
Sang mentari di siang itu sudah tak terasa terik karna waktu sudah datang menuju sore hari. Di kaki bukit Gunung Halu tepat nya di salah satu rumah dengan dinding bernuansa bilik bilik kayu.. Dua wanita yang terpaut usia beberapa tahun itu asyik bercanda ria dengan anak yang masih berumur dua tahun di halaman rumah panggung.
Sementara di dalam ruangan rumah panggung itu.. Tampak pemuda dengan stelan kaos berwarna hitam dan celana jeans duduk bersila dengan lelaki paruh baya dan pemuda berusia 23 tahun.
Suguhan suguhan di hadapan pemuda yang baru datang bertamu itu beraneka ragam, seperti goreng singkong rebus ubi dan teh hangat serta tak lupa kopi luwak white kopi kesukaan nya telah tersaji dalam obrolan sore hari itu.
Bagi Siti Lara dan Ibu nya Tukiyem tak menyangka dan tak menduga di saat kehidupan yang lalu di acuhkan oleh para tetangga nya karna profesi seorang Mbah Wongso yang menjadi dukun santet di kampung nya, kini berbalik seratus persen.. Lara dan Tukiyem kini menjadi orang yang di sayangi oleh Nabil dan Awan hingga Ia jauh jauh hari datang untuk berkunjung dan menjemput nya.
"Kang Tarmin.. Apakah bersedia saya tugaskan menjadi security di daerah proyek pembangunan Mall di kota kita.?" Tanya Awan.. Sesaat setelah mencicipi ubi rebus yang sangat kenyal itu.
"Menjawab Anda Tuan Muda!!
Dimana pun Tarmin di tempat kan sanggup dan akan menjaga kepercayaan dari Tuan Muda.!
"Bagus.... Terima Kasih Kang. Kalau bisa ajak beberapa warga di sini yang bener bener mau kerja dan merubah perekonomian keluarganya.. Ingat orang orang yang bener bener mau bekerja." Pinta Awan seraya memberikan pesan.
"Siap Tuan Muda.. Perkiraan kapan saya mulai bekerja dan orang orang yang mau ikut bekerja untuk berangkat ke lokasi proyek.?" Tanya Tarmin.
"Lebih cepat lebih bagus... Proyek akan di mulai tepat awal bulan sekarang masih ada waktu seminggu lagi.. Tetapi bila Kang Tarmin dan para warga sudah siap bekerja, sebaiknya esok atau lusa langsung berangkat dan bergabung bersama dengan orang orang Murid Mama Sepuh." Kata Awan.
"Siap Tuan Muda... Kalau begitu saya ijin untuk bertemu dengan beberapa warga yang dari kemarin kemarin meminta bantuan di Carikan pekerjaan kepada saya dan ayah saya.. Tuan Muda silahkan mengobrol dengan Kedua Orang Tua saya." Pinta Tarmin meminta ijin.
__ADS_1
"Silahkan Kang." Awan berkata singkat dan mengangguk.
Setelah Anak nya Mbah Juned itu keluar. Kini Awan dan lelaki paruh baya pun mengobrol secara pribadi di ruangan kamar tempat Mbah Juned menerima tamu.
"Silahkan Tuan Muda. Kita mengobrol di kamar.. Selain kedatangan anda kesini untuk menjemput Lara dan mengajak anakku Tarmin berkerja, tetapi Tuan Muda ada yang ingin di minta oleh ku." Pinta Lelaki paruh baya membuka dan membeberkan isi hati Awan...
"Hehehehe... Mari Mbah..! Ucap Awan lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mengikuti lelaki paruh baya yang terlebih dahulu sudah berdiri.
Sesampainya di salah satu kamar.... Mbah Juned pun langsung terpejam mata nya dan membuka mata batinnya melesat meninjau apa yang di inginkan oleh pemuda yang menjadi majikan dari anaknya.
"Hmmmmmmmm. Apa yang di lihat oleh ku.. Penyakit yang di alami oleh rekan bisnis anda, adalah akibat seseorang yang tidak suka terhadap keluarga... Kemungkinan faktor dari sakit hati." Terang Mbah Juned dalam pandangan mata batinnya.
"Mungkin hari Jumat pagi saya berangkat dengan di temani dengan Kang Asep putra dari Abah Kusuma dan Teh Siti Lara." Jawab Awan.
"Hmmmmmmm.. Itu lebih baik Tuan Muda! Kalau sudah sampai di rumah sakit dan usahakan untuk berkunjung ke rumah rekan bisnis anda.. Untuk menaburkan tanah ini ke halaman pojok kanan." Titah Mbah Juned seraya memberikan bungkusan yang terikat kain hitam dari lelaki paruh baya itu.
"Baik.. Mbah." Jawab Awan singkat tak mau bertanya karna sudah mengetahui sumber titik dari terjadinya penyakit aneh yang di derita oleh Tuan Tang Tang Dor dan istrinya kemungkinan terbesar berada di titik rumah nya.
"Nanti malam saya akan berkunjung ke rumah nya Eyang Aden Haruman untuk mengobrol kan tentang masalah ini. Bersama dengan Kiayi Mangku Bumi dan Kuncen Gunung lembah pasagi yang tak lain Abah Kusuma." Kata Mbah Juned.
"Siap Mbah.! Abah Aden Haruman menunggu kedatangan dari Abah Juned.. Sebelum saya malam sudah di obrolkan langsung kepada Abah Aden Haruman.... Dan menyuruhku untuk menemui Abah sekaligus menjemput teh Lara dan Ibu nya beserta anaknya." Terang Awan.
__ADS_1
Mbah Juned hanya manggut manggut saja, mendengarkan perkataan dari pemuda yang sangat hebat di usia muda itu....." Tuan Muda, untuk urusan ini tidak boleh terlalu di khawatirkan dan di cemaskan. Pokuslah pada urusan yang sangat besar menjaga dan menjadi perisai dari sang Ahli waris perusahaan terbesar di negara nya." Pesan Mbah Juned.
"Iya... Mbah saya paham dan mengerti! Saya harap untuk urusan ini di serahkan kepada para senior yang sudah mengetahui titik penyakitnya dan berurusan dengan alam ghaib.. Saya bersama yang lainnya akan pokus pada permasalahan di dunia nyata saja." Sekilas pemuda itu tampak terlihat serius bila sudah menyangkut dalam urusan ghaib.
Obrolan singkat mereka berdua pun akhirnya selesai.. Wejangan dan nasehat di berikan oleh Abah Juned kepada Muhammad Awan Pratama, di terima dengan anggukan dan akan di jalankan dalam praktek kehidupan nya, untuk menjadi lebih baik dan berguna bagi para orang orang yang membutuhkan nya.
Di langit tampak sudah berubah warna kekuningan, waktu senja akan tiba... Awan bersama Nabil dan Teh Lara serta Ibu dan anaknya berpamitan untuk kembali ke Kota.
Sementara Tarmin sendiri Ia akan berangkat esok lusa dengan beberapa para pekerja yang sudah siap untuk bekerja di tempat nya Awan... Untuk urusan posisi nya nanti akan di atur oleh Bu Dewi dan beberapa staf perusahaan.
"Abah dan Umi... Bila ada waktu senjang dan tak ada kegiatan.. Tengoklah rumah dan kantor pusat yang ada di kota." Pinta Awan sebelum masuk kedalam mobil untuk segera kembali ke Kota.
"Insyaallah... Tuan Muda! Nanti seusai panen padi Abah dan Umi akan berkunjung ke rumah Tuan muda." Jawab Abah Juned...
"Baik... Abah... Baik Umi.... Awan tunggu!! Kalau begitu Awan pamit." Ucap pemuda itu dengan mencium tangan pasangan suami istri paruh baya itu satu persatu dan di ikuti oleh Nabil beserta Lara dan Ibu nya Tukiyem.
Tarmin sendiri sedang sibuk memasukan beberapa karung yang berisi ubi dan singkong serta kelapa oleh oleh dari Abah Juned, tampak tadi terlihat lahap ketika Awan dan Nabil menyantap goreng singkong dan ubi rebus.
Satu Unit Mobil Toyota Yaris pun meninggalkan kampung yang ada di perbatasan antara kabupaten Cianjur dan Bandung Barat tepatnya di arah selatan jalan desa Cempaka Mulya yang sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan tersebut.
Bersambung.
__ADS_1