Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Pandangan Aden Haruman belum selesai


__ADS_3

Malam begitu tenang mengiringi keindahan suasana rumah di malam hari, sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali suara burung malam terbang penuh harapan. Udara terasa dingin menyegarkan. Langit cerah dihiasi bintang-bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan. Nyamuk juga tidak mau kalah, terbang kesana kemari berhamburan mencari hamparan kulit untuk mengobati kehausan. Oh Tuhan betapa malam ini penuh dengan kebahagiaan, jiwa-jiwa yang kelelahan terlelap dalam tidur malam, sementara beberapa jiwa nampak terbangun, duduk mengadu kepada Tuhan pencipta seluruh alam. Terdiam dalam indahnya sebuah malam.


Seorang pemuda tampan yang baru berusia enam belas tahunan itu keluar dari mobil mewah nya seorang diri tanpa ada pengawalan atau pun seorang perempuan berusia sama yang selalu ikut kemana pun pemuda itu pergi.


Malam itu tepat malam Jumat, ketika selesai dengan acara tasyakuran rumah Ibu nya yang baru saja selesai di renovasi dan menjadi rumah yang sangat megah dan luas di area kampung Situhiang, Muhammad Awan Pratama pun langsung pergi menuju kawasan puncak Bogor dan mobil nya berhenti tepat di kampung Citamiang.


"Tok.......... Tok........... Tok........ Abah, Awan datang berkunjung.." Ucap pemuda itu seraya mengetuk pintu dari luar.


"Heeh tunggu anak Jin Kuya.." Jawab lelaki paruh baya dari dalam rumah.


Tak lama beberapa detik pintu rumah pun terbuka dan Awan pun langsung masuk setelah mencium tangan Abah Aden Haruman.


"Awan sendiri..?" Tanya Aden Haruman setelah selesai tangannya di cium oleh pemuda tersebut.


"Iya Abah sendiri seraya melangkah kaki nya menuju kursi.


"Tumben silaing gak di kawal hehehe..?" Tanya Aden Haruman terkekeh.


"Kenapa harus memakai kawalan Abah.. Semua musuhku sudah selesai dan urusan ku semua sudah berakhir.." Jawab Awan santai..


"Hehehehe...... Bila urusan mu sudah selesai kau tak mungkin kesini... Kopi atau Air biasa.?" Tanya Aden Haruman.


"Kopi Hitam samakan kaya Abah hehehehehe.." Jawab Awan... " Ok... " Ucap Aden Haruman mengacungkan jempol nya.


Lima menit kemudian.. Dua gelas kopi sudah tersedia di meja kecil tempat biasa Aden Haruman dan Awan mengobrol.

__ADS_1


"Abah... Maksud tadi perkataan Abah.. Bila urusan ku sudah selesai kau tak mungkin kesini.. Bisakah Abah terangkan.." Pinta Awan.


Aden Haruman tersenyum sumbing.. Ia mengambil gelas kopi untuk di minum, begitu juga dengan pemuda tersebut sambil menunggu jawaban dari lelaki paruh baya yang menjadi gurunya itu.


"Begini Awan....... Walaupun kau sendiri tak ikut campur dalam interen keluarga besar Fatharani dan perusahaan Ismail Group karna sang dalang sudah berhasil di jebloskan ke balik jeruji besi dan akan menjalani hukuman yang sangat setimpal.... " Kata Aden Haruman terdiam sesaat sebelum melanjutkan perkataannya lagi.. Awan pokus mendengarkan nya.


"Akan tetapi keluarga Abanoub, tak bisa di anggap remeh, orang orang yang di kerahkan selama ini, termasuk kedua kakak nya Rojak dan Jabar serta Abu Bakr, itu hanya secuil dari kekuatan besar Keluarga Abanoub.." Terang Aden Haruman.


"Dari mana Abah bisa mengetahui kekuatan keluarga Abanoub..?" Tanya Awan refleks.


"Hehehehe.... Saat kau terbaring koma di rumah sakit dan arwah mu terpental ke dunia lain, lalu pendeta Haka membawa mu ke pertemuan dengan para orang sakti di Gunung Jabal Musa.." Jawab Aden Haruman.


"Ohk... Iya Awan mengingat nya Abah.!!


"Lalu terus Abah jelaskan lagi.." Pinta Awan masih penasaran alur kehidupan nya kedepan nya seperti apa.


"Memburu dirimu hanya sebuah dendam karena ikut campur nya dan menjadi perisai ibu beserta anak yang menjadi kekasih mu itu." Sambung Aden Haruman.


Awan mendengarkan penuturan dari sang guru dengan sesekali kepalanya manggut manggut.. Ia mencoba dan mencerna setiap uraian kata dari sang guru yang mati matian melindungi dirinya.


"Menurut pandangan mata batin Abah.. Kemungkinan orang orang kuat di belakang keluarga Abanoub akan menyerang keluarga Fatharani dan perusahaan Ismail Group serta dirimu bukan sekarang sekarang, kemungkinan terbesar di saat usia mu menginjak dua puluh tahun dan dari sekarang kau bisa memperkuat pertahanan dalam sumber daya manusia.." Kata Aden Haruman.


"Baiklah............ Awan mengerti.." Jawab pemuda itu singkat.. Aden Haruman tersenyum dalam obrolan malam mereka berdua.


########################

__ADS_1


Sang mentari sudah terbit di ujung timur negri ini, di area jalan tol Jagorawi rombongan mobil mewah saling beriringan membelah jalanan di pagi hari itu..


Sesampainya di salah kota kecil dengan ciri khas makanan nya Tauco dan orang orang luar kabupaten menyebutkan dengan julukan kota Santri.. Rombongan mobil mewah itu pun langsung membelokkan kemudi setir ke salah satu jalan menuju sebuah bangunan bertingkat empat dengan nama bangunan itu. PT Anugrah Awan Sentosa.


Di loby bangunan berlantai empat itu sudah berdiri sepasang suami istri setengah tua dengan di samping kiri dan kanan staf perusahaan, menyambut rombongan tersebut yang baru saja sampai pukul 08 pagi hari.


Sepuluh murid Mama Sepuh yang berada dalam barisan penyambutan itu, setelah menerima anggukan dari Nyonya Besar Dewi Ayunda.. Lalu berjalan untuk membukakan ke empat pintu mobil mewah itu.


Tampak setelah pintu di buka secara bersamaan.. Sepasang suami istri paruh baya dan kedua anaknya yang Ia kenal dan ikut andil dalam perperangan malam itu bersama sang Tuan Muda Awan.


Sementara ketiga mobil mewah lainnya, setalah pengemudi dan penumpang yang ada dalam tiga mobil mewah itu keluar, bagi Bu Dewi dan para staf pegawai nya, tidak mengenalinya..


"Apakah mereka Keluarga besar dari Azzahra Masika Fatharani..?" Tanya Bu Dewi dalam hati.


"Selamat datang Tuan Tedi Ferdiansyah dan Nyonya Agista serta kedua anaknya.." Ucap Bu Dewi membungkuk hormat.


"Terima Kasih.. Nyonya Dewi dan yang lainnya atas penyambutan ini.. Perkenalkan mereka semua adalah keluarga besar Fatharani dari negri Piramida.." Kata Tedi Ferdiansyah memperkenalkan orang orang yang datang dalam rombongan di pagi hari itu.


"Selamat datang di negara kami.. Salam hormat kami semua dari perusahaan kecil ini.." Ucap Bu Dewi merendah dan membungkuk hormat di ikuti yang lainnya.


"Anda Anda semua terlalu sungkan.. Justru lelaki tua ini bersama keluarga yang harus membungkuk hormat kepada orang orang dari perusahaan Anugrah Awan Sentosa yang secara tulus ikut membantu menyelesaikan segala permasalahan yang ada di interen Cucuku dan anaknya.." Kata Fatharani membungkuk hormat bersama keluarganya.


"Bisakah Nyonya Dewi, membawa kami Keluarga Besar Fatharani untuk bertemu dengan Azzahra dan Nabil Nur Fadillah.." Sambung lelaki tua itu setelah membungkuk hormat.


Bu Dewi hanya tersenyum dan mengangguk.!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2