Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Perlarian Bob Hidayat dan Betmen


__ADS_3

Suasana pagi hari itu sungguh sangat sejuk di kaki bukit Gunung Slamet. Dua orang lelaki yang sedang duduk di teras rumah anak nya Mbah Sardjito yang jauh dari pemukiman warga. Dengan di suguhi rebusan ubi jalar dan goreng pisang menambah kenikmatan yang tak ternilai oleh mereka berdua.


Mereka berdua sudah hampir lima hari di rumah anak dukun santet yang ada di wilayah Jawa Tengah itu, mereka berdua kabur dari pengejaran pihak kepolisian karna telah melakukan kejahatan yang sangat patal.


Atas titah dari Mbah Sardjito dua lelaki berusia 35 tahun itu untuk sementara waktu untuk menetap di sini dan tepat di malam Jum'at kliwon mereka akan di suruh bertapa di Goa yang ada di kaki bukit gunung tersebut.


Mbah Sardjito menyuruh mereka untuk bertapa, agar mereka terhindar dari pengejaran dari pihak pihak kepolisian. Dengan terpaksa Bob Hidayat dan Betmen untuk sementara waktu tidak bisa keluar dari rumah anak Mbah Sardjito.


"Bob. Aku kangen sama anak dan istriku." Keluh Betmen.


"Aku ingin pulang Bob." Rengek Betmen.


"Sana pergi kalau loe mau menginap di jeruji besi." Kesal Bob Hidayat kepada Betmen yang dari semalam terus menerus merengek ingin pulang.


"Untuk mengobati rasa kangen loe sama Istri dan anak mu. Bagaimana kalau nanti kita jalan jalan ke kampung tempat menyimpan mobil kita bersama pemilik rumah ini dan kau aktipkan ponselnya lalu telepon Istri mu. Aku sendiri juga mau mengaktifkan ponselnya untuk menelepon kedua Orang Tua ku." Saran dari Bob Hidayat.


"Bob. Apakah tidak berbahaya bila kita mengaktifkan ponselnya. Takut nya di lacak melalui nomor ponsel." Jawab Betmen.


"Bodoh kau. Otak mu. Pake.!! Kita pake nomor baru. Aku sudah menyiapkan nomor yang sudah aku beli. Bob lalu mengambil dua kartu nomor telepon yang belum terpakai dan memberikan satu nomor ke Betmen.


"Hehehehe............ Betmen hanya tertawa kecil seraya garuk garuk kepala nya.


Tak lama kemudian ketika mereka berdua asyik dengan obrolan nya. Jono pun tiba dari kampung sebelah menentang beberapa makanan dalam kantong plastik yang lumayan cukup besar untuk kebutuhan sehari hari dua lelaki yang sementara tinggal di rumah nya.

__ADS_1


"Pak Bob dan Pak Betmen......... Sedang santai aja." Sapa Jono setelah sampai di teras halaman rumah yang ada di tengah hutan.


Mereka berdua mengangguk. Iya mas Jono. Bagaimana apakah sudah di lihat permintaan yang semalam saya katakan.?" Tanya Bob Hidayat.


"Sudah Pak Bob........ Malahan sudah saya screenshot. Pak Bob tinggal lihat sendiri. Saya akan masuk kedalam rumah." Ucap Jono lalu menyerahkan ponsel nya.


"Terima Kasih Mas Jono. Ia menerima ponsel Mas Jono. Di balas anggukan oleh nya. Pak Bob tersimpan dalam galeri hampir banyak berita mengenai tentang kalian berdua." Ucap Jono.


Bob mengangguk dengan tidak sabar ia membuka galeri ponsel milik anak Mbah Sardjito dengan perasaan harap harap cemas, seketika wajahnya berkeringat bercucuran dalam wajahnya seketika melihat screenshot postingan Facebook milik dari Haji Epen secara terang-terangan mencari dirinya dan Betmen. Dalam postingan Facebook Di beranda nya. Terpampang Poto Bob Hidayat dan Betmen dan tulisannya. Bila menemukan dua orang ini segera lapor kepada kantor polisi terdekat karna mereka sudah menjadi DPO daptar pencarian orang.


Setelah puas melihat postingan dari Manajer CV Hansel Mandiri, Bob Hidayat pun langsung menggeser galeri untuk melihat screenshot lainya. Bukan Haji Epen sendiri yang memposting di Facebook tentang dirinya dan Betmen beberapa orang dari PT Bina Sakinah Group juga hampir sama postingan nya. Bob seketika lemas tak berdaya. Kini kehidupan menjadi buronan pihak kepolisian dan orang orang dari perusahaan Future Nugraha Company Group.


"Nih......... Loe lihat sendiri. Setelah kau melihat semua postingan Facebook dan media lainnya apakah kau masih berani untuk pulang ke rumah mu." Kata Bob lalu menyerahkan ponsel milik mas Jono kepada Betmen.


Hanya satu harapan mereka berdua untuk sementara waktu mengikuti ucapan Mbah Sardjito dan menetap di sini lalu menjalankan perintah yang di berikan oleh Mbah Sardjito yaitu bertapa di Goa sigotaka yang berbentuk persis seperti senjata milik warisan perempuan.


#####


Satu unit mobil Marcedez Benz e-class pun berhenti tepat di samping mobil Honda Brio RS berwarna putih itu. Beberapa orang yang berada di ruangan kantor pun segera keluar setelah mendengar suara mesin mobil yang di telah di modifikasi dengan knalpot racing terdengar oleh mereka.


Bu Dewi di antaranya langsung melangkah menghampiri mobil mewah tersebut dan membukakan pintu nya dan tersenyum kearah pemuda yang sudah keluar dari mobil tersebut.


Pemuda itu lalu mencium tangan wanita setengah tua itu, di balas usapan lembut rambutnya oleh Bu Dewi seraya berkata.

__ADS_1


"Anakku sudah dewasa ya. Sudah berani berani nya bawa anak orang.


"Bu Dewi Ia putri dari Bu Zahra. Langganan di kios kita. Pak Kohar mungkin mengetahui nya." Jawab Awan. Bu Dewi langsung menatap kearah suaminya. Anggukan kepala pertanda apa yang di ucapkan bos nya itu benar.


"Nabil sendiri langsung menghampiri pemuda yang sedang berdiri bersama seorang wanita seumuran dengan Bunda dan langsung mencium tangannya.


"Tante Dewi. Saya Nabil Nur Fadillah anak dari Bunda Zahra." Ucap nya memperkenalkan dirinya.


"Cantik......... Kau persis seperti ibu mu.!! Jawab nya lalu membawanya untuk masuk kedalam ruangan kantor di ikuti oleh Awan pemuda itu.


Amel yang melihat pemuda itu turun bersama dengan seorang gadis yang sangat cantik, dia tersenyum kearah nya.


"Kak Awan memang pantas bersanding dengan gadis cantik yang di bawa nya. Aku senang dan bahagia melihatnya." Batin Amel bergejolak.


Walaupun dalam diri Amel sangat menyukai dan mencintai pemuda yang menjadi bos dari kedua Orang Tua nya. Tapi dia tau dirinya perbedaan sosial nya sungguh jauh antara langit dan bumi. Bukan pemikiran Amel sendiri, tapi kedua Orang Tua nya sudah mengingatkan nya waktu itu.


"Amel. Bunda sama Ayah mohon minta Kepada mu. Buanglah rasa ketertarikan mu terhadap majikan Bunda dan ayah. Kita berdua tidak mau akibat ulah asmara, bisa menghancurkan hubungan Ayah dan Bunda bersama Muhammad Awan Pratama. Akan tetapi bila berjodoh kita tidak bisa mencegah nya." Pesan Dewi dan suaminya kepada anaknya.


"Anggap lah Awan itu seperti Adikmu. Bila kamu ingin kehidupan mu lebih baik. Jangan kau aduk campur kan antara asmara dan kekuatan Orang Tua mu yang telah menjalankan perusahaan milik nya." Pesan Lagi Bunda.


"Amel mengerti. Bunda sama ayah cukup percaya sama Amel." Jawab Nya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2