
"Begini...... Sayang.... Tadi sebelum kita berangkat dan kamu serta kalian berdua masih berganti pakaian, kakak dapat kabar dari murid murid Mama Sepuh bahwa Bob Hidayat sudah meninggal di rumah sakit akibat kiriman santet dari seseorang yang membencinya.. Kalian mau tahu nggak siapa orang yang telah menyantet Bob Hidayat.?" Tanya Awan.
"Hah................ Rasain lah kalau lelaki itu sudah mati. Jadi Mbak Pipit untuk saat ini sudah aman.." Kaget Nabil sesaat lalu berkata lagi.
"Emang siapa yang menyantet Bob Hidayat Kak.?" Tanya Nabil penasaran, begitu juga dengan Asep dan Teh Lara yang duduk di belakang mereka berdua..!
"Mertua nya almarhum Haikal, yaitu Abah Suryana bapak dari seorang anak yang kini sedang berada di rumah sakit dan dalam pengawasan Kanit Diki." Jawab Awan...
"Apakah Mbak Pipit dan Bunda sudah mengetahui nya kabar kematian dari Bob Hidayat.." Terka Nabil..
"Mungkin...... Mereka sudah mengetahui.!! Karna Kanit Diki dan Ketiga murid Mama sepuh yang berjaga di rumah sakit rakyat itu, setidaknya langsung memberitahukan kepada Bunda Dewi." Jawab Awan, lalu mobil yang di kemudikan berbelok ke arah Mansion yang begitu megah dengan gerbang pagar menjulang tinggi.
"Kak.... Ini Mansion siapa dan kakak mau menemui siapa.?" Tanya Nabil... Ia belum sempat bertanya kepada Muhammad Awan Pratama tujuannya setelah keluar dari hotel..
Begitu juga dengan Lara dan Asep Sunandar, pikiran dan hati mereka bertiga, keluar dari hotel akan kembali ke kediaman nya Liem Tank Cie..
"Tuh.... Yang punya Mansion nya berdiri bersama keluarganya menyambut kedatangan kita kita." Tunjuk Awan ketika mobil itu telah berhenti di samping mobil Lamborghini Sian..
Para penjaga satpam di Mansion itu pun langsung membuka kan pintu mobil mewah Marcedez Benz C-Class yang di kendarai oleh pemuda tampan nan rupawan dan gadis cantik berkebangsaan Mesir itu.
"Ayo kita turun.." Ajak Awan.. Tak di lama kan lagi Nabil pun mengangguk dan langsung membuka pintu mobilnya.
"Selamat datang Tuan Muda Awan.! Ucap satpam setelah pintu mobil itu terbuka dan Awan pun keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Terima Kasih Paman.!!
Nabil dan teh Lara serta Asep Sunandar langsung berjalan menghampiri Awan.
Senyum terukir di wajah pasangan suami istri paruh baya yang berdiri di halaman depan Mansion menyambut kedatangan Muhammad Awan Pratama bersama Nabil Nur Fadillah dan mereka berdua..!
"Tuan Besar dan Nyonya Besar. Kalian berdua semakin romantis saja, membuat anak mu ini iri." Sapa Awan setelah berdiri di hadapannya dan langsung memeluk lelaki paruh baya terlebih dahulu.
"Hehehehe....... Kamu bisa aja anak ku....... Bagaimana keaadaan mu sehat." Kata Tedi Ferdiansyah setelah melepaskan pelukan hangat di siang itu.
"Alhamdulillah... Saat ini kondisi dan tubuhku sehat wall a'fiat... " Ucap nya lalu memeluk wanita hebat yang berdiri di samping Tedi Ferdiansyah.!
"Nyonya Besar..." Ucap Awan dengan senyuman dan langsung memeluk wanita paruh baya itu.!
"Anakku.. Semakin dewasa saja... Bagaimana Bunda mu dan Bu Dewi keaadaan nya.?" Tanya Nyonya Agista menanyakan kabar dua wanita hebat yang selalu ada di hati pemuda itu.
"Insya Allah...... Nanti kalau musim liburan.... Aku bersama suami akan mengunjungi Bunda mu." Jawab Nyonya Agista dengan senyuman manis.
"Siap nanti Awan bilangin sama mereka..!
"Sebaiknya kita masuk dan mengobrol di dalam Nak... Ada banyak yang perlu kita bahas." Ajak Tedi Ferdiansyah setelah basa basi dengan penyambutan kedatangan mereka berempat.!
"Siap Tuan Besar." Jawab Awan dan anggukan mereka Lara serta Asep Sunandar..
__ADS_1
"Kak... Friska mana Tuan Besar, Nyonya Besar.?" Tanya Nabil dari tadi celingukan tak melihatnya.!
"Friska.... Tadi sedang ada di kamar mandi... Mungkin sekarang sudah beres dengan aktivitas mandinya dan kemungkinan sekarang ada di kamarnya.. Ayo kita temui Nona Muda." Ajak Agista kepada Nabil, seorang gadis cantik yang harus di hormati dan layak di panggil Nona Muda oleh keluarga Tedi Ferdiansyah.
Mereka pun langsung masuk kedalam Mansion.. Agista sebagai Nyonya rumah membawa Nabil menuju kamar Friska anaknya... Sementara Tedi Ferdiansyah bersama Awan dan Lara serta Asep Sunandar langsung menuju ruangan khusus, karna banyaknya permasalahan yang harus di bahas.
Sesampainya mereka di ruangan khusus, yang biasa di pakai untuk bermusyawarah.. Tedi Ferdiansyah sebelumnya sudah memerintahkan kepada pembantunya untuk di buatkan kopi terlebih dahulu.
"Awan mungkin sudah mengetahui informasi dari sang Asisten perusahaan Future Nugraha Company Group tentang Jamil dan anak buahnya menargetkan anakku." Kata Tedi memulai obrolan pertama nya.
"Yaa.... Semua rencana dalam dua kali pertemuan itu sudah Awan ketahui.. Dan perlu Tuan Besar ketahui.. Lawan kali ini sudah mempersiapkan dengan matang.. Kunci finansial SDM kita 50 % sudah di babad oleh mereka dengan tertangkap Aidil dan Moch Ahmad yang saat ini belum tahu keberadaan mereka berdua dimana di sekap nya." Terang Awan dalam jawaban seadanya.
"Apakah kamu sudah mempunyai rencana... Aku Tedi Ferdiansyah sepenuhnya percaya kepada mu Muhammad Awan Pratama, walaupun kau selalu memperlihatkan kerapuhan dan ketidakberdayaan kepada setiap orang yang di ajak dalam berdiskusi untuk memecahkan segala permasalahan yang sulit untuk di pecahkan, tetapi aku dan keluargaku serta orang orang dari perusahaan Future Nugraha Company Group sepenuh nya percaya kepada dirimu." Puji Tedi Ferdiansyah, sesaat sejenak hati nya tersentak kaget dalam kata kata anak angkatnya itu.
"Hahahahaha... Tuan Besar pandai memuji........" Tawa Awan lepas begitu saja setelah mendengar penjelasan dari pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group mempercayakan sepenuhnya kepada anak yang berusia belasan tahun itu, sungguh di luar nalar.
"Tuan Muda Muhammad Awan Pratama.. Kau sungguh anak yang luar biasa, aku terpesona dengan cara dan berpikir yang sulit di tebak oleh orang orang yang mempunyai pendidikan tinggi... Aku dan keluargaku sungguh beruntung bisa ada di sisi mu Tuan Muda." Ucap hati Lara... Hal serupa dalam hati Asep Sunandar pun bergejolak dan terpesona dengan pemuda yang berbeda tiga tahun usianya.
"Baiklah... Tuan Besar... Awan tidak akan berbasa basi lagi, bila sepenuhnya sudah mempercayakan kepada diriku ini...................... Awan terdiam sesaat.. Pikiran dan hatinya melanglang buana kepada ucapan yang di amanatkan oleh Aden Haruman gurunya waktu itu, harus bisa memutuskan sesuai dengan keselamatan dirinya sendiri.
Keputusan yang pertama bertemunya dengan anak dari Agus Ferdiansyah yaitu Nona Muda Tiara, telah sepenuhnya di putuskan dan Ia sepenuhnya menyetujui keiinginan dirinya untuk bermain di dalam barisan internal orang orang kepercayaan dari Kakak nya yaitu Firmansyah.... Sekarang di hadapannya Tedi Ferdiansyah juga hal sama menyerahkan semua keputusan di tangan seorang Pemuda Hebat Seperti Dewa.
"Apakah Awan mempunyai Sebuah Rencana Untuk Pemilik Perusahaan Future Nugraha Company Group.
__ADS_1
Jawabannya di episode selanjutnya.
Bersambung.