
Tampak terlihat orang orang bertubuh tinggi dan besar sedang bersila dengan satu lingkaran dan memakai pakaian yang berbeda beda. Mereka sama tidak membedakan dan tidak di bedakan satu tujuan yang sama yaitu memuja memuji sang pencipta alam semesta. Yang maha satu dan maha tunggal.
Pendeta Haka. Membungkuk hormat kepada mereka yang ada di Gunung Jabal Musa menurut kepercayaan dari agama Islam, salah satu dari mereka yang kemungkinan orang tersakti di perkumpulan itu lalu mengibaskan tangannya untuk menyuruh nya keluar.
"Sendiko Syekh." Kata Pendeta Haka membungkuk hormat dan keluar meninggalkan pemuda yang berdiri di samping nya, dengan wajah dan muka tertunduk.
"Cicit ku. Muhammad Awan Pratama. Kemari Nak. Duduk di tengah lingkaran." Titah Seorang lelaki memakai ikat kepala warna putih dan tangan memegang sebuah tasbih. Pendeta Haka memanggil nya Syekh Maghribi.
Pemuda yang di panggil itu langsung melangkah demi melangkah menuju lingkaran itu dengan di kelilingi oleh para syekh atau pun orang orang sakti dan menatap kearah pemuda yang di panggil Cicit oleh Syekh Maghribi itu.
Tampak ketika langkah kaki hampir sampai, terlihat jelas oleh pemuda itu dalam lingkaran tujuh orang sakti itu ada seorang lelaki paruh baya yang sangat Ia kenal oleh pemuda tersebut.
"Abah." Ucap Awan, pemuda itu menatap dengan tatapan Lirih.
"Duduklah. Cucuku segera karna waktu mu tidak akan lama lagi disini." Titah Aden Haruman dengan sorot mata yang tajam dan memancarkan aura sinar yang begitu menyala nyala. Pemuda itu langsung duduk dan tak membantah nya, karna bukan waktu nya untuk bercanda.!
"Awan.. Pikiran dan hati mu segera kosongkan dan hilangkan semua beban yang ada dalam pikiran mu saat ini. Bacalah Dzikir Sirri (rahasia); Dzikir Sirri tidak menggunakan mulut, melainkan dzawq (perasaan) dan syu`ur (kesadaran) yang ada di dalam qalbu. Karenanya dzikir ini menjadi tersamar (khafiy) dan hanya pelaku serta Allah Subhanahu wa ta’ala saja yang dapat mengetahuinya.
Dalam Dzikir Sirri, orang mengingat Allah, merasakan kehadiran Allah, menyadari keberadaan Allah. Didalam qalbu nya tumbuh rasa cinta, dalam keadaan diam dan tidak berbunyi selalu mengingat akan adanya Allah tanpa diketahui oleh siapapun. Dalam diri selalu sadar kalau ada dan selalu bersama Allah sehingga hanya kebaikan yang dilakukan.
Muhammad Awan Pratama. Tubuh kita ini ada tiga unsur penting yang harus kita rawat. Ketiga unsur ini harus bekerja bersama-sama agar melahirkan manusia paripurna, manusia yang lengkap. Ketiga unsur itu adalah hati, otak dan badan.
Otak butuh asupan gizi seperti pendidikan dan ilmu pengetahuan, pun dengan badan perlu asuman gizi yaitu dengan makan dan minum. Asupan gizi bagi hati adalah dengan dzikir atau mengingat akan adanya Allah.
__ADS_1
Setelah kembalinya kau. Cicit ku Muhammad Awan Pratama. Eyang harap kau bisa menyelesaikan segala permasalahan yang ada dalam keluarga Azzahra Masika Fatharani dan anaknya yang telah kau lihat dalam perjalanan spiritual mu saat itu.
"Cucuku. Segera bersiap lah. Kami para leluhur mu akan memberikan sebuah ilmu yang suatu saat bila kamu sedang tertimpa musibah, beberapa pengikut dari alam Ghaib akan setia menemani dan menjaga mu dari hal hal yang berurusan dengan alam lain." Kata Syekh Maghribi menjelaskan semuanya dan anggukan dari Aden Haruman serta beberapa orang yang tak terlihat oleh orang orang awam pun ikut mengangguk.
"Baik..Eyang. Terima Kasih banyak atas semua ini." Jawab pemuda itu dan mulai memusatkan pikiran dan hatinya untuk memulai melakukan dan melaksanakan Dzikir Rahasia.
Mendadak langit berubah hitam pekat, gumpalan awan begitu putih mendadak menjadi gelap, petir berdentum keras di daerah Gunung Jabal Musa, Fenomena alam itu menandakan akan turun hujan yang begitu deras dengan di iringi petir yang amat dahsyat di saat para Karuhun para orang orang sakti mulai melakukannya ritual nya mengembalikan Sukma pemuda itu untuk kembali kealam nya, karna masih banyak hal yang harus di selesaikan.
*************
Sementara di salah satu kota kecil tepat nya di satu Ruangan VIP rumah sakit rakyat, seorang ibu setengah tua sedang duduk bersila dengan balutan pakaian memakai mukena putih tangan memegang tasbih dan mata terpejam bibir berkumat kamit dengan sangat khusyu. Dia seorang perempuan hebat, yang masih mempunyai garis keturunan dari seorang ulama kharismatik yang sangat sakti dan mandraguna pada zamannya.
Malam itu dini hari ketika pemuda itu di kabarkan oleh dokter bahwa mengalami mati suri dan hanya dorongan dorongan memori yang di bisikan ke daun telinga untuk menarik Sukma yang sedang mengelana di alam tak kasat mata lah yang bisa menarik kedalam tubuhnya.
Satu jam lamanya Ia berceloteh di telinga putra nya dengan di temani oleh orang orang yang sangat di hormati dan di sayangi oleh pemuda yang bernama Awan itu tak kunjung menemukan hasil nya.
Telepon berdering dan bergetar keras di ponsel Bu Dewi dini hari itu di ruangannya rumah sakit tempat majikannya terbaring kaku.
"Assalamualaikum. Halo. Dena ada apa.?" Tanya Dewi menjawab telepon masuk itu.
"WaallAikum Salam. Mohon Maap Bu Dewi. Ini saya Romlah Nenek nya Awan. Apakah Lisnawati sedang bersama anda.?" Tanya suara yang tertahan serak kemungkinan sedang menangis.
"Ohk. Iya Bu Romlah tidak perlu meminta maap. Kebetulan Bu Lisnawati sedang duduk di samping saya." Kata Bu Dewi.
__ADS_1
"Terima Kasih banyak Bu Dewi. Kalau boleh saya ingin berbicara dengan Lisnawati." Pinta satu suara di sebrang telepon yaitu Romlah Ibu kandungnya Lisnawati.
"Baik. Bu." Kata Dewi. Lalu ponsel pun di berikan kepada Lisnawati yang sedang membisik sesuatu ke telinga putra nya.
Tak lama setelah itu ketika ponsel sudah menempel di telinga Lisnawati kata pun terucap.
"Halo. Bu, ada apa.?" Tanya Lisnawati.!!
"Lisnawati. Bagaimana dengan keaadaan Awan.?" Tanya Romlah dalam sambungan telepon.
Lisnawati pun lalu menjelaskan semuanya tentang kondisi anaknya dan penjelasan dari dokter.
"Anakku. Lisnawati jangan bersedih dan membuat mu putus asa saat ini. Yakin kan tekad dan dirimu bahwa ini adalah ujian yang di berikan oleh sang pencipta alam semesta.
Dulu Buyut mu pernah berkata kepada Ibu. Nanti suatu saat akan tiba dimana garis keturunan ku, akan mengalami perjalanan hidup yang di luar nalar dan membingungkan orang orang yang awam dalam dunia Ghaib.
Bila waktu nya tiba dan Ibu masih hidup masih ada di alam Dunya dan masa itu terjadi kepada Cucu mu. Maka berserah diri lah meminta pertolongan kepada sang pencipta alam semesta dengan membaca Dzikir yang telah di ajarkan kepada mu, sebelumnya kamu berikan beberapa hadiah surat Al Fatihah kepada ku dan buyut buyut mu.
"Anakku. Lisnawati. Ibu di sini akan segera melaksanakan amanat dari Buyut mu. Purnama Sidiq namanya. Kamu juga di sana segera melakukan apa yang di amanat kan oleh kakek buyutmu." Titah Romlah.
"Baik Bu. Lisnawati akan melaksanakan saat ini juga." Jawab nya.
Bersambung.
__ADS_1