Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Ritual Mengirim Guna guna sudah siap


__ADS_3

Hujan disertai angin seakan tidak mau berhenti mengguyur Bukit Gunung Kanyang. Berkah dari langit itu menyelipkan rasa dingin di antara pori-pori kulit dan memberi suasana lain di wilayah yang dikenal gersang dan panas tersebut. Jika hujan turun, seakan di Jati pohon memberikan suasana lain.


Pemandangan pohon tinggi nan hijau di tengah hiruk-pikuk lalu lalang kendaraan menjadikan Jati pohon sebagai surga di tengah gunung Kanyang. Suasana makin indah ketika malam hari tiba. Minimnya cahaya di sekitar bukit Jati pohon dibatasi dengan gelap hutan belantara menjadikan lampu penerangan jalan seakan menjadi cahaya bintang yang ditata sejajar.


Di atas bukit Gunung Kanyang tampak ada dua sahung berukuran 4x4 meter persegi yang biasa di pakai seorang


Kuncen Gunung Kanyang untuk bermeditasi atau pun mengirimkan guna guna kepada setiap calon korban yang di minta oleh seseorang yang meminta bantuan secara ghaib.


Sebelum ilmu nya kesaktian nya musnah, dan nyawanya melayang serta tubuh nya di bakar oleh seseorang yang meminta ilmu kebal kepada sang kuncen Gunung Kanyang atau pun orang orang memanggilnya dengan sebutan dukun santet. Abah Enji Sutardi kejayaan sudah hilang dan kalah telak oleh Eyang Atas Angin.. Malam itu bertempur di atas Gunung selamat.


Kini di sahung yang ada di puncak bukit Gunung Kanyang, di jadikan meditasi oleh Suryana, lelaki yang menjadi ayah dari Nona Sulastri suaminya Haikal sang preman yang mati di tangan pemuda hebat seperti dewa.


Dalam keheningan malam itu, Suryana bersama dengan Bedul sudah naik ke atas puncak bukit Gunung Kanyang tadi sore, semua sesajen sudah di persiapkan untuk memulai ritual guna menyantet seseorang yang sangat di benci oleh Bedul, akibat ucapan dan perkataan yang di buat buat oleh Bedul, Abah Suryana yang notabene adalah seorang dukun santet, langsung menyetujui untuk mengirimkan guna guna kepada Bob Hidayat.


Malam itu jam yang terlihat di layar ponsel Bedul masih terlalu dini untuk memulai ritual pengirim makhluk ghaib kepada Bob Hidayat dengan metode mengirim benda-benda seperti paku, jarum, silet, pecahan kaca dan benda-benda lainnya akan di ubah dari bentuk material menjadi energi. Kemudian setelah berwujud energi, benda-benda tersebut akan dikirim kepada orang yang menjadi target (korban).


"Dul masih ada waktu sekitar satu jam lagi untuk memulai ritual pengiriman santet jarak jauh ini, sebaiknya kau persiapkan syarat syarat yang sudah di minta oleh Abah." Titah Suryana kepada muridnya.


"Baik Abah Guru." Jawab Bedul, lalu beranjak ke sudut sahung dan membawa sebuah baki bundar yang terbuat dari anyaman bambu, di atas baki itu telah tersedia beberapa syarat syarat sesajen untuk di gunakan.


Bedul pun langsung membawa baki itu, keluar dari sahung walaupun posisi di luar hujan gerimis, tetapi Ia sangat bersemangat sekali, melangkah menuju sahung yang satu lagi tempat untuk di lakukan nya ritual.


"Modar sia Bob Hidayat... Berani berani nya kau telah merebut wanita ku hah." Umpat hati Bedul, setelah menyimpan baki itu di sahung tempat ritual.

__ADS_1


Setelah selesai dengan aktivitas malam menyiapkan segala sesuatu nya, Bedul pun kembali menuju sahung lagi untuk memberitahukan kepada Abah guru nya.


"Abah Guru semua sudah selesai dengan apa yang di perintahkan oleh anda Abah." Kata Bedul. Ketika sampai di sahung dimana Suryana lelaki paruh baya itu berada.


"Bagus...... Bagus...... Aku sebentar lagi akan memulai nya, kamu sebaiknya turun dan tunggu di rumah ku." Titah Suryana.


Tanpa mau bertanya itu ini kenapa Bedul di suruh turun dari puncak bukit gunung Kanyang itu. Ia pun hanya mengangguk dan langsung berjalan di keheningan malam menyusuri pohon pohon jati dengan peralatan yang seadanya.


###############


Sementara di hotel berbintang lima, di kota Jakarta dua orang pemuda yang berselisih hanya beberapa usia saja sedang duduk dengan posisi menghadap kearah langit dengan berkelipan bintang bintang di langit.


"Asep. Musuh ku kali ini bener bener sudah di persiapkan dengan matang dan aku mungkin tak akan mampu melawannya." Kata pemuda yang duduk di sebelah kursinya.


"Iya..... Sep!! Awan mengangguk, tatapan nya tak beralih kearah langit yang tampak cerah.


"Mungkin kah perjalanan kita sampai di sini.. Apakah janji dari Tuan Muda kepada Nyonya Azzahra dan Nona Nabil Nur Fadillah mengambil hak yang di miliki oleh mereka berdua tanpa ada perancah dan perusak di perusahaan ISMAIL GROUP tidak akan di tepati oleh anda.?" Tanya Asep Sunandar.


Awan seketika pandangan berubah ke arah Asep Sunandar yang bertanya tentang sebuah janji yang telah di ucapkan kepada Nabil dan Azzahra waktu itu. Ia tersenyum manis sebelum bibir nya terucap, ketukan pintu hotel terdengar oleh mereka berdua.


"Asep pintu buka, mungkin Nabil dan teh Lara." Titah Awan.


"Siap.. Asep pun langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu..

__ADS_1


"Ceklek.......!


"Nona Muda, Teh Lara, belum tidur." Ucap Asep saat pintu itu terbuka dan tampak dua gadis cantik itu yang datang mengetuk pintu tersebut.


"Kak Asep... Iya gak bisa tidur.. Apakah Kak Awan belum tidur.?" Tanya Nabil.. Lalu masuk tanpa menunggu jawaban dari pemuda yang membukakan pintu nya.


"Teh Lara ayo masuk....." Ujar Asep sambil garuk garuk kepalanya.. Mata nya melongo kearah Nabil Nur Fadillah, apalah arti pertanyaan itu, bila orang yang bertanya langsung meleos tanpa menunggu jawaban dari dirinya.


"Hehehehehe... Sabar....... " Ucap Lara sambil menepuk nepuk pemuda usia di bawahnya dan langsung masuk mengikuti arah Nabil melangkah.


Langkah kaki terdengar jelas oleh telinga Awan, tatapannya tak berpaling kearah suara langkah itu..


"Kak Awan sedang apa?" Tegur seorang gadis dari arah belakang..


Awan langsung membalikkan badannya.. Ia tersenyum kearah gadis yang menegurnya, dari arah belakang Nabil Lara mengikuti arah gadis yang sudah berada dekat dengan dirinya..


"Nabil... Kamu belum tidur." Kata Awan, seraya tangan kanan nya mengelus ngelus rambut yang terurai indah sampai ke punggung.


"Aku gak bisa tidur Kak... Maka nya sama Teh Lara kesini untuk sekedar menunggu rasa ngantuk itu tiba. Kak Awan sendiri kenapa belum tidur.?" Tanya Nabil


"Kakak pun juga sama tak bisa tidur... Di tambah Kak Asep mengajak ngopi, otomatis mata ini tidak bisa merem akibat pukulan telak kopi hitam yang sangat pait hehehehe." Jawab Awan seraya terkekeh..


"Hmmmmmmmmmm.!! Kak Awan.." Lalu Nabil menarik tangan Awan dan berjalan dua langkah kini mereka berdua berdiri berjejer melihat indahnya langit di malam hari.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2