
Sebelum perang itu di mulai, Muhammad Awan Pratama meminta doa terlebih dahulu kepada Ibu nya melalui panggilan telepon.
Senja sudah terlewat di hari itu tepat pukul 18:30 WIB. Malam Minggu di kampung Situ Babakan dimana untuk sementara Nyonya Besar Azzahra Masika Fatharani untuk sementara tinggal di rumah Nenek Romlah.
Dua wanita yang terpaut lima tahun usia nya sudah selesai dengan aktivitas ibadah solat magrib berjamaah bersama dengan wanita paruh baya yang menjadi imam di rumah panggung itu..
Dena sang menantu dari Lisnawati datang tergesa gesa yang habis dari warung... Ia tidak melaksanakan ibadah solat magrib karna sedang ada tamu bulanan...
Sesampainya di rumah panggung itu.. Dena pun langsung menghampiri mertuanya seraya berkata dengan napasnya ngos ngosan.
"Bunda..... Bunda..... Bunda......." Muhammad Awan Pratama beberapa kali menelepon ada sesuatu yang penting di obrolkan sama Bunda.." Kata Dena menyodorkan ponselnya yang di bawa ke warung.. Panggilan itu masih terhubung.
Lisnawati langsung menerima ponselnya dan memencet tombol loadspeker agar Azzahra Masika Fatharani ikut mendengarkan nya.
"Assalamualaikum.. Muhammad Awan Pratama anakku.. Ini Bunda... Kamu dimana Nak..?" Tanya satu suara dari panggilan telepon.
"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.. Bunda.. Awan sedang di di parkiran masjid daerah Ciloto Puncak.. Bersama Nabil......" Jawab Awan.
"Ohk....... Ada apa Nak.. Kamu menelepon dan kapan pulang.. Itu anak orang kamu bawa bawa Nak..?" Tanya Lisnawati dengan pertanyaan beruntun..
"Bunda.... Untuk sementara simpan dulu ya pertanyaan dari Bunda.. Ada sesuatu yang di minta oleh anakmu ini kepada Bunda..." Kata Awan.
"Iyaa.. Nak... Apa yang kamu minta.. Bunda pasti akan memberikan sebatas kemampuan seorang ibu kepada anaknya.." Kata Lisnawati dalam obrolan panggilan telepon.
__ADS_1
"Bunda..... Khusus malam ini... Anakmu dan para pegawai serta para sahabat anakmu ini... Ingin di doa kan oleh Bunda dan Bunda Azzahra Masika Fatharani serta Nenek Romlah... Itu pun kalau bisa bersama warga kampung Situ Babakan.. Berkumpul di Masjid dan semalam penuh membaca ayat ayat suci Al-Quran.. Di mulai pukul 23:00.." Terang Awan di sebrang telepon.
Sang Nenek yang mendengar permintaan dari Cucu nya kepada Lisnawati tersentak kaget saat itu.. Lalu buru buru bertanya dengan nada yang sangat tinggi..
"Cucuku Awan..... Katakan kepada Nenek apa yang sebenarnya terjadi.... Permintaan mu itu, berkaitan dengan sesuatu yang akan terjadi kepada orang orang yang kamu sayangi.." Terka Romlah..
"Ehk...... Anu.... Itu.... Nek........" Kata kata Awan terbata bata..
"Awan coba jelaskan... Saat ini juga." Kata Nenek nya penuh dengan penekanan...!
"Baiklah Nek... Awan pun menjelaskan semuanya dari di mulai perjalanan menuju kota Jakarta menemui rekan bisnis perusahaan nya sampai bertemu dengan adik dari orang yang akan memburu Nabil Nur Fadillah dan Bunda Azzahra Masika Fatharani... Nona Muda Tiara memberikan informasi yang sangat lengkap di tambah informasi dari pak Irsyad Maulana dan Tuan Asisten Tedi Ferdiansyah, bahwa pihak yang akan di hadapi oleh Awan menargetkan Bunda Azzahra menjadi target kiriman guna guna dari sang dukun nya perusahaan Duo Holding Company Group.
Tiga perempuan hebat itu mendengarkan penuturan dari Awan dengan sangat serius, tampak exfresi di wajahnya sesekali terlihat cemas dan kaget, menyadari anak nya itu sudah masuk dalam zona bahaya.. Azzahra berkeringat bercucuran saat itu... Apa yang di katakan waktu itu oleh Ahmad Asisten almarhum suaminya bener benar bukan paisan kosong.. Kedua anak tirinya Moch Rojak dan Moch Jabar yang di bantu oleh Abu Bakr adalah orang yang licik dan berambisi.
"Cucuku...... Nenek ngerti dan permintaan mu akan Nenek laksanakan.. Cuma yang bikin Nenek kecewa kepada mu, saat ini.. Kamu memberikan kabar besar itu telat dan mendadak.... Tapi tidak jadi masalah.. Nanti Kang Ujang dan Kang Mulyana akan Nenek suruh untuk membelikan kopi serta makanan untuk menemani jamuan doa bersama dengan para warga di kampung ini.." Kata Romlah.
"Kamu hati hati di sana... Dan ingat terus pepatah dari guru mu jangan sampai kau langgar.. Mudah mudahan ini akhir dari perjalanan anakku Azzahra Masika Fatharani dan Nabil Nur Fadillah.. Di sini doa orang orang yang sayang kepada mu akan selalu ada.." Kata Sang Nenek memberi semangat..
"Siap Nek..... Terima Kasih Banyak.. Kalau begitu Awan sudahi obrolan malam ini.. Karna orang yang di nanti sudah datang.." Kata Awan..
"Iya Cucuku.......!!
Panggilan selepas magrib pun usai sudah.... Ketiga perempuan hebat pun langsung bergerak cepat.. Lisnawati menyuruh menantu nya untuk menelepon adik iparnya Mulyana dan suaminya untuk pergi ke pasar membeli makanan ringan dan kopi.. Nenek Romlah sendiri bersama Azzahra pergi menemui sesepuh kampung untuk mengadakan doa bersama di Masjid Jami yang ada di hadapan rumah nya.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu... Romlah dan Azzahra Masika Fatharani masih masih belum kembali dari rumahnya sesepuh kampung di Situ Babakan..
"Dena... Apakah di ponsel ini masih kau simpan nomor Pak Lukman atau pun Pak ustadz Hilal.?" Tanya Sang Ibu mertua kepada menantunya..
"Ada Bunda... Tapi tidak tahu masih aktip atau enggak nya.. Emang kenapa gitu Bunda.?" Tanya balik Dena.
"Bunda ingin menelepon nya.. Coba kamu telepon dulu Pak Lukman apakah masih bisa nyambung.. Kalau tidak nyambung Bunda akan menemuinya di antar sama suami mu sekalian Ia jalan ke pasar." Titah Lisnawati.
"Baik.... Bun..!!
Dena pun lalu memencet tombol telepon setelah nama Pak Lukman dalam kontak telepon itu di temukan...!
"Bunda tidak aktif nomornya...! Terus Dena coba nomor Pak Ustadz Hilal juga tidak aktip.." Kata Dena memberi tahukan.
"Ohk.... Yaa sudah... Bunda akan menemui ke rumah Pak Lukman sama suami mu... Kamu di sini jaga kedua adik mu dan kalau Nenek serta Azzahra sudah kembali bilangin saja Bunda menemui Pak Lukman untuk meminta hal yang sama di kampung Situhiang.." Pesan Lisnawati kepada menantunya.
"Siap Bun..! Ucap Dena seraya mengangguk..
#######################
Dua pemuda yang hampir sama usia nya dan terpaut beberapa bulan saja kelahiran nya itu, bergegas meninggalkan Vila yang menjadi markas besar para preman pasar induk itu..... Setelah tugas pertamanya selesai mengalahkan Ketua preman yang mempunyai ilmu kebal itu. Iyus dan Asep dua pemuda itu langsung pergi menuju mobil yang di parkirkan di restoran milik majikan nya.
Sesampainya di area restoran.........................
__ADS_1
Bersambung.