Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Tarmin Bersedia Menemani Lara


__ADS_3

Aa. Tarmin.! Tegur seorang wanita kepada seorang pemuda yang sedang membereskan beberapa pakaian masuk kedalam tas nya.


Pemuda yang di tegur oleh seorang wanita muda yang tidak berbeda jauh usia nya, langsung menatap dan tersenyum kearah nya.


"Neng. Lara. Ayo masuk.! Semua kebutuhan sudah aa persiapkan. Tinggal berangkat." Ucap nya. Pandangan kembali menunduk.


Wanita itu pun masuk dan duduk di hadapan Tarmin. Ia melihat sekeliling kamar pemuda berstatus jomblo itu. Rapi tampak bersih." Gumam nya. Terdengar pelan oleh Tarmin.


"Ada Apa Neng Lara.?" Tanya Tarmin.


"Ehk. Anu. Itu. Kamarnya Bersih dan Rapi." Jawab Lara terbata bata.!


"Hehehehe. Tarmin tersenyum. Makasih." Ucapnya.


"Aa. Neng ada yang mau di bicarakan sama. Aa." Pinta Wanita itu tertunduk dan terasa berat untuk berkata.


"Mau bicara apa Neng.! Tinggal Bicara aja." Jawab Tarmin. Lalu menutup resleting tas untuk di bawa oleh wanita itu.


"Neng. Mau minta tolong. Apakah Aa mau menolong Neng sekali lagi." Lirih Lara wajahnya semakin tertunduk.


"Neng Lara. Aa sudah tahu dan tadi tak sengaja mendengarkan obrolan Neng bersama Abah dan Umi. Menemani perjalanan menuju pusat kota, mencari keberadaan seorang pemuda untuk membantu dari target pembunuhan Engkos Kosasih dan para anak buah yang sudah membunuh suami Neng Lara kan." Kata Tarmin mencoba menebak hati wanita itu.


Lara mengangguk.!! Sekilas mata nya menatap pemuda itu, lalu ia menunduk lagi. Jantung nya berdebar. Perasaan ini sama persis seperti Ia pertama kali jatuh cinta kepada suaminya.


"Apakah hatiku begitu cepat menerima perasaan dari pemuda ini. Baru juga tiga Minggu aku berkabung atas kematian suamiku. Dan aku juga belum mengetahui keberadaan Ibu dan anakku." Batin wanita itu bergejolak.

__ADS_1


"Aa. Apakah mau menemani Neng pergi ke kota untuk membalas dendam atas ulah Engkos Kosasih yang telah menghancurkan hidupku dengan sangat tak manusiawi." Kata Lara dengan wajah lesu dan mata berkaca-kaca.


Pemuda itu terenyuh hati nya. Sakit dan sesak setelah wanita itu berkata tentang hidupnya yang hancur oleh seorang murid dari ayahnya yang sangat ia percayai. Tarmin pun replek langsung memeluknya seraya mengusap ngusap punggung wanita tersebut.


"Tenang lah dan jangan bersedih lagi. Aa akan selalu ada di samping mu. Aa akan berusaha menjadi pelindung rasa aman buatmu dan berusaha semampu batas manusia membalaskan dendam kematian suami mu itu." Ucap Pemuda itu memberikan rasa nyaman kepada wanita yang baru beberapa hari ia tolong.


Perlakuan dari pemuda itu, membuat hati dan semangat hidup Lara bangkit, Ia bertekad akan membalas budi baik dari Tarmin dan keluarga nya.


"Terima Kasih! Terima Kasih Aa. Wanita itu makin membenamkan pelukan nya.!!


Isak tangis wanita itu dalam pelukan seorang pemuda berkulit sawo matang lumayan cukup lama. Tak lama seorang pria paruh baya bersama dengan istrinya masuk, dan ikut duduk di samping pemuda yang tak lain anak kandung nya sendiri.


"Tarmin dan Siti Lara. Sebelum berangkat. Abah dan Umi ada sesuatu yang perlu kalian berdua harus tahu, siapa pemuda yang sedang di targetkan oleh Engkos Kosasih dan para preman yang telah membunuh suamimu." Kata Abah di sela duduknya di kamar anak nya itu.


Pria paruh baya yang bergelar dukun sakti itu menarik napas dalam-dalam sebelum memulai perkataan nya. Ia lalu menghentak kan napasnya dengan keras.


"Malam itu ketika kamu sedang menunggu meditasi Lara untuk yang terakhir. Abah di datangi oleh Wongso ayahnya dari Nak Lara. Ia datang bersama dengan dua lelaki yang berjanggut putih dan memakai ikat kepala warna putih serta tangan memegang tasbih.


Dua lelaki yang memperkenalkan namanya adalah Aden Haruman penguasa Gunung Gede dan yang satu lagi memperkenalkan namanya Abah Kusuma dia penguasa Gunung lembah persegi.


Kesaktian yang di punya oleh ayahnya Wongso sudah di musnahkan oleh Aden Haruman dan punggawa nya yaitu Eyang atas Angin. Tadinya Abah tidak percaya begitu saja dan mengetes kekuatan dengan Aden Haruman.


Ucapan dan bualan yang di lontarkan oleh Wongso, bukan isapan jempol. Setelah mengetes adu kekuatan dengan Aden Haruman. Abah pun mengakui kesaktian nya, dan segera meminta ampun agar jangan sampai bernasib seperti Wongso, yang kini melayang arwah nya antara langit dan Bumi hingga waktu akhir tiba.


"Juned. Aku akan mengampuni nyawamu. Tapi dengan satu syarat. Bila kau bisa memenuhi syarat yang aku berikan, hidup dan ilmu mu tidak akan ku musnahkan." Kata lelaki berjenggot putih bernama Haruman itu.

__ADS_1


"Eyang Guru.. Silahkan ucapkan syarat apa yang harus aku lakukan agar seluruh ilmu dan nyawaku selamat." Ucap Juned memohon ampunan.


"Aku ingin wanita anaknya si Wongso yang sedang bertapa di Gunung Halu. Untuk menjaga serta melindungi nyawanya dari target pembunuhan. Murid dari si Wongso yang telah aku dan punggawa ku lenyap kan ilmunya." Kata lelaki berjanggut putih itu.


"Kalau boleh tahu. Siapakah gerangan pemuda itu namanya. Dan ada hubungan apa Eyang Guru dengan pemuda yang akan di lindungi oleh putri Wongso.?" Tanya Juned berhati hati.


"Dia adalah murid ku. Sekaligus Eyang buyut nya adalah guru spiritual ku di saat, saya sedang berkelana mencari jati diri ku." Jawab Lelaki yang di panggil Eyang Guru itu.


"Siapakah nama pemuda itu Eyang Guru. Agar nanti bisa saya sampaikan kepada anaknya Wongso. Karna Siti Lara mempunyai silang sengketa dengan muridnya Wongso yang sudah berkhianat dan membunuh suaminya." Kata Juned yang masih tampak berlutut tak berani mengadah kan kepalanya keatas.


"Dia Muhammad Awan Pratama. Usia nya masih terbilang muda serta masih seorang pelajar." Kata lelaki berjenggot putih itu.


"Baik. Eyang Guru. syarat yang di minta akan. Juned penuhi. Terima Kasih atas belas kasihan dari anda tidak memusnahkan ilmu dan membunuh nyawa saya." Kata Juned.


"Bagus....... Tapi kamu bertobat lah. Jangan menjadi dukun sesat lagi. Apalagi sampai menyantet orang yang tak berdosa. Ini ambil lah darah perawan untuk anak si Wongso. Bila ingin kecantikan dan di sukai banyak orang.! Dia harus meminum darah perawan selama satu tahun tepatnya di malam Selasa Kliwon.


"Baik. Eyang Guru. Ikut apa kata Eyang Guru." Jawab Juned.


"Wuzzzzzzzzzzz!!! Dua lelaki berjenggot itu bersama Wongso, terbang dan menghilang.!!


"Begitulah Nak Lara dan Tarmin. Kejadiannya. Abah berharap kalian berdua mencari pemuda itu yang menjadi target pembunuhan oleh Engkos Kosasih dan para preman nya." Kata Abah Juned setelah menceritakan semua nya kepada mereka berdua yang akan segera berangkat.!


Lara dan Tarmin saling pandang setelah mendengar perkataan dari lelaki paruh baya itu. Anggukan mereka berdua tanda setuju dengan permintaan dari Abah nya itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2