Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Awan dan Nabil bertemu dengan Tiara


__ADS_3

Hampir lima belas menit menunggunya kedatangan seorang perempuan berusia 20 tahun itu. Sepasang kekasih yang tampak menurut pandangan orang orang yang sedang berada di kafe melihatnya malam itu, padahal dalam pandangan gadis yang duduk di sebelah hanya sebuah hubungan tanpa status atau pun hubungan antara majikan dan bawahan nya, karna pemikiran gadis itu, Muhammad Awan Pratama bersedia dan menjadi perisai bagi dirinya atau pun ibu nya, maka dengan itu di ibaratkan sebagai bawahan dan majikan.


Awan dari pertama duduk dan hampir beberapa menit sambil menunggu kedatangan gadis itu, pandangan nya tak lepas dari layar ponselnya dan jemarinya tak pernah sedetikpun tak bergerak, ia sibuk dengan pesan Wasttap yang masuk dari orang orang yang di tugaskan oleh dirinya.


"Nabil... Maaf yaa.. Kakak mengacuhkan mu untuk saat ini karna banyaknya pesan masuk ke ponsel kakak, yang tak bisa di acuhkan begitu saja." Kata Awan setelah hampir lima belas menit lamanya ia sibuk dengan ponselnya.


"Iya Kak, tidak apa apa kok.. Tapi Kakak serius amat balas pesan nya." Ujar Nabil mata nya menatap kearah Awan.


Awan membalas tatapan Nabil, Ia tersenyum, senyuman dari pemuda itu mampu membuat luluh putri dari Azzahra Masika Fatharani itu.


"Kak... Ihk kok menatap nya dengan serius," Kata Nabil memalingkan pandangan kearah pintu masuk.. Dia jelas malu muka nya memerah di lihat oleh Awan.


"Dia datang..." Kata Awan, sejenak mengikuti tatapan mata Nabil dan melihat seorang wanita berusia dua puluh tahun yang baru masuk ke Kafe dan berjalan kearah kursi meja Awan dan Nabil.


"Apakah wanita itu yang mau bertemu sama kak Awan.?" Tanya Nabil.. Awan pun langsung mengangguk dan bangkit dari duduknya.


Wanita itu tersenyum manis, kearah Awan dan Nabil, gaya berjalan dan pakaian jelas jelas seorang gadis yang mempunyai solidaritas tingkat pejabat.


"Tuan Awan Nona Muda.. Mohon maapkan saya datang terlambat hingga anda berdua menunggu lama." Ucap wanita itu membungkuk hormat.


"Ahk.... Nona Tiara anda tidak usah membungkuk begitu, hanya belasan menit tidak membuat saya kecewa menunggu kedatangan anda." Jawab Awan.


"Terima Kasih Tuan Awan." Ucap Tiara.

__ADS_1


"Panggil saja saya Awan tak usah memakai Tuan.. Dan perkenalkan gadis di samping saya adalah Nabil Nur Fadillah.. Mungkin anda sudah mengetahui namanya tapi belum pernah melihat wajahnya." Terka Awan memperkenalkan.


"Siapa yang tidak kenal dengan pewaris perusahaan terbesar nomor dua puluh di dunia. Sungguh suatu keberuntungan bagi saya bisa langsung bertemu langsung dengan orang nya, anda Nona Muda Nabil sungguh sangat cantik dan mempesona. Saya Tiara Ferdiansyah memperkenalkan diri." Ucap Tiara menyodorkan tangannya.


Nabil menyambut uluran tangan dari wanita yang memperkenalkan dirinya." Kak Tiara terlalu berlebihan dan pandai memuji, rumor aku menjadi pewaris perusahaan milik ayah ku, sudah tersebar di mana mana. Sungguh aku tak menyangka dan tak ku duga sama sekali." Ucap Nabil tersenyum.


"Kak Tiara.. Silahkan duduk.." Sambung Nabil mempersilahkan.


"Terima Kasih Nona Muda, sungguh aku tersanjung dalam hati ini di seorang Nona muda memanggil ku dengan sebutan Kakak.. Suatu kehormatan dan rasa bangga hari ini." Jawab Tiara lalu duduk.


Awan hanya tersenyum saja melihat mereka berdua saling memuji satu sama lain.. Pelayan Kafe pun datang membawa sebuah menu dan memberikan kepada mereka bertiga.


"Tuan dan Nona, Nona silahkan mau pesan apa." Ucap pelayan Kafe seraya menyodorkan menu nya, tersenyum ramah dan sopan.


"Aku ingin Italian Coffee sama Souf Seafood pedas aja." Jawab Nabil.


"Baiklah.. Kalau anda Nona Muda.?" Tanya Pelayan Kafe itu.


"Seperti biasa aja Chocolate Mint." Jawab Tiara.


"Baik... Silahkan anda bertiga menunggu pesanan nya." Kata Pelayan Kafe itu, lalu Ia beranjak pergi.


"Nona Tiara, bagaimana keadaan Ibu Nona? Apakah keadaan nya sehat.?" Tanya Awan memulai percakapan basa basi nya.

__ADS_1


"Yaa begitulah Awan, semenjak jatuh dari kamar mandi dan para dokter sudah memvonis nya struk, bunda harus menghabiskan hari hari nya duduk di kursi roda." Ucap Tiara dengan mata yang berkaca kaca.


"Saya turut berduka cita Nona tentang kondisi ibu anda.. Bersabarlah dan selalu meminta pertolongan dari sang maha pencipta." Kata Awan memberi nasehat.


"Insyaallah, saya dan Bunda ku, selalu sabar dan menerima semua ujian yang sedang menimpa keluarga ku. Mungkin ini teguran buat keluarga Bunda atas ulah perilaku yang selama ini di kerjakan dalam kehidupan sehari hari." Lirih Tiara.. Jelas Ia mengetahui semua perbuatan Ayah dan Bunda serta kakak nya.


Ayah dan ibunya serta kakaknya selalu berambisi mengambil hak yang bukan milik nya,. malahan semua kekayaan yang di punya keluarganya hasil kecurangan yang di lakukan oleh sang kepala rumah tangga dengan dukungan ibu dan kakaknya.


Selang lima menit kemudian pesanan pun datang, obrolan mereka antara Awan dan Tiara yang seputaran tentang keluarga Tiara terhenti sejenak.


"Silahkan Tuan dan Nona Nona, selamat menikmati hidangan dan minuman dari Kafe kami." Ucap pelayan Kafe itu setelah pesanan mereka di hidangkan.


"Terima Kasih." Jawab Awan dan anggukan dari Nabil serta senyuman dari Tiara, lalu pelayan itu meninggalkan mereka bertiga.


"Awan ada sesuatu yang harus saya berikan kepada anda, mudah mudahan informasi dan semua video yang tertera dalam file ini, anda bisa mencegahnya dan langsung bertindak sebelum terlambat." Kata Tiara memulai percakapan menuju inti pertemuan nya yang tiba tiba mengajak nya bertemu, seraya menyerahkan sebuah file berisi kartu memori.


Sejenak pemuda itu sedang mengucek ngucek minuman yang tadi Ia pesan dengan sedotan, Nabil sendiri pokus nya kepada makanan yang ada dalam mangkuk dengan di dalam Souf itu terlihat udang segar dan ikan kakap serta jamur tampak rasa nya sangat menggugah selera terhenti sesaat menatap dan mendengarkan ucapan dari Nona Tiara.


"Apakah ini berkaitan dengan sang pewaris perusahaan ISMAIL GROUP dan orang orang di sekitar ku.?" Tanya Awan kini sorot mata nya menatap tajam, lalu menerima kartu memori yang di berikan oleh adik dari orang yang memburunya itu.


Tiara mengangguk, membalas sorot mata pemuda itu dengan tatapan yang sangat tajam.. Di kursi lainnya beberapa pasang mata juga tampak pandangan mata nya mengarah kearah meja yang di tempati oleh satu lelaki dan dua gadis yang mempunyai kecantikan di atas rata rata.. Di antara nya Asep Sunandar dan Siti Lara bersiaga dan waspada, ketika melihat antara majikan nya dan Nona Tiara saling menatap penuh dengan sorot mata yang tajam.


"Bukan dari dunia nyata saja, mereka akan mulai menjalankan rencana yang cukup sadis dan keji tetapi mereka akan menempuh jalan yang tak kasat mata dan dengan cara yang sangat instan tanpa jejak." Terang Tiara.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2