Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Hutang Piutang selesai di bayar Oleh Lisnawati


__ADS_3

Apakah kalian semua mengerti dan paham dengan surat pernyataan yang sudah saya buat.?" Tanya seorang lelaki berusia 40 tahun berprofesi sebagai pengacara.


"Kam.... Kami..... Mengerti." Jawab mereka tergagap.


"Baiklah kalau kalian mengerti dan saya harap kalian sekeluarga jangan sampai macam macam kepada keluarga Bu Lisnawati khususnya kepada Bu Romlah, harusnya kalian selaku masih ada ikatan darah saling mengasihi dan menyayangi bukan saling bermusuhan." Kata pengacara itu memberi nasehat dan petuah nya.


Mereka semua mengangguk dan tidak mengeluarkan suaranya, mereka merasa tersindir dengan ucapan yang di katakan oleh lelaki berusia empat puluh tahun, atau pun mereka merasakan ketakutan dalam dirinya. Entah lah tanyakan sendiri pada hati mereka masing masing.


Setelah beres dengan permasalahan Hajah Markonah, pengacara itu bersama Bu Dewi serta Bu Lisnawati dan Nenek Romlah beranjak pergi dari Hajah Markonah berjalan keluar menuju rumah Pak Engkos Kosasih selaku pemberi pinjaman kepada Hajah Markonah.


Tak lama kemudian mereka berempat pun sampai di rumah Pak Engkos Kosasih dan di sambut langsung oleh Istri nya yang bernama Titin Kharisma dengan senyuman kepalsuan.


"Bu Lisnawati dan Nenek Romlah beserta Nyonya dan Tuan ada keperluan apa sehingga datang kerumah saya di waktu sore ini.?" Tanya Titin ramah dan sopan.


"Mohon maap Bu Titin menganggu waktu sore anda. Tapi tujuan kami kemari untuk melanjutkan obrolan tiga hari kebelakang tentang hutang Hajah Markonah yang akan saya bayar berikut dengan bunga nya." Jawab Bu Lisnawati dengan senyuman.


"Ohk masalah itu, tapi mohon maap yang sebesar besarnya bahwa suami saya sedang berada di luar kota, apakah tidak sebaiknya tunggu kepulangan suami saya dulu biar lebih apdol." Ucap Titin.


"Bu Titin Kharisma kenapa harus menunggu suami anda. Sedangkan dalam perjanjian itu tertuang antara Bu Titin dan Hajah Markonah." Kata Lisnawati menekan rentenir itu.


"Ehk ..... Anu itu..... Kunci lemari nya terbawa oleh suami saya." Ucap Titin tergugup.


"Mohon maaf Bu Lisnawati dan Bu Titin bila saya di bolehkan untuk berbicara." Kata pengacara yang duduk di samping Bu Dewi.


"Siapa anda.?" Tanya Titin Kharisma dari tadi dia bertanya tanya dalam hatinya kepada dua orang yang di bawa Lisnawati dan Nenek Romlah.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Arianto, saya pengacara dari Muhammad Awan Pratama khusus buat menyelesaikan permasalahan internal dari Nenek kandung majikan saya." Jawab lelaki itu memperkenalkan diri.


"Hahahaha." Anak bau kencur berani berani nya membawa pengacara emang dia sekaya apa hah." Geram Titin Kharisma terasa di lecehkan oleh keluarga Lisnawati.


"Mohon maaf Bu Titin, itu masalah privasi Internal perkejaan saya." Jawab lelaki itu dengan senyuman.


"Berapa yang di bayar anak kencur itu, aku akan membayar lebih dua kali lipat." Kata Titin memberikan tawaran dengan angkuh dan sombong.


"Terima Kasih banyak atas tawaran anda Bu Titin, tapi saya pribadi tidak bisa menghianati kolega pertama saya yaitu saudara Muhammad Awan Pratama." Ucap Arianto ramah dan sopan.


"Munapik............. Sergah Titin. Membuat pengacara itu dan mereka bertiga mergertakkan giginya menahan amarah.


"Bu Titin jaga ucapan mu bila kau tidak mau saya penjarakan karna telah berani berani menyuap dan menghina saya." Ancam pengacara itu


"Silahkan kalau kau berani, sebelum Anda pergi melaporkan kepada pihak penegak hukum, jangan harap anda bisa berjalan kepada kantor kepolisian." Ancam Titin yang sudah meluap luap amarahnya.


Titin Kharisma tersenyum dan berkata dengan suara yang cukup tegas hingga mereka berempat tersentak kaget.


Tuan pengacara yang terhormat, aku bukan orang bodoh yang akan menghabisi mu dengan cara jalan kasar, tapi aku akan membuat mu cacat dengan caraku sendiri. Tunggu tanggal waktunya jangan sebut aku Titin bila aku tidak bisa membuatmu menyesal karna telah menolak dan berani berani nya membantu keluarga Lisnawati.


Mungkin dia akan menggunakan jalan sesat dengan menyantet atau pun mengirim guna guna kepada kita berempat." Ucap Lisnawati dalam hati.


"Saya tunggu Bu Titin, saya tidak takut sama sekali dengan ancaman mu, karna bagi diriku yang saya takutkan hanya satu yaitu yang maha Tunggal dan maha Esa." Jawab Arianto berusaha tenang menghadapi wanita di depannya.


"Lebih baik cepat selesaikan permasalahan antara anda dan Ibu kandung kolega saya." Ucap nya lagi pengacara itu.

__ADS_1


Aku tahu ancaman mu akan menggunakan cara halus dengan mengirimkan guna guna kepada diriku." ucap Arianto dalam hati seraya menatap kearah wanita lintah darat tersebut.


Tak lama setelah itu Titin Kharisma pun beranjak dari kursi tamu itu dan pergi menuju kamarnya untuk mengambil sertifikat sawah milik almarhum kakek Lisnawati dan kembali duduk lalu menyerahkan nya kepada Lisnawati di saksikan oleh sang pengacara dan Bu Dewi serta Nenek Romlah.


Senja pun hadir di kampung Situ Babakan langit berubah menjadi gelap adzan magrib berkumandang tepat di samping rumah Siti Romlah. Bu Dewi dan Pak Arianto bersama Lisnawati dan Ibu kandungnya kini telah keluar dari rumah sang lintah darat dengan perasaan lega, berbeda dengan Titin Kharisma wajah nya menahan amarah dendam kini tersimpan dalam hatinya kepada lelaki yang menjadi pengacara Muhammad Awan Pratama anak kandung Lisnawati.


"Bajingan...................


"Bangsat.....................


"Tunggu.............!! Tunggu..............!! Akan ku buat kalian menyesali karna telah berani berani nya membuat saling sengketa dengan saya, keiinginan yang saya tercapai baru kali ini kalian gagalkan........!


Wanita berusia 40 tahun itu lalu melangkah kedalam kamarnya untuk mengambil ponsel yang ia simpan di dekat meja ranjang.


Nada dering terdengar cukup merdu menunggu telepon panggilan nya di angkat oleh suaminya yang kata nya hari ini dia kembali dari guru nya itu.


"Halo.......... Istriku ada apa kau telepon, aku sedang dalam perjalanan pulang.?" Tanya seorang lelaki di sebrang telepon yang menjawab panggilan masuk itu.


"Titin Kharisma menjelaskan semua nya kepada suami nya tentang Lisnawati dan beberapa orang yang ia bawa serta harapan mempertahankan sertifikat sawah kini sirna dan tak bisa lagi kita peroleh.


"Istriku Sayang kamu tenang dan rileks. Aku tiga jam lagi sampai kerumah kita akan secara bersama sama membalas dan memberi pelajaran kepada mereka berempat." Kata Engkos Kosasih mereda kan amarah nya.


"Baiklah Sayang aku tunggu kepulangan mu. Dan harap kau sebagai kepala keluarga tidak mengecewakan hasil perjalanan jauh mu itu." Ancam istrinya itu.


"Kamu tenang saja sayang itu hal yang mudah bagiku. Semua sudah di persiapkan dan malam ini juga kita akan mengirim guna guna kepada Lisnawati dan Siti Romlah." Kata Engkos Kosasih seraya mengakhiri panggilan telepon nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2