
Setelah mengantarkan sahabat yang bernama Irma Permatasari tepat dimana mereka berdua menyetop angkutan umum tadi siang. Pemuda tampan itu pun langsung melesat menggunakan sepeda motor menuju perapatan lampu merah yang menggabungkan empat jalan utama.
Sepuluh menit akhir nya sampai di halaman parkir kantor CV Hansel Mandiri. Motor Zupiter MX pun melaju dengan pelan dan tepat berhenti di depan kantor itu.
Pemuda yang mengendarai motor itu pun turun dari motor dan langsung berjalan menuju pintu masuk kantor.
"Selamat sore Nak Awan. Ucap satpam setelah pintu kaca di buka oleh penjaga keamanan itu.
"Sore Paman mau langsung bertemu dengan Pak Direktur. " Jawabku.
"Silahkan Nak Awan sudah di tunggu dari Tadi.'' Kata lelaki yang berjaga di depan pintu.
"Pemuda bernama Muhammad Awan Pratama berjalan melewati beberapa staf dan karyawan lain dengan tatapan berbeda beda ada yang tersenyum dan ada pula yang memandang sinis kearah ku.
"Tok......! "Tok.......! "Tok.........! Ku ketuk tiga kali pintu masuk ruangan direktur itu.
"Masuk..........! Teriak salah satu suara dari dalam ruangan.
Pintu pun kubuka dan masuk ke ruangan tersebut.
"Pak Tarman. Sapa Awan.
"Nak Awan.......! Silahkan duduk.'' Titah lelaki satengah tua kepada pemuda yang sudah di tunggu tunggu.
"Kopi atau Teh? Tanya Pak Tarman.
"Terima Kasih atas tawaran nya lain waktu saja karna hari ini saya sedang terburu buru. " Ucap Awan seraya menyodorkan berkas berkas serta Poto kopi lahan yang akan di jadikan mall tersebut.
"Saya suka dengan gaya mu." Seraya menyerahkan amplop berisi uang sisa komisi tanah yang sudah di bangun perumahan Elit di kota kecil.
Terima Kasih Pak kalau begitu saya pamit. Untuk besok tinggal kabaran kepada saya jam berapa Future Nugraha Company meminta untuk bertemu dengan CV Hansel Mandiri dan pihak penerima kuasa dari Nenek Sunarti. Ucap Awan ramah.
"Baiklah Nak Awan. Seraya di antar menuju halaman parkir kantor yang hanya ukuran 100 meter persegi itu.
Karyawan dan para staf melihat sekilas lalu menundukkan lagi kearah mereka berdua dengan pikiran masing-masing. Keakraban Direktur CV Hansel Mandiri dan pemuda yang baru masuk Enam bulan lama nya menusuk dalam kalbu mereka dengan penuh kebencian dan iri hati.
__ADS_1
Disaat mereka berdua keluar dari pintu kantor. Dan Awan pun mulai melangkah kan kaki nya menuju motor yang dia parkir di halaman tiba tiba Mobil Honda BR-V masuk kedalam halaman kantor melaju dengan sangat pelan dan berhenti tepat di samping motor pemuda bernama Muhammad Awan Pratama.
Direktur Tarman tersenyum sama hal dengan pemuda itu seraya seorang lelaki turun di pintu mobil samping kiri.
Nak Awan mau kemana. Sapa Haji Epen berjalan menghampiri Direktur dan pemuda itu.
"Mau ada urusan dulu Pak Haji, Untuk pemberkasan dan data data sudah ada di tangan Pak Direktur. Jawab ku.
"Apa tidak sebaiknya kita minum kopi dulu. Ucap Haji Epen menawarkan kopi.
"Terima Kasih Pak Haji atas tawaran nya. Lain waktu saja karna saat ini saya lagi terburu buru.! Ucap nya menolak secara halus.
"Ohk......! Ya sudah.! Silahkan Nak Awan.! Berhati hati dalam menjalankan motor nya.! Pesan Pak Haji Epen Manajer CV Hansel Mandiri itu.
"Terima Kasih Pak.! Ucapku membalas perkataan dari lelaki berusia 40 tahun itu dan langsung menuju motor yang tidak jauh dari mobil miliknya.
# # # # #
Disalah satu rumah makan nasi liwet ibu Sofiah yang berada di jalan raya Bandung Cianjur. Sore itu satu keluarga sedang menyantap menu hidangan spesial restoran bernuansa kampung itu.
"Kriiiiing..........! "Kriiiiing...........! "Kriiiiing..........!
"Bu Dewi segera mengambil nya dari tas nya langsung menekan tombol jawab.
"Assalamualaikum. Bu Sekarang lagi dimana.? Tanya salah seorang dari sebrang telepon.
"Nak..........! Ibu lagi di rumah makan nasi liwet ibu Sofiah." Jawab Dewi dalam sambungan telepon.
"Ok." Bu kebetulan Awan tidak jauh. Sekarang meluncur ke restoran tersebut. Jawab pemuda di sebrang telepon.
"Baik." Nak ibu tunggu.! Seraya mematikan telepon nya.
"Bunda siapa yang barusan telepon? Tanya Amel setelah mendengar dan Ibu nya selesai menelepon.
Muhammad Awan Pratama.! Balas singkat ibu kandung Amel.
__ADS_1
"Emang ada apa Bun? Tanya Amel sekali lagi.
"Tidak tahu..........!! Tunggu aja dia sekarang menuju kesini.! Jawab seraya meminum jus jeruk yang sudah dia pesan.
"Ayah........! Lauk nya di pesan lagi karna bos besar mau datang takut nya dia belum makan.? Kata Bu Dewi kepada suaminya.
"Sebentar Bu. Ayah panggilkan dulu pelayan resto ini.! Jawab suami nya.
"Sepuluh menit berselang pemuda yang tadi menelepon kepada Bu Guru Dewi selaku guru pembimbing waktu di SD dan SMP tiba di halaman parkir rumah makan nasi liwet ibu Sofiah dengan bernuansa kampung.
Pemuda itu melihat ke kiri dan kanan serta depan belakang mencari satu sosok wanita yang dia telepon saat keluar dari kantor CV Hansel Mandiri.
Sekilas mata nya melihat kepada seorang lelaki yang melambaikan tangan di samping kiri di sebuah sahung sahung yang berjejer rapi dan tersenyum kearah pemuda yang baru turun dari motor Zupiter MX.
Awan menggendong tas dan berjalan menuju lelaki yang melambaikan tangan.
Bu Dewi, Pak Kohar dan Nona Amel. Sapa Awan setelah sampai di depan mereka bertiga dengan hidangan nasi liwet yang masih utuh.
"Nak.........! Awan naik ayo duduk kita makan bersama. Ajak Bu Dewi dan di angguki oleh Pak kohar dan Amel.
"Baiklah Bu. Kebetulan saya juga belum makan he-he-he." Kekeh Awan cekikikan naik keatas saung dan duduk di samping Amelia Amanda.
# # # # #
Sebelum datang nya waktu itu pukul satu siang di salah satu rumah sakit di kota kecil kelas B di ruangan melati.
Tok......... Tok......... Tok...........! Kreat.......! Pintu ruangan inap di buka oleh sosok wanita paruh baya telah terdengar ketukan tiga kali dari arah luar pintu tersebut.
Lisnawati dan Dena silahkan masuk.! Ajak istri Indra Lesmana.
"Terima Kasih Bu. Balas Lisnawati singkat langsung masuk mengekor dari belakang mantan majikan nya itu di ikuti oleh Dena menantu Lisnawati.
Setelah sampai di dalam ruangan inap dan tepatnya di samping lelaki yang pertama dia lihat gagah, atletis dan sombong kini terbaring lemah tak berdaya dengan tangan dan hidung memakai selang infus.
Seketika air mata Lisnawati keluar dari kelopak dan membasahi pipi nya yang sudah keriput di usia 45 tahun itu. Dia memeluk Istri Indra Lesmana Tampa berkata satu kata pun.
__ADS_1
Walaupun penghinaan dan cacian yang ia dapat waktu itu atau pun ketika dia bekerja sebagai buruh cuci di rumah lelaki yang sekarang terbaring lemah. Masih melekat sampai saat ini. Tapi di saat melihat kondisi nya saat ini. Hati seorang wanita penyabar dan tegar itu tak kuasa untuk menahan air mata nya.
Bersambung.