
Suasana di malam itu sungguh sangat sepi dan jalanan tampak lenggang padahal itu malam Minggu, tapi suasana begitu sepi dan sangat genting.. Apakah itu semuanya sudah di atur oleh orang orang dari Muhammad Awan Pratama atau kah emang suasana nya memang sepi.
Satu kilo menuju lokasi Vila mewah itu yang berada di area Cibodas... Awan pun mulai mengendorkan laju kendaraan nya dan langsung membuka ponsel milik nya yang di pegang oleh Nabil Nur Fadillah.
"Perhatian Perhatian... Untuk Anggota Organisasi Singa Putih dan Macan Tutul serta Tuan Asisten. Jangan dulu melakukan penyerangan terhadap pihak lawan.. Saya Muhammad Awan Pratama.. Sudah berada di lokasi yang tak jauh dari Vila tempat mereka yang sudah bersiap menyambut kedatangan kita.. Pesan suara dari Awan pun terkirim kepada grup.
Tak lama kemudian balasan pun sudah masuk di ponselnya pemuda hebat seperti dewa, dengan balasan balasan yang rupa rupa.
"Bismillahirrahmanirrahim... Yaa Allah lindungi hamba dan orang orang di sekitar hamba.. Mudah mudahan ini akhir dari segalanya.." Ucap Awan kepada diri nya sendiri..
Nabil yang mendengar kata kata dari pemuda di sampingnya itu, mengucapkan kata amin seraya meraupkan kedua tangannya ke wajahnya itu.
"Kak.... Awan itu mereka...." Tunjuk Nabil.. Pandangan mata nya menatap kearah depan tampak dua sosok berwajah sama sedang melawan para preman dari Ketua nya yang sudah di kalahkan oleh Asep Sunandar dan Iyus Saputra.
"Yank kamu selamatkan kak Friska dan Kiara.... Lalu suruh bawa oleh Fikri ke restoran untuk bergabung bersama yang lainnya.." Kata Awan memberi perintah.
"Siap Bos Besar.... Hehehehe.." Jawab Nabil seraya terkekeh... Awan.
"Crittt.................................... Rem mobil yang di injak paksa itu menimbulkan suara yang memekakkan telinga dan keluar asap dari ban mobil mewah tersebut.
Seorang pemuda tampan turun dari mobil yang baru berhenti itu dan langsung berlari kearah para perkelahian antara murid murid Mama Sepuh dan pihak para preman yang masih tersisa.
Semua nya segera selesaikan dan jangan biarkan satu orang pun lolos dari genggaman kita kita.." Teriak dari mobil Lamborghini Sian yang sama hal nya berhenti tepat di samping mobil mewah Marcedez Benz C-Class.
__ADS_1
Mendengar Kata komando dan perintah dari Excel.. Ke lima motor cross pun langsung berlompatan kearah preman yang sedang berkelahi dengan murid Mama Sepuh yaitu Syarif dan Bahar serta Cecep..
Komar dan Kandar serta Iksan yang memegang kendali para preman itu... Kini hanya terpaku setelah bala bantuan dari tiga orang yang di hadapi nya datang...!
"Kang Komar dan Kang Kandar... Aku sudah memperingati kalian berdua jangan ikut campur dan memusuhi ku, yang notabene aku dan kalian berdua pernah ngopi bareng bersama ketua anda Kang Dayat yang sudah kalah oleh kedua pengawal saya.." Kata Awan kepada kedua kaki tangan preman pasar induk itu.
"Cuih......... Kau bocah kecil... Jangan sombong dan berlaga... Kau belum tahu kekuatan di balik layar ini siapa.'' Jawab Komar dengan amarah yang di tahan.
"Maapkan saya Kang Komar.. Bukan saya sombong dan berlaga... Walaupun di balik layar kekuatan nya sangat kuat.. Tapi bila kebenaran itu sudah di tegakkan.. Maka orang yang salah akan kalah dengan kekalahan yang hina dan menjijikan..." Kata Awan berjalan kearah Komar dan...................
"Bugh...................". Bugh....................." Bugh.................".. Ini pukulan untuk orang yang tak tahu di untung dan merasa dirinya paling hebat dan berkuasa... Tempat mu bersama Kang Dayat dan Kandar di balik jeruji besi.." Kata Awan lalu membantingkan tubuh Komar yang sudah di pukul habis habisan oleh Awan.
"Semua nya kasih pelajaran, asal jangan sampai mati... Yaa kalau sekedar di bawa ke padepokan Cimande untuk di benarkan tulangnya sih hal yang wajar.." Kata Awan memberi perintah..
"Siap Bos Muda Awan.." Kata mereka serentak bersemangat.
"Kiara Agusta Indriani... Dia Adikku... Adik angkat ku... Aku bahagia mengenal nya.. Dia pemuda yang di lahirkan dari rahim seorang ibu yang jelas surga tempat dimana Ia kembali.." Kata Friska menebak isi hati sahabat Muhammad Awan Pratama itu. Kiara hanya tersenyum mengangguk.
"Kak Friska... Kak Kiara... Teh Lara... Tidak apa apa kan.." Tegur Nabil dari arah samping.. Ketika ketiga wanita itu sedang memperhatikan sosok kekasihnya sedang memukul preman yang sudah beraninya mencari saling sengketa dengan nya.
"Nona Muda Nabil... Alhamdulillah Kami bertiga tidak apa apa." Jawab Lara.
"Alhamdulillah.. Syukurlah kalau begitu..." Ucap Nabil..
__ADS_1
"Adikku... Nabil... Bagaimana situasi di restoran...?" Tanya Friska...
"Posisi aman dan terkendali setelah para preman dan ke-enam orang Bule itu di kalahkan oleh Kak Awan dan yang lainnya.." Jawab Nabil..
"Sebaiknya sekarang Kak Friska dan Kak Kiara kembali ke restoran itu, ikut bergabung dengan Bu Dewi dan suaminya serta sahabat sahabat Kak Awan.." Sambung Nabil..
"Baiklah..... Terus kamu sendiri bagaimana adikku Nabil Nur Fadillah..?" Tandas Friska..
"Nabil akan ikut bersama Kak Awan... Walau bagaimana pun mereka menargetkan ku, saat ini... Mudah mudahan dengan hadirnya aku... Paman Ahmad dan Paman Aidil beserta keluarganya bisa terselamatkan.." Terang Nabil..
"Kak... Hendra dan Kak Hendri... Tolong antarkan Kak Friska dan Kak Kiara kembali ke restoran di sana Bunda Dewi dan yang lainnya sudah menunggu.." Sambung Nabil sekaligus memberi perintah kepada dua pemuda kembar itu.
"Siap Nona Muda..!! Ucap Mereka berdua membungkuk hormat kepada Nabil.
Friska sebelum melangkahkan kaki nya menuju mobil... Ia menghampiri terlebih dahulu Nabil Nur Fadillah dan langsung memeluknya......" Adikku aku tunggu kamu kembali dengan selamat bersama yang lainnya...
"Siap Kak.. Doa kan kita kita ya.." Balas Nabil dan Friska pun mengangguk lalu melepaskan pelukannya.
"Mbak... Lara... Tolong bawa mereka kembali dalam keadaan selamat ya.. Friska mohon.." Ucap Friska kepada Siti Lara..
"Nona muda tenang saja.. Lara akan berusaha dan mempertaruhkan nyawa ku demi Tuan Muda Awan dan Nona Nabil Nur Fadillah..
"Terima Kasih Mbak.." Kata Friska terasa berat untuk melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.. Tapi bila ikut bersama mereka akan menjadi beban bagi Muhammad Awan Pratama dan para anak buahnya.
__ADS_1
Setelah semua preman yang tersisa di lumpuhkan oleh Awan dan Excel bersama murid murid Mama sepuh dan dua pemuda hebat lainnya yaitu Asep Sunandar dan Iyus Saputra... Tak lama kemudian pembersihan pun datang yang di ketuai oleh Kanit Budianto.
Bersambung.