Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Jomblo Sejati


__ADS_3

Malam Minggu seringkali menjadi momen yang paling ditunggu buat quality time bersama orang tersayang. Salah satunya menghabiskan waktu dengan pasangan. Sayangnya, bagi jomblo, malam Minggu bisa dibilang malam terberat. Sebab kesendiriannya tanpa pasangan seringkali bikin jomblo galau.


"Hahahahahaha. Kita kumpulan orang orang jomblo sejati dengan bermalam mingguan yang di kerumunan oleh nyamuk nyamuk nakal." Kata satu dari dua belas orang yang sedang duduk santai di teras rumah milik Bu Dewi.


"Hehehehe. Apa yang di katakan oleh Akang sepuluh memang bener." Timpal Sutisna.


"Santai. Sutisna.!! Setelah misi yang di berikan oleh Mama Sepuh selesai setidaknya kita memiliki kekuatan materi dan tidak akan minder lagi mendekati wanita yang suka merendahkan terhadap orang yang tak punya." Kata Akang yang lainnya.


"Betul Apa yang di katakan oleh Akang delapan ini. Kita selesaikan dulu tugas yang di berikan oleh Mama Sepuh menjaga keselamatan bos Awan." Jawab Sutisna.


"Tarmin. Kenapa kau dari tadi hanya melamun saja, kaya ada yang sedang kamu pikirkan.?" Tanya Akang satu ketua dari Murid Mama Sepuh.


"Ehk. Anu itu. Akang satu." Ucap nya terbata bata dan tidak melanjutkan perkataannya lagi.!!


"Hahahaha. Loe kangen ma cewek mu kan. Teh Lara." Sahut Sutisna. Tarmin pun tersenyum wajahnya menunduk dan bersemu merah.


"Ahk. Kang Sutisna. Lara itu bukan cewek ku.! Tak pantas lah aku bersanding dengan seorang bidadari." Kata Tarmin merendah.


"Tarmin. Kata siapa tak pantas. Aku yakin kamu sangat pantas. Kamu telah menyelamatkan hidup nya dari keterpurukan dan membawa kejalur kebenaran. Kamu saja yang tak berani mengungkapkan perasaan nya." Kata Akang satu memberi nasehat.


"Betul itu Tarmin. Apa yang di katakan Akang satu." Timpal Sutisna memberi dukungan.!


"Iya. Betul Tarmin." Ucap yang lainnya juga ikut memberi semangat kepada anak dukun sakti itu.


"Terima Kasih. Kalian semua. Baru kali ini aku mempunyai teman dan memberi semangat kepada ku. Sebelumnya tidak ada orang yang mau memberikan dukungan selain kedua Orang Tua ku. Mungkin gara gara profesi ayahku yang menjadi dukun sesat." Kata Tarmin dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


"Tarmin kita di sini bukan teman. Tapi kita semua yang sedang berkumpul dan duduk bersama adalah saudara. Aku tahu siapa Ayahmu. Waktu pertama kali bos Awan memperkenalkan dirimu dan Teh Lara. Terkejut bukan main, tetapi setelah bos Awan menjelaskan semuanya. Aku pun ikut prihatin kepada mu dan Teh Lara. Mudah mudahan dengan ikut nya bergabung dengan kita kita, kamu mau belajar sedikit demi sedikit mempelajari ilmu agama dan selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta." Kata Sutisna sambil memeluk pria seumuran nya itu seraya menguatkan hati nya.


"Insyaallah Kang Sutisna. Tarmin akan berusaha berjalan dalam kebenaran, maka sudikah kalian membimbing saya yang penuh dengan lumpur hitam menjadi air yang sangat bersih." Pinta Tarmin.


"Tenang saja Tarmin. Kita semua akan belajar bersama dan berjalan bersama dalam kebenaran." Jawab Akang satu dan anggukan dari semua yang sedang berkumpul malam itu.


Obrolan receh mereka yang status nya jomblo sejati berlangsung dengan canda ria, sesekali bernyanyi bersama membuat para tetangga atau pun yang sedang melintas di halaman teras rumah merasa iri dengan obrolan yang penuh dengan tawa dan canda di malam Minggu tersebut.


****


Berbeda tempat tapi masih waktu dan malam yang sama. Tepatnya di salah satu rumah berukuran kecil dan hanya mempunyai dua kamar untuk mereka tiduri dan depan rumahnya ada sebuah kios kecil tempat mereka mencari nafkah.


Malam itu seorang gadis sedang uring-uringan tak jelas dan bawaan nya jutek dan cemberut. Kemungkinan terbesarnya karna malam yang sudah di tunggu tunggu oleh gadis itu akan batal karna menunggu seorang pemuda yang tak kunjung datang dalam acara malam mingguan tersebut.


Seorang wanita setengah tua yang berusia 40 tahun lebih dan wanita yang tak jauh berbeda usia nya hanya berselisih lima tahun sesekali tersenyum melihat tingkah gadis itu yang mondar mandir keluar dari rumah dan masuk lagi ke rumah nya, sesekali dua wanita itu, sesekali kedua wanita itu menyapa dan menegurnya, hanya jawaban ketus yang di berikan oleh gadis cantik dengan hidung mancung dan mata bersinar serta kulit pipi yang putih mulus.


Gadis itu yang dari tadi mondar mandir keluar masuk rumah nya buru buru melihat siapa yang datang, dan berpikiran pemuda itu yang datang, tapi pas di lihat bukan Mobil Marcedez Benz melainkan mobil Toyota Yaris Ia pun kembali masuk dengan wajah cemberut.


Sementara dua wanita yang berbeda usia pun melihat gadis itu masuk hanya tersenyum geli, karna harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi dua wanita itu bertanya tanya siapa pengemudi mobil itu yang terparkir tepat di samping warung nya.


"Hmmmmmmm. Mungkin seorang yang ingin beristirahat sambil meminum kopi di warung ku." Gumam Wanita tersebut.


"Ehk. Mbak.. Zahra Bos Awan, yang turun dari mobil itu." Kata Pipit tersenyum.


"Wah." Kata Azzahra. Lalu ia menengok dan tersenyum kearah pemuda yang sedang berjalan kearah warung nya.

__ADS_1


"Bunda. Mbak Pipit." Sapa Awan. Lalu mencium tangan kedua wanita itu satu persatu.!!


"Anakku. Baru datang.!! Habis dari mana?" Bidadari mu, dari tadi uring-uringan dan mondar mandir sambil mukanya jutek dan cemberut." Kata Azzahra memberi tahukan.


"Iya. Bos Awan. Udah di tanya baik baik juga jawaban ketus." Sahut mbak Pipit.


"Waduh. Bunda. Mbak Pipit. Bisa bisa Awan di keribi oleh Nabil." Jawab pemuda itu menepuk keningnya.


"Sudah. Kamu temui saja. Bunda tidak bisa menolong mu." Kekeh Azzahra Masika Fatharani.


"Hahahahaha. Maka nya bos kalau punya janji jangan melar kaya karet gelang saja." Sindir Mbak Pipit.


"Hmmmmmmm. Kalian berdua bukannya bantuin Awan malah nyindir." Keluh Awan.


"EKP. EMANG KITA PIKIRIN." Kompak mereka berdua tertawa terbahak bahak.


"Pemuda itu hanya garuk garuk kepalanya.!! Tiba tiba suara teriakan memanggil nama pemuda itu terdengar jelas di mereka bertiga.


"Kak. Awaaaaaaaaan." Teriak Nabil dari pintu rumahnya.


"Bunda........ Mbak Pipit........... Tolongin Awan. Nona Putri kaya nya marah." Kata Awan memelas. Dua wanita itu lalu mengusir nya dari pintu warung sambil tertawa cekikikan.


"Kak. Awan sini hah." Teriak Nabil dengan sorot mata yang tajam dan tangan Ia letakkan dalam pinggang nya.


"Aduh. Sial bener sial, bisa bisa di amuk nie oleh Nabil." Batin Awan dalam hati sambil berjalan garuk garuk kepalanya.

__ADS_1


Mbak Pipit dan Bunda Azzahra cekikikan mengintip dari pintu warung seraya jempol nya dia arahkan kepada gadis yang sedang melotot kearah pemuda yang sedang melangkah menghampiri Gadis itu.


"Bersambung.


__ADS_2