya sudah di bayar.," Kekeh pemuda itu berbelit-belit menjawab nya.
"Sialan, kau anak miskin kutu kurap, muka kaya cucunguk, badan kaya jelangkung.......! Mempermainkan ku." Geram wanita beranak satu itu.
Teriakkan wanita bernama Ani itu sebenarnya sudah terdengar oleh Lisnawati dan Nenek Romlah serta orang yang ada di dalam rumah ibu kandung nya Awan, serta di dalam rumah Mbak Ani juga terdengar oleh kedua Orang Tua nya serta suami wanita itu, dan Rahma Nabil, gadis yang tergila-gila kepada pemuda yang sedang di caci maki dan di hina oleh kakaknya. Tapi mereka enggan keluar biarkan saja.
"Mbak Ani ada apa sih berteriak memanggilku.? Tanya Awan yang mulai rese dengan ucapan dari wanita itu.
"Hei Orang miskin..... Loe jangan pernah deketin adik gue, karna bagiku dan keluarga ku...... Loe itu orang miskin yang tidak tahu malu.
*Suatu saat nanti akan aku beli mulut mereka yang merendahkan ku, meremehkan ku, tidak menghargai kehadiranku. Ucap Awan dalam hati
Aku tau orang tua Mbak Ani dan suaminya mendengar kan perkataan dan cacian dari anaknya itu dalam jendela rumah nya " Ucap nya lagi dalam hati Awan*.
"Siap gerak.........! Sahut Awan langsung pergi masuk kedalam tanpa mau meladeni wanita sombong dan angkuh itu.
"Bajingan kau lelaki miskin.!! Jerit Ani setelah melihat pemuda itu masuk dengan cara meledek kearah nya.
__ADS_1
Karna batas kesabaran manusia itu ada batas nya maka Lisnawati pun langsung berjalan keluar dengan wajah yang penuh dengan emosi memperdulikan seorang Ibu kandung dan menantu nya, tepat di saat mau berpapasan dengan Awan, langsung di cegah oleh Anak nya seraya berkata.
"Bundaaaaaaaa biarkan saja." Ucap Awan menahan tangannya agar dia tidak membalasnya.
"Tapi Nak dia sudah kelewatan, bukan sekali dua kali dia menghina kepadamu, tetapi kepada Bunda dan Adik serta kakak kakak mu." Jawab Bunda dengan air mata yang mengalir.
"Biarkan saja, yang penting dia dan keluarganya tidak menyakiti pisik pada tubuh kita, kalau hanya sebuah perkataan dan ucapan, kita terima dengan ikhlas. Biarkan karma yang akan membalasnya." Awan memberi nasehat kepada Bunda.
Lisnawati pun tertunduk dan mengucapkan kata istighfar. "Astagfirullahaladzim. Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih. Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah, Zat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Maha hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.
"Ayo Bunda kita duduk bareng Nenek dan Teh Dena serta Kang Ujang." Ajak Awan.
Lisnawati pun mengangguk dan langsung memeluk Ibu kandung nya seraya terisak dalam pelukan seorang wanita yang telah melahirkan nya.
"Kau........ Harus sabar anakku biarkan mereka mencaci maki menghina, sesuka hati mereka, kita tidak boleh membalas nya, karna hukum alam itu berlaku buat mereka memandang rendah makhluk yang di ciptakan sempurna oleh yang maha tunggal." Kata Romlah memberi nasehat kepada anak satu satu nya itu.
Setelah reda dalam tangisnya itu, Lisnawati pun langsung memeluk anak ketiga yang bernama Muhammad Awan Pratama seraya berkata.
"Kata siapa Bun kita miskin dari mereka yang menghina? Akan anakmu buktikan bahwa kita tidak miskin.! Kita kaya Bu, punya mata dua, punya hidung lubang nya dua, punya tangan dua, punya kaki dua, terus seluruh anggota tubuh kita lengkap." Canda Awan supaya Ibu kandung nya itu tidak bersedih.
"Dasar Adik ipar super nyebelin.......! Sahut Dena dengan tersenyum manis.
"Dasar cucuku PE,a.......! Timpal Nenek Romlah seraya cekikikan, membuat Lisnawati ikut tersenyum dan menyeka air mata nya.
"Assalamualaikum." Ucap dua suara anak kecil perempuan mengucapkan salam di saat di dalam ruangan tengah sedang tertawa cekikikan akibat ulah anaknya Lisnawati nomor tiga itu.
"WaallAikum Salam.' Jawab mereka serentak dalam rumah dan menoleh kearah datang nya suara.
"Kak Awan...............! Teriak dua anak kecil berlarian memanggil pemuda itu.
__ADS_1
"Rina......... Indri........... jangan lari lari nanti jatuh." Kata Romlah dengan nada tinggi.
"Uhk.......! Nenek peyot." Celetuk Indri bocah berusia 8 tahun itu, membuat mereka tertawa.
"Mau Nenek jewer....... ngatain Nenek peyot." Ucap Romlah, sedangkan mereka berdua sudah berada dalam pangkuan Awan.
"Ampun Ampun Nenek Cantik......! Puji Rina dan Indri. Agar tidak kena jewer dari Nenek nya itu.
"Hmmmmmmm! Gumam Nenek Romlah.!!
"Kak Awan mana oleh oleh buat Rina dan Indri, kok Intan sama Bunda yang di kasih." Rengek Rina cemberut.
"Besok sama Bunda pergi ke kota beli baju sama baju sekolah kan seminggu lagi sudah masuk sekolah." Jawab Awan memberi tahukan kepada kedua adiknya itu.
"Asyik.............. ! Ucap mereka berdua senang dan bahagia......!
"Yaaa sudah kalian berdua tidur kakak, mau ke rumah Mang Baban dulu." Titah Awan kepada kedua adiknya.
"Siap Kakak ku yang ganteng." Puji mereka berdua lalu beranjak tidur dengan perasaan yang senang menunggu hari esok tiba.
Setelah kedua adiknya masuk ke kamar untuk tidur, Awan pun ijin pamit dulu mau ke rumah Mang Baban yang tinggal keluar pintu belakang langsung melompat satu langkah sudah di rumah tetangga nya itu.
"Anakku............! Serius mau membeli Rumah Tetangga kita Mang Baban.?" Tanya Bunda, Membuat Dena dan Ujang serta Nenek nya kaget.
"Jadi atuh, kan biar rumah Bunda besar setelah nanti Awan bangun, nanti Teh Dena dan Kang Ujang tidak usah ngontrak rumah serta bila kang Mulyana dan Istri nya nginap di rumah Bunda tidak bingung mau tidur dimana juga.! Jawab Awan.
"Seberapa besar anakku punya Uang belum lagi masalah sawah yang di gadaikan.?" Tanya bunda
"Alhamdulillah." Ada Bunda buat renovasi rumah serta menebus sertifikat sawah yang di gadaikan oleh Nenek Hajah Markonah." Ucap Awan, lalu dia beranjak menuju pintu keluar.
__ADS_1
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.