Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Meditasi Lara sudah selesai


__ADS_3

Entah pukul berapa, langit masih gelap suasana masih hening, hanya bunyi suara suara binatang malam yang terdengar di telinga Petapa yang baru tersadar oleh suara wangsit yang begitu jelas mengharuskan meminum darah seorang wanita yang belum keluar darah kotor. Petapa itu berjalan merayap secara perlahan dengan seluruh tubuh yang lemas dan rambut terurai persis seperti orang gila menuju sahung yang tidak jauh dari tempat lingkaran yang ia gunakan untuk bertapa.


"Bruk........ " Bruk........."' Bruk..........! Bruuuukk.........!


Pintu Sahung itu beberapa kali oleh Petapa itu di pukul dengan tangan, agar penghuni yang ada di sahung itu membuka nya. Karna badannya begitu lemas tidak terisi makanan beberapa hari ini, Petapa itu jatuh, sementara sahung itu belum terbuka.


Apakah Abah dan Umi maupun aa Tarmin tidak ada di sahung ini, atau mereka berada di rumah nya. Tapi terlihat bekas kayu bakar dan beberapa wadah yang ada di samping sahung tersebut." dalam hati bertanya tanya dalam keadaan ketidakberdayaan itu.


Tak lama ketika Petapa itu ingin mencoba bangkit untuk membuka pintu sahung itu untuk memastikan apakah ada orang di dalamnya nya.


"Kreek....................!! Pintu sahung itu terbuka dan terlihat seorang pemuda oleh Petapa itu.


Seorang lelaki muda sedang menguap, tanda baru bangun tidur tangan memegang sebuah senter menatap kearah Petapa dengan tatapan penuh kaget dan segera berkata dengan nada tinggi.


"Lara.......................!!


"Wuzzzzzzz.............!


"Blegh.....................!


Pemuda itu melompat dari atas sahung untuk memangku wanita yang mencoba berdiri tapi tak kuasa karna akibat seluruh tubuhnya tidak ada tenaga sama sekali.


"Aa. Lirih wanita yang di panggil Lara itu.


"Kamu jangan dulu banyak bergerak dan bersuara, seluruh tubuh mu masih dalam kondisi lemah. Biar aa yang memangku dan membawa mu masuk kedalam sahung ini." Kata Pemuda itu, Lara hanya mengangguk dan mata nya berkaca kaca.!!

__ADS_1


Tak lama setelah Petapa itu di bawa masuk oleh pemuda itu, Tarmin pun langsung menyiapkan bubur yang sudah di buat untuk di makan oleh Petapa tersebut, sesuai arahan yang di tuturkan orang tua nya.


Dengan sangat telaten dan penuh perhatian serta kasih sayang, Layaknya seorang suami mengurus Istri nya yang sedang sakit. Tarmin memberi asupan makan kepada wanita yang Ia sukai, tapi kata kata dari seorang lelaki paruh baya yang tak lain ayah nya sendiri, rasa itu ia buang jauh jauh.


Satu jam sudah Tarmin sibuk dengan aktivitas nya dengan ke iklhasan mengurus seorang wanita yang baru selesai bertapa dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia pun lalu menggendong wanita tersebut untuk di bawa ke Curug Sawer yang ada di bawah bukit Gunung Halu. Itu juga terlebih dahulu menjelaskan kepada Lara. Apa yang di Titah kan oleh Ayah nya. Lara sendiri hanya bisa menuruti tanpa menolak atau pun membantahnya.


"Terima Kasih aa, Aku Siti Lara berjanji tidak akan pernah melupakan kebaikan dan perhatian serta kasih sayang mu, di saat kondisi dan keadaan ku seperti ini. Terima Kasih banyak semuanya." Ucap Lara dalam hati ketika ia di gendong oleh pemuda itu.


Sesampainya, di bawah bukit Gunung Halu. Tepatnya di Curug Sawer. Lagi dan lagi pemuda itu melakukan arahan yang di titah kan oleh Abah kepada Petapa itu dengan cara lembut dan penuh kasih sayang, membuat Lara terkesima dan kagum oleh sikap pemuda tersebut.


"Kamu sebaiknya berendam di Curug Sawer ini selama sepuluh menit, dan seluruh pakaian yang melekat dalam tubuh mu di buka. Aa akan menunggu mu di situ. Bila sudah selesai tinggal teriak saja." Kata Tarmin.


Lara mengangguk tersenyum, dan mulai berjalan kearah batu yang tepat Air itu jatuh dari atas. Tarmin sendiri berjalan kearah yang sedikit jauh dari arah Curug Sawer itu.


Sepuluh menit sudah berlalu, tapi teriakan dari wanita itu tak kunjung terdengar di telinga Tarmin, hatinya bimbang dan cemas apakah menghampiri nya atau jangan. Kalau menghampiri nya, Ia tidak berani karna tahu wanita itu pasti dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun menutupi anggota tubuhnya. Akan tetapi bila ia terus berdiam diri, takut terjadi kenapa napa terhadap wanita yang sedang berada di Curug Sawer itu.


Dilema dalam pikiran Tarmin saat itu. Langit mulai terlihat tampak pagi segera tiba, perkiraan jam menunjukkan pukul Enam kurang beberapa menit. Tarmin pun melangkah Ia bertekad menghampiri seorang wanita yang sedang berendam di Curug Sawer karna rasa cemas dan khawatir.


"Lara......... Lara......... Apakah kamu sudah selesai dengan berendam nya. Kenapa tidak memanggil Aa.?" Tanya Tarmin ketika Ia sudah semakin dekat dengan Curug sawer itu dan mata tertutup oleh sarung yang di ikat kan pada kepalanya persis seperti seorang ninja jadi jadian.


Lara tersenyum melihat seorang pemuda itu memanggil namanya dengan merayap karna mata tertutup. Ia kagum menjaga pandangan mata nya.!!


"Lara...... Lara...... Apakah kau mendengar kan ku.?" Tanya lagi Tarmin karna tak kunjung mendapat jawaban.


"Aa. Maap. Lara sudah selesai. Mana pakaian ganti buat ku." Jawab nya.

__ADS_1


"Ohk. Syukur kalau begitu. Hati Aa tenang. Ini ambil semua pakaian mu sudah ada di dalam kantong plastik." Titah nya, seraya menyodorkan plastik hitam kepada wanita tersebut.


"Terima Kasih Aa." Balas manja Lara. Lalu ia menerima kantong plastik dari tangan pemuda itu dengan senyuman manis.


"Kalau sudah beres memakai baju kasih tahu ya." Pinta Pemuda itu.


"Ia. Aa, Emang kenapa gitu.?" Tanya Lara walaupun sudah tahu jawabannya.!


"Hmmmmmmm. Emang kamu gak kasihan kepada Aa. Dari tadi mata tertutup, berjalan merayap." Keluh Tarmin.!


"Hehehehe. Maap Aa, sebentar lagi juga selesai. Lagian Kalau mau buka mata mah, tinggal buka aja." Goda Wanita itu seraya terkekeh.


"Huh....... Dengus Tarmin. Aku tahu batasan seorang lelaki bila berhadapan dengan seorang wanita tanpa busana. Apalagi wanita itu bukan milik ku." Kata Tarmin sedikit kesal, karna telah menguji batas kesabaran nya itu.


"Maapkan. Lara, bukan maksud begitu. Hingga Aa kesal." Katanya memberi alasan.!!


"Tidak usah meminta maap. Apakah kamu sudah selesai dengan memakai pakaian. Bila sudah selesai. Ayo kita kembali ke rumah Abah." Ajak Tarmin, mengacuhkan perdebatan yang barusan terjadi. Lara menyadari pemuda itu sedang kesal akibat ucapannya.


"Sudah. Aa. Ayo kita berjalan menuju rumah Abah. Tarmin pun mengangguk dan membalikkan badannya. Lalu berjalan terlebih dahulu.


*****


Abah dan Umi. Orang Tua nya Tarmin menyambut kedatangan wanita yang sudah selesai dengan bertapa nya. Terlihat jelas mendekati rumah gubug itu dengan anaknya. Senyuman mengembang oleh sepasang suami istri paruh baya tersebut.


"Anakku. Siti Lara. Ayo masuk. Kedalam." Pinta Lelaki paruh Bayu itu setelah wanita dan seorang pemuda sampai di gubug nya.

__ADS_1


"Terima Kasih Abah.!!


Bersambung.


__ADS_2