
"Drett....................... "Drett..........................!!
"Pak Holik......... Saya sudah di jalan provinsi tepatnya di samping jalan sebelah kanan tumbuh pohon pohon awi dan sebelah kiri nya terdapat jurang untuk memudahkan dua wanita yang satu menggendong seorang bocah untuk di buang.. Satu pesan masuk ke ponsel Holik Simatupang dari Dika pegawai CV Hansel Mandiri.
Holik langsung membalas nya." Baik Brow Dika... Bob Hidayat dan Nyonya Sulastri posisi apakah bersama anda.?" Tanya Holik dalam pesan singkat tersebut.
Tak lama pesan dari Holik Simatupang pun terkirim dan terlihat ceklis dua, namun belum terbaca oleh sang penerima pesan singkat itu.
"Berarti kalau Dika ikut dalam misi ini jumlah kita akan semakin banyak dan kemungkinan terbesar akan sangat mudah untuk meringkus." Kata Holik Simatupang berangan angan setelah menerima informasi dari pegawai CV Hansel Mandiri itu.
"Pak Holik yang ikut dalam mobil Pak Dika itu hanya ada tiga orang, satu di antara mereka bertiga orang yang jago dalam ahli beladiri.. Sebaiknya untuk menjadi lawan pemuda yang di katakan oleh Pak Bob Hidayat sangat sakti dan jago, biar menjadi lawannya." Saran sang supir memberi masukan.
"Yaa... Aku juga berpikiran kesana.. Biarkan Dika dan orang orang nya menghadapi pemuda tersebut... Kita kita langsung menangkap gadis yang menjadi target dan langsung bawa kepada Tuan Muda Firmansyah." Kata Holik.
"Cocok Pak Holik.." Sahut lelaki dari jok belakang mobil.
"Betul itu Pak Holik.! Biarkan Dika dan ketiga preman yang menguasai pasar daerah Cipanas yang melawan pemuda tersebut... Kita kita pokus pada buruan gadis itu." Timpal lelaki satu lagi yang ada di tengah duduk nya.
"Baiklah!! Ayo kita bergerak.. Brother... Segera Pepet mobil target karna sebentar lagi persimpangan jalan sudah dekat." Titah Holik..
"Siap." Jawab sang supir semangat empat lima.
"Kalian yang di belakang siapkan mental kalian... Walau bagaimana pun kalian preman, jangan ada kata kasihan dan rasa iba bila target dan orang yang ada di dalam mobil memohon untuk di lepaskan." Kata Holik mengingatkan.
"Anda tenang saja Pak Holik... Kami berempat sudah di buang dan di sumpah oleh ketua kami, tidak ada rasa balas kasihan bila seseorang telah sanggup membayar kita kita untuk melaksanakan tugas yang sangat keji dan kejam." Jawab Sang supir dan di iya kan oleh ketiga temannya.
"Bagus.... Aku suka..... Kalimat nya terputus ketika merasakan getaran Ponsel milik nya bergetar tanda pesan masuk di terima
__ADS_1
"Drett.................. "Drett.................!!
"Bob Hidayat dan Sulastri dia tidak ikut dan menunggu nya di penginapan yang ada di kecamatan Sukanagara.. Tapi Betmen ikut dalam penangkapan ini.. "Pesan Dari Dika sudah di baca oleh Holik.
"Siap mantap.... Sebaiknya bersiap siap target dalam lima belas menit akan tiba.. Jarak mobil saya dan mobil target hanya dua ratus meter." Balas Holik.
"Ok... Saya sudah stambay di posisi." Balasan di terima lagi oleh Holik Simatupang.
"Sip! Holik Simatupang membalasnya dengan singkat.
#####
Sementara di posisi mobil Toyota Yaris yang di kemudikan oleh Muhammad Awan Pratama.. Sudah menyadari puncak dari mobil Avanza Veloz membuntuti nya tepat di jalan provinsi.
"Teh Lara... Apakah sudah siap untuk berolahraga.?" Tanya Awan sambil memegang kemudi setir nya.
"Dengan senang hati Tuan Muda." Jawab Lara dengan senyuman tapi mata nya tersorot tajam.
"Mohon maaf Tuan Muda! Geram dan marah hati ini.. Seakan akan tidak memberi ruang waktu untuk bersantai dan menikmati aktivitas anda." Terang Lara.. Jelas Ia menghawatirkan majikannya yang begitu sangat baik ke dirinya dan sesama manusia.
"Namanya juga kehidupan Teh Lara.. Semakin puncak kesuksesan itu tinggi maka badai pun semakin besar menghantam nya... Sebelum badai besar itu datang.. Maka selesaikan dulu badai badai kecil yang tampak jelas di hadapan kita saat ini." Kata Awan.
"Betul sekali Nak Lara.. Apa yang di katakan oleh anda.. Jalan satu satunya melawan seraya meminta pertolongan dari sang maha tunggal." Kata Wanita paruh baya yang sedang menggendong bocah berusia dua tahun itu ikut berkomentar...
"Iya Bu." Kata Awan singkat..." Bu Tukiyem.. Nanti kalau terjadi bentrok Ibu bersama cucu ibu jangan keluar dari mobil ya." Kata Awan memberi saran.
"Siap Nak...! Ibu ikut apa kata Nak Awan... Hati hati." Pesan Tukiyem...
__ADS_1
"Ayo.... lest' Go' " Teriak Awan Pratama langsung menancap pedal gas nya setelah masuk di jalan provinsi...!
Sementara jarak antara mobil Toyota Yaris dengan orang orang yang ada di mobil Avanza Veloz masih sekitar 200 meter lagi, maka terjadilah sebeng menyebeng antara mobil yang di kendarai oleh Awan dan mobil pengungkit.
Keaadaan seperti itu sungguh sangat menegangkan seperti di film film Hollywood dimana aksi kejar-kejaran itu bener bener menegangkan.
Tepat ketika mobil Toyota Yaris itu mencapai jalanan yang begitu sepi dengan di pinggir kanan terdapat sebuah jurang dan di kiri nya beberapa pohon pohon besar yang menjulang Muhammad Awan Pratama langsung menginjak pedal rem nya dengan keras karna satu mobil di depan tengah memblokir jalan itu.
"Crittt....................!
"Critt.....................!
Suara ban mobil yang di paksa berhenti hingga menimbulkan dan mengeluarkan asap putih dalam ban tersebut.
"Sialan mereka sudah merencanakan nya dengan matang." Geram Awan memukul kemudi setirnya.
"Bu Tukiyem.. Ibu jangan keluar dari mobil walau bagaimana pun keaadaan saya dan teh Lara... Nabil tetap di belakang teh Lara." Titah Awan dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Mereka tidak menjawab hanya mengangguk.. Tampak dari wajah Nabil dan Bu Tukiyem penuh dengan kecemasan dan ketakutan.. Berbeda dengan Lara exfresi wajahnya menggambarkan aura membunuh.
Tak lama setelah mobil itu berhenti. Kini dari mobil pengejar tampak berkeluaran sejumlah lelaki berbadan besar yang memiliki tampang sangar sambil mengacungkan tonfa kearah mobil yang di kendarai oleh Awan... Bukan dari mobil pengejar saja.. Dari arah depan mobil Toyota Agya pun yang memblokir jalan keluar lima orang yang di antara nya sangat di kenal oleh Muhammad Awan Pratama.
"Tak salah dugaan ku... Di balik semua ini adalah Bob Hidayat." Kata Awan seraya mata nya menatap kearah lelaki berusia 38 tahun yang tak lain adalah Betmen.
Awan pun turun di ikuti oleh Nabil dan Teh Lara... Sementara Ibu Tukiyem bersama Cucu nya tetap diam dalam mobil atas perintah dari Awan.
Nabil bergetar seluruh badannya... Tangannya tak lepas dari baju Lara..." Tenanglah Nona Nabil.. Kita akan baik baik saja." Kata Lara pelan menenangkan gadis yang sudah di anggap adiknya itu..
__ADS_1
"Aku takut! Kak... Sungguh sangat takut." Kata Nabil terbata bata bibir nya bergetar seluruh badannya mengeluarkan keringat.. Lebih takut dari yang pernah kita alami sebelumnya.
Bersambung.