
"Kriiiiing.........................!!
"Kriiiiing..........................!!
"Kriiiiing...........................!!
"Halo....... Tuan Awan... Lokasi sudah di tentukan mereka membawa Moch Aidil dan Moch Ahmad ke sebuah Vila yang ada di kawasan taman wisata Cibodas.." Kata Seorang penelepon di sebrang telepon.
"Terima Kasih Tuan Robi informasi nya.. Apakah mereka semua berada di lokasi itu.. Atau ada lokasi yang lain.?" Tanya Awan.
"Menjawab anda Tuan Awan.!
"Moch Rojak bersama dengan Abu Bakr dan dua Mafia sudah berada di lokasi Vila di kawasan itu... Sedangkan Moch Jabar sendiri berada di Mansion di kota Jakarta bersama dengan paranormal dan akan memulai ritual malam ini untuk menyerang anda bersama sama orang yang di targetkan nya itu.
"Licik benar benar licik.... Baiklah Tuan Asisten.. Untuk urusan di sini menjadi tanggung jawab saya dan saya bersama orang orang dari padepokan Macan Tutul akan menghadapi nya... Untuk urusan di sana menjadi Tuan Asisten dan anggota Singa Putih.. Bagaimana menurut anda Tuan Robi..?' Tanya Awan.
"Tuan Awan untuk urusan di Mansion di kota Jakarta anda tidak usah khawatir.. Organisasi Singa Putih yang di komandoi oleh Kang Usep dan Sule serta anak dari Abah Aden Haruman sudah bersiap siap untuk membumi hanguskan mereka... Posisi saya saat ini sudah berada di lokasi yang tak jauh dari Vila tempat mereka menyergap Moch Aidil dan Moch Ahmad... Saya bersama anak buah menunggu komando dari anda sang Pemuda Hebat Seperti Dewa.." Terang Robi.
"Ohk.... Begitu Tuan Asisten... Baiklah... Anda tunggu satu jam lagi baru beraksi... Aku di sini akan membereskan terlebih dahulu para cecunguk yang ada di sekitaran area ini, hehehehehe.." Kata Awan sambil terkekeh..
"Siap Tuan Muda Awan... Robi menunggu dengan senang hati.!!
"Ok....... Tuan Asisten... Ucap Awan... Lalu mematikan ponselnya..
"Sarwan loe dari tadi sibuk mulu... Menerima panggilan telepon.... Ini gue dan Irma mau pulang.. Tapi Kiara kemana yaa, hampir tiga puluh menit ke kamar mandi tapi belum juga kembali.. Apa jangan jangan dia kesasar di gedung ini.?" Tanya Mira.. Emang dia tidak tau apa apa.
"Wah...... Mungkin dia di bawah Mir.. Lagi makan.. Loe pada kan tahu si Kiara itu kalau makan paling rakus.. hehehehehe.." Jawab Awan seraya bercanda..
__ADS_1
"Hehehehe.... Hehehehe...... Mungkin Iya...." Timpal Irma.!
"Apa sebaiknya kita turun aja ke bawah Sarwan.." Kata Mira.. Jelas Ia menghawatirkan sahabatnya itu.
"Ini juga si Fikri..... Pacar nya... Tidak peka... Si Kiara keluar dari sini mau ke kamar mandi bukannya temenin.. Ehk malah asyik ngobrol sama si Sandi..." Keluh Irma..
Fikri dan Sandi.... Mereka berdua memang teman waktu di sekolah Pasundan.. Wajarlah mereka asyik berceloteh dan bercengkerama di malam itu, mengacuhkan pacar nya masing masing, karna sudah dua tahun lebih setelah lulus sekolah tidak pernah ketemu.
"Sebaiknya kita turun kebawah aja. Kak... Irma dan Kak Mira.." Kata Nabil memberi saran.. Mereka berdua pun mengangguk.
"Tidak usah.... Kiara saat ini sudah pulang di antar oleh Kak Friska dan Teh Siti Lara.. Karna mendadak sakit perut.. Mungkin masuk angin atau kebanyakan makan." Kata Awan berbohong kepada dua sahabat nya.
"Kok.... Kamu gak ngasih tahu Sarwan dari awal.." Jawab Irma..
"Orang yang ngasih kabar Kak Friska, baru saja mengirim pesan kepada ku.." Kilah Awan memberi alasan.
"Hmmmmm..." Terus..... Kalau begitu acara kita di sini kan selesai.. Mending kita pulang yu.." Ajak Irma.
"Ayo....... Kita ke bawah dulu ke restoran ada sesuatu untuk di bawa pulang oleh kalian yang sengaja di undang oleh ku.." Kata Awan mencari cara untuk mengulur waktu agar Bu Dewi nanti bisa menjelaskan semuanya.. Tentang Kiara mau berkorban untuk di jadikan umpan dalam siasat dan rencana yang sudah di atur oleh Awan.
"Ok siap bos.." Jawab Irma dan Mira bersamaan.. Membuat Awan dan lainnya tersenyum renyah.
Awan langsung memberikan kode kepada Bu Dewi untuk mendekat terlebih dahulu.. Setelah Bu Dewi mendekat.. Awan pun memperlihatkan sebuah video yang ada area halaman restoran itu...
Tampak terlihat dalam video itu enam lelaki asing sedang dalam kepungan lima murid Mama Sepuh dan satu sahabat Muhammad Awan Pratama yang bernama Sutisna..
"Anakku....... Mereka...." Kaget Bu Dewi..! Awan hanya mengangguk dan langsung berbisik ke telinga Bu Dewi..
__ADS_1
"Bu aku titip mereka ya... Aku dan Kak Excel akan membantu melawan nya..!
"Iyaa... Hati hati..." Balas Bu Dewi seraya mengangguk.
Setelah meminta ijin dan menitipkan kedua sahabatnya beserta Nabil dan Lisa Awan pun langsung mengajak anak dari pewaris perusahaan Future Nugraha Company Group.
"Kak Excel... Ayo kita turun ke bawah dan berolahraga.." Ajak Awan kepada Excel.. Membuat Amel dan Nabil kebingungan.
"Olahraga..." Sontak mereka berdua Amel dan Nabil terkaget kaget.
"Akhirnya...... Yang di tunggu tiba juga..." Kata Excel seraya mengepalkan kedua tangannya...
Mereka kebingungan dengan ajakan dari Muhammad Awan Pratama kepada pemuda yang sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangan nya terhadap putri dari Dewi Ayunda. Insting Nabil.. mengatakan mungkin sudah saat nya perang besar itu akan di mulai.
"Kak..... Awan tunggu..... Teriak Nabil ketika dua pemuda yang berbeda usia sudah mau keluar dari lantai atas itu.
Awan pun langsung membalikkan badannya dan salah satu dari kedua matanya mengedip ke Nabil sambil tersenyum manis.. Lalu Ia pergi bersama Excel keluar dan langsung menuju area parkiran restoran mewah itu.
Nabil hanya terpaku, menatap punggung kekasihnya itu.. Ada gelombang dahsyat dalam dada nya, bahwa malam ini akan terjadi sesuatu yang akan merubah kehidupan nya itu.....
"Bu Dewi..... Pak Kohar...... Apakah ini sudah waktunya.?" Tanya Nabil kepada kedua Orang Tua Amel yang sejak tadi wajah mereka berdua tanpa tak bergairah melepas kepergian anak angkatnya itu.
"Iya anakku... Nabil Nur Fadillah... Kita di sini hanya bisa berharap dan berdoa semoga mereka di berikan keberhasilan dan pulang dengan membawa kebenaran.." Jawab Bu Dewi tatapan nya tak menoleh kearah Nabil.
Nabil hanya bisa menutup mulut nya..... Ini bener bener di luar kendali nya, walaupun Ia sendiri mengetahuinya tetapi bila harus memohon berikan lah waktu sebentar saja untuk mengucapkan kata kata indah kepada pemuda itu... Nabil berpikir keras karna yang di hadapi nya sekarang bukan kaleng kaleng.
"Bunda....... Ayah........ Coba jelaskan sebenarnya apa yang akan terjadi.?" Tanya Amel... Jelas Ia kebingungan apalagi buat Mira dan Irma serta Lisa.
__ADS_1
Sementara di area halaman parkir restoran mewah, tampak suasana sudah sepi dan para pegawainya yang masih tersisa jelas bukan pegawai restoran itu, melainkan orang orang dari preman Kang Dayat yang di susupkan oleh orang yang berkhianat di antara barisan perusahaan Anugrah Awan Sentosa.
Bersambung.