
"Tok..........! " Tok...........! " Tok...........!
"Assalamualaikum." Ucap Awan di malam itu mengetuk rumah tetangga nya.
"WaallAikum Salam." terdengar suara yang menjawab dari ucapan dari pemuda itu.
"Kreat...........! Pintu pun terbuka dan muncul seorang lelaki berusia 35 tahun berdiri di hadapan pintu masuk.
"Nak Awan, mari masuk." Ucap lelaki setengah tua itu.
"Hatur nuhun Mang." Jawabku.
Awan pun masuk kedalam rumah tetangga itu dan duduk di teras lantai dalam rumah.
"Bibi Lilis kemana mang kok gak kelihatan.? Tanyaku.
"Dia sedang menginap di rumah ibu nya di daerah dermaga Jangari bersama Ilham dan Rania karna sedang ada acara maulid nabi." Jawab Lelaki itu yang bernama Baban.
"Ohk......! Amang gak ikut.! Tanyaku basa basi terlebih dahulu sebelum ke pokok intinya.
"Tadinya mau ikut.........! Berhubung Pak Juna ngajak mancing tadi pagi jadi badan terasa lelah dan capek." Jawab Baban lelaki itu.
"Aduh jadi ke ganggu sama saya, istrahat mang Baban." Ucap ku.
"Ahk.........! Tidak juga, emang nak Awan ada perlu apa sehingga malam malam begini menemui amang?" Tanya Mang Baban.
"Begini................! Maksud tujuan datang kesini malam malam, mau menanyakan tentang pembicaraan seminggu kebelakang, Mang Baban ingin menjual rumah ini." Kata Awan menjelaskan maksud tujuan nya.
"Ohk..... iya bagaimana sudah ada peminatnya apa belum? Tanya Mang Baban antusias.
"Kalau peminat nya sudah ada Mang, cuma mau tahu harga pas nya berapa? Tanya Awan, mudah mudahan bisa kurang dari harga yang pertama Ia tawarkan.
"Harga pas 85 juta, tadinya Amang meminta menawarkan kepadamu 90 juta karna yang 5 juta nya komisi buat Nak Awan." Kata Mang Baban.
"Begini mang 80 juta di kasih nggak bersih, tak usah memberi komisi lagi kepada saya." Pinta Awan.
"Hmmmmm." Harus diskusi kan dulu sama istri saya.! Kalau Amang sih gak jadi masalah.! Jawab lelaki itu.
__ADS_1
"Yaa.........! Sudah Amang diskusi kan dulu sama Istri. Nanti kalau dah sepakat baru kasih kabar kepada saya." Kata Awan, menunggu Jawaban dari mang Baban.
"Pas nya aja Nak Awan 83 juta.! Kata Mang Baban turun dua juta dari harga awal......!
"Baiklah, bila sudah harga pas nya segitu........! Besok sore saya datang sama pembeli nya atau pun saya sendiri yang datang sambil membawa uang nya." Kata Awan.
"Siap....... Deal." Kata Mang Baban mengulurkan tangannya.
"Deal........! Awan menyambut uluran tangan dari pemilik rumah tersebut.
Setelah berbincang bincang cukup lama dan melihat pemilik rumah yang mau di jual pun sesekali menguap karna rasa kantuk, pemuda itu pun beranjak undur diri dan kembali ke rumah nya.
"Mang saya pamit karna waktu sudah larut." Pinta Awan lalu berdiri.
"Silahkan, Nak Awan, besok sore ya transaksi penjualan rumah sudah deal kan? Tanya Mang Baban mengingat kan nya.
"Iyaa mang deal." Jawab Awan lalu dia berjalan keluar dari rumah yang mau di beli dan langsung menuju rumah Bunda.
Setelah pulang dari rumah Mang Baban, lalu pemuda itu pun masuk kedalam rumah yang sudah sepi mungkin sudah pada tidur, pemikiran dalam hatinya.
Awan pun melangkah menuju kamarnya yang ada di dekat dapur. Tiba tiba satu suara mengagetkan dirinya di malam itu.
"Aduh Bunda, ngagetin aja, Timpal Awan lalu duduk di kursi dan di ikuti oleh Ibu kandung nya itu.
"Sudah Bunda, besok sore transaksi jual beli nya." Kata Awan.
"Ohk.......! Anakku boleh kah Bunda bertanya sesuatu kepadamu.? Tanya Lisnawati berhati hati.
"Ada apa Bunda, dan mau bertanya apa? Tanya Awan dengan kening berkerut.
"Sebenarnya Bunda penasaran, kamu dapat uang darimana?" Tanya Lisnawati pelan tetapi terdengar oleh Awan.
"Bunda, percaya sama Awan? Tanya anaknya seraya memegang tangan wanita yang telah melahirkan nya itu.
Lisnawati mengangguk.!
"Uang yang Awan dapat Alhamdulillah jalan yang halal bukan dari hasil mencuri, atau pun berjudi, suatu saat Bunda akan tahu, yang penting sekarang doa kan anakmu ini semoga di jauhkan dari segala marabahaya, karna perjalanan ku kedepannya akan banyak rintangan, secara lahiriah mau pun batiniah." Awan berkata kepada Bunda dengan berhati hati agar tidak tersinggung hatinya.
__ADS_1
"Doa Bunda selalu ada buat mu Nak dan saudara saudara mu! Jawab Lisnawati.
"Yaa...... Sudah Bunda istrahat, Awan juga udah ngantuk." Ucapnya seraya berdiri dan melangkah menuju kamar tidur.
************************************************
Malam pun semakin larut, suasana di kampung Situhiang cukup sunyi dan hanya ada beberapa kentungan KOH kol pos ronda, yang sedang berjaga saling bergantian.
Disalah satu rumah yang lumayan cukup besar dan halaman belakang rumah mengarang kepada hamparan sawah yang begitu luas dan di tengah tengah sawah terdapat saung tempat ketiga sahabat nya dan pemuda itu menghabiskan waktu bila sedang mengobrol di sore hari.
Pak Juned, selaku ayah dari Ani atau pun dari Rahma Nabil sedang mengobrol di kamarnya bersama dengan istrinya yang bernama Komariah.
"Bunda.........! Itu si Awan pulang kok bisa bawa motor, jangan jangan di seminggu gak pulang, dia jadi gigolo di kota Bogor." Jawab Pak Juned suami nya.
"Bisa jadi Yah........! Kan dia punya tampang dan perawakan yang tinggi." Sahut Istri nya itu.
"Ihk......... Amit Amit yaa Bun.......! Jangan sampai si Rahma dekat dekat dengan anaknya si Lisnawati itu." Kata Juned mengingat kan kepada istrinya.
"Iyaa...... Nanti Bunda bilangin sama Rahma," dan ketiga gadis yang suka bermain sama si Awan itu.
"Bener pisan Bunda, Nanti biar ayah yang ngomong sama bapak nya mereka bertiga, Kiara dan Mira serta Irma." Sahut suaminya.
"Begini saja, Bunda yang ngomong sama Ibu nya mereka bertiga, ayah yang ngomong sama Ayah, bagaimana?" Tanya Komariah.
"Baik Bun, besok ayah langsung ngomong sama Orang Tua mereka bertiga........!
Sama hal nya dalam waktu yang sama dan rumah yang sama cuma berbeda kamar saja.
Di kamar pasangan suami istri yang baru seumur jagung itu, Ani Wulandari dan Suherman, sama hal nya sedang berbincang bincang di kamarnya.
Mereka berdua sama hal sedang mengobrol dan mengumpat keluarga dari Muhammad Awan Pratama.
Tak merasakan rasa curiga sedikitpun, obrolan Kedua Orang Tua nya dan Kakak kandung serta Kakak iparnya di dengarkan oleh anaknya atau pun adiknya Rahma Nabil.
Apakah sebenci itu kah mereka berempat kepada pemuda yang sangat aku cintai dan sayangi." Ucap Rahma seraya air mata nya mengalir di pipi mulus gadis cantik itu.
Apa kesalahan Muhammad Awan Pratama dan keluarga nya hingga mereka dan kakak ku begitu tidak suka pada keluarga Bu Lisnawati, padahal sekecil apapun mereka tidak pernah mengusik dan merugikan kehidupan keluarga! Ucap Irma dalam hati lalu masuk kedalam kamar nya.
__ADS_1
Dalam dekap malam nya Rahma Nabil seraya menangis memeluk guling bantal kamar nya, dan kecewa kepada Orang Tua serta kedua kakak dan kakak iparnya.
Tidak terasa karna rasa lelahnya akibat menangis yang dia tahan dalam dekapan guling, membuatnya dia kelelahan dan terlelap dalam tidur panjang nya malam itu.