
"Kriiiiing............
"Kriiiiing...........
"Kriiiiing...........
"Halo!!
"Ada apa Dil malam malam kamu telepon.?" Tanya seorang lelaki menjawab telepon masuk.
"Ente di mana Dul!?" Tanya Bedil di sebrang telepon.
"Ana di Markas... Ada apa gitu Ente nelepon. Nanyain posisi Ana ?" Tanya Bedul.
"Ok... Ana kesana sekarang ada yang harus kita bahas tapi tidak bisa dalam telepon." Kata Bedil.
"Yaa!! Sudah.... Ana tunggu." Jawab Bedul. Lalu mengakhiri panggilan telepon nya.!
Bedul pun langsung berjalan kearah depan. Ia berniat untuk memesan kopi sambil menunggu sahabatnya yaitu Bedil.!
Sesampainya di warung remang remang yang ada di lokasi pinggiran kecamatan tepatnya di pinggiran sungai yang terhubung ke sungai Citarum. Bedul pun duduk dan langsung memesan Kopi pahit kesukaan nya.
"Teh kopi satu." Ucap Bedul yang sudah duduk di bangku panjang yang di simpan di depan warung itu.
"Siap Kang Bedul." Jawab Pemilik warung tersebut yang masih kawasan bos Haikal.....
Setelah hampir 20 menit lama nya Bedul menunggu kedatangan sahabat nya yaitu Bedil di warung kopi yang tak jauh dari Markas Besar Haikal... Akhirnya orang yang di tunggu malam itu pun datang bersama dua orang yang tak lain anak buah kepercayaan bos Haikal yang waktu itu sudah berada dalam kurungan penjara..
"Dul.... Sory ey lama." Sapa Lelaki seumuran baru datang.!
"Hmmmmmm." Ayo duduk.." Titah Bedul, kepada Bedil dan dua orang lain nya yang ia bawa.
__ADS_1
Pemilik warung kios tersebut tersentak kaget ketika Pak Bedil datang bersama dua orang yang Ia kenal dan menjadi penghuni rumah yang ada di pinggiran sungai Cisokan tersebut.
"Pak..... Gundul pacul cul cul... Pak Odeng... Apakah saya tidak salah......" Kata pemilik warung itu.
"Bu Ondeh..... Iya anda tidak salah... Saya sudah bebas..." Jawab salah satu dari mereka berdua.
"Syukurlah! Pak Gundul dan Pak Odeng." Kata Pemilik warung yang bernama Ondeh itu.
"Terima Kasih banyak Bu Ondeh..... Atas perhatian dan ke khawatiran nya.... Pengen kopi dong." Kata Gundul pacul cul.
"Siap..... Biasa kopi hitam pait tidak di kucek." Kata Bu Ondeh pemilik warung remang remang itu.
"Saya juga satu Bu kopi hitam." Sahut Odeng.!
"Ok......." Balas singkat Ondeh..
Setelah lima belas menit berbincang bincang di depan warung remang remang... Lalu mereka pun pindah obrolan pun ke salah satu ruangan khusus karna ada yang perlu di diskusikan oleh mereka berempat.
"Dul...... Saya sudah mengobrol panjang lebar bersama ketua preman yang menguasai seluruh pasar di kota ini. Pak Dayat meminta mulai dari esok pergerakan memantau pemuda yang menjadi target Bu Sulastri untuk sementara waktu di hentikan, atas saran dari para bawahan ." Kata Bedil memulai percakapan nya.
"Emang nya kenapa.?" Tanya Bedul penasaran.
"Katanya menurut informasi dari mereka berdua Gundul pacul cul dan Odeng.. Untuk bisa membunuh pemuda tersebut harus dalam keadaan lengah.. Karna kata Kang Dayat berkaca dari pengalaman Pak Gundul dan Pak Odeng. Hal itu juga udah di bicarakan kepada Bob Hidayat dan Tuan Muda Firmansyah." Terang Bedil.
"Pak Bedul.... Saya sudah merasakan kekuatan dari pemuda itu... Selain orang orang nya ahli dalam Ilmu beladiri tetapi pemuda itu jago dari segala macam dan pemuda itu mempunyai dekengan kuat dari alam ghaib... Jadi untuk sementara waktu seharusnya Bu Sulastri untuk kembali dulu ke kampung halaman dan memberitahu kan kepada ayahnya yang seorang dukun untuk meminta bantuan dalam hal ghaib." Kata Pak Odeng memberi saran.
Bedul hanya manggut manggut saja mendengarkan penuturan dari Bedil dan Odeng... Apa yang di katakan oleh mereka berdua cukup masuk akal dan sesuai dengan pernyataan dari Ayah nya Sulastri waktu itu ketika ia di tugaskan untuk menjaga anaknya yang akan membalas dendam kepada pemuda yang telah menghabisi suami nya yaitu Haikal.
Obrolan malam mereka pun berlanjut cukup lama... Bedul sebagai orang kepercayaan dari Ayah nya Sulastri.. Ia memutuskan untuk berangkat kembali menuju kampung halaman nya seorang diri tanpa di temani oleh Sulastri atau pun Bedil.
Karna untuk saat ini... Mengajak Sulastri akan terasa sulit, di sebabkan Sulastri sedang di mabuk asmara oleh Bob Hidayat...
__ADS_1
"Pak Odeng dan Pak Gundul... Esok juga saya akan kembali ke kampung halaman seorang diri dan memberi tahukan langsung kepada ayahnya Bu Sulastri tentang masalah ini." Kata Bedul mengakhiri obrolan nya.
"Siap. Pak Bedul.. Lebih cepat lebih baik.! Apakah pak bedul akan berangkat seorang diri.?" Tanya Gundul pacul cul.
Lelaki itu mengangguk.!
"Kenapa Tidak bersama Nyonya Sulastri.?" Tanya Odeng penasaran.!
"Mau nya sih bersama Bu Sulastri... Tetapi itu tidak mungkin................" Kata Pak Bedul berhenti di tenga jalan ucapan nya.
"Kenapa Pak Bedul.?" Tanya Lagi Odeng...!
"Nanti juga kalian berdua akan mengetahui nya dengan seiring berjalannya waktu." Kata Bedul tidak mau mengutarakan semua yang ada dalam pikiran nya..
Perubahan sikap yang di lihat kan oleh Bedul... Sungguh mudah di tebak oleh Bedil, yang notabene nya adalah orang terdekat Bedul!
Bedil mengetahui isi hati Bedul kini sedang gundah gulana akibat wanita yang sedang hamil muda itu, terpesona oleh rayuan maut Bob Hidayat... Hingga melupakan Bedul dan Bedil orang yang di suruh oleh ayahnya untuk menjaga keselamatan nya dan jangan sampai terpisah sedetik pun di antara mereka bertiga.... Akan tetapi kini Sulastri sudah terlena bersama Bob Hidayat dan sudah tiga hari tiga malam tidak bersamanya... Jangankan untuk menemuinya sekedar mengirim pesan atau telepon pun tidak ada.
"Bicarakan isi hati mu kepada ayahnya... Agar kita berdua tidak di salahkan dan terhindar dari tekanan bila kedepannya terjadi sesuatu." Kata Bedil menepuk nepuk bahu sahabatnya.. Hal itu membuat Bedul mengerti dan mengangguk.
######################
Terlihat suasana cerah di sekeliling, pagi-pagi buta kami sudah terbangun dari tidur. Seketika terdengar suara azan subuh dari toa masjid depan rumah nenek.
Saya langsung bergegas mengambil handuk dan mandi lalu berwudu untuk segera shalat subuh. Ternyata Kakak pertama ku sudah menunggu untuk shalat berjamaah.
Setelah selesai dengan aktivitas solat subuh berjamaah dan kembali ke rumah nenek untuk mengganti sarung dan langsung aku keluar rumah memandangi sekeliling ternyata diluar sudah mulai cerah dewa langit sudah mulai mengeluarkan sinarnya ke peraduan.
Suasana sekeliling tampak sepi, namun nuansa sejuk sangat terlihat indah ketika memandangi halaman sekitar. Suasana di luar halaman rumah pun tampak sejuk dari kejauhan.
Pemuda itu pun langsung berjalan kearah barat menuju kediaman Engkos Kosasih yang tak jauh dari rumah neneknya.... Ia sudah berjanji pagi pagi sekali akan kerumahnya dan ada obrolan empat mata dengan Awan.
__ADS_1
Bersambung.