
Siang sudah berada di atas kepala manusia yang sedang beristirahat sejenak setelah aktivitas berkerja di ladang dengan mencangkul sawah untuk di tanam padi.
Di kampung Situhiang yang terletak di pinggir kota kecil itu dengan suasana alami persawahan siang itu pukul 10:45 WIB seorang pemuda baru terbangun dari tidur panjangnya selepas menjalankan aktivitas kewajiban sholat subuh.
Rincak riyuh suara orang orang yang sedang mengobrol di candai tawa di setiap obrolan itu, membuat suasana rumah panggung wanita paruh baya itu tampak ramai.
Di ruangan tengah orang orang penting dari negara Mesir sedang duduk bersama sang empu rumah nya dengan candaan candaan bahagia setelah belenggu yang mengikat rantai di seluruh tubuhnya terlepas.
Sementara di dapur sendiri dua wanita hebat yang hanya berselisih beberapa tahun saja usia nya, sedang memasak membuat nasi liwet untuk di suguhkan dalam acara makan siang itu, bersama di bantu sang menantu dari ibunda pemuda hebat seperti dewa.
Moch Aidil beserta anak dan istrinya di tambah lagi sang Asisten perusahaan terbesar di negara Piramida itu, belum mengobrol dengan Azzahra Masika Fatharani tentang pengalihan hak perusahaan yang sedang di jalani nya, karna menunggu bangun tidur nya seorang pemuda yang menjadi kekasih anaknya itu.
Azzahra Masika Fatharani yang mengetahui bahwa permasalahan yang ada dalam interen dirinya dan anaknya sepenuhnya sudah selesai oleh Muhammad Awan Pratama.. Walaupun pemuda itu belum memberitahukan tetapi dengan kedatangan Moch Aidil selaku Kakak iparnya di tambah Ketua pengawal perusahaan yang tak lain Abdul Nazib datang bersama Awan dan anaknya itu sudah cukup memberi jawaban bagi dirinya.
Awan pun keluar dari kamar tidurnya.. Ia tersenyum kearah lelaki dan wanita yang sedang berada di ruangan tengah rumah panggung itu.. Ia pun memberikan isyarat untuk pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan seluruh badannya.
"Bunda......... Bunda Azzahra dan Teh Dena.. Uhk... Wangi dan membuat perut ini bernyanyi.." Tegur Awan dengan candaan..
"Sudah bangun kamu Nak......!! Cepat lah mandi kita makan bersama.." Jawab Lisnawati tersenyum manis kepada anak yang tak menyangka akan melewati sesuatu yang sangat besar ini.
"Iya.. Bunda.. Ini juga Awan mau mandi..." Lalu heep.. Mengambil tahu yang ada di piring..
"Nyam.... Nyam.... Nyam.... Enak ini pasti buatan Bunda Azzahra.." Kata Awan sambil mengunyah tahu yang sudah matang.
"Pasti dong..... Siapa dulu.. Mertua mu gitu loh.." Jawab Azzahra Masika Fatharani tersenyum bahagia.
"Hehehehe.... Mau lagi dong Ibu mertua.." Pinta Awan.. Lalu mau mengambil tahu itu, buru buru piringnya di ambil oleh Lisnawati.
"Sudah kamu mandi dulu sana ihk bau acem.." Kata Lisnawati...
__ADS_1
"Hehehehe.... Ok deh... Kalau dah Ibu ratu melarang apa boleh buat.." Kata Awan bangkit dan menuju langsung kamar mandi nya.
"Hmmmmmmmmmm... Anak ini apakah tidak mempunyai rasa takut atau apalah di lihat dari wajahnya, padahal dia sudah melewati sesuatu yang sangat besar.. Tapi di lihat lihat dia Muhammad Awan Pratama yang masih seperti biasanya.." Keluh Lisnawati..
"Besan... Anakmu itu mempunyai dua sipat yang berbeda di balik kelembutan nya terdapat sisi kekejaman yang orang lain tak mampu untuk membendung nya... Tapi di sisi sipat yang kejam itu ada perasaan yang tidak bisa dia gapai seorang diri.." Terang Azzahra menebak isi hati Muhammad Awan Pratama.
"Yaa... Kamu Zahra lebih mengetahui sipat dan karakter anakku.. Sedangkan aku yang melahirkan nya, tidak mengetahui semua ini... Tau tau sekarang dunia sudah berada dalam genggaman nya.." Keluh Lisnawati dengan keterbukaan nya..
"Haysih................ Suara bersin dari hidung Muhammad Awan Pratama keluar dari kamar mandi..." Bunda dan Bunda Azzahra duh.. Ngomongin Awan ya agar cepat cepat melamar Nabil Nur Fadillah hehehehe.." Kata seraya terkekeh...
"Aish....... Itu anak... Ucapannya ngelantur tak berarah.." Dengus Lisnawati..
"Kawinkan aja lah Bun..." Timpal Dena....!
"Hehehehe setuju.... " Ucap Azzahra Masika Fatharani..!
"Sudah basi exfresi wajah mu ini Nak.. Cepat lah pake baju mu.. Orang orang sudah menunggu untuk makan.." Titah Lisnawati..
"Siap Bunda................!! Awan pun langsung beranjak pergi menuju kamarnya.
################################
Di ruangan tengah kini sudah berada beraneka macam hidangan orang orang yang kelas bawah di antara nya, tempe tahu, jengkol dan ikan asin serta sambal terasi yang begitu menggugah selera makan siang itu.
Acara makan besar dua keluarga itu segera di mulai dengan makanan ciri khasnya, dan setelah di pimpin doa oleh Awan sendiri.. Tiba tiba dari samping masjid yang tampak terlihat oleh Asep Sunandar seorang wanita dan lelaki berjalan di ikuti oleh beberapa pengawal menuju arah rumah Nenek Romlah.
"Tuan Muda Awan... Ada tamu yang datang menemui anda." Kata Asep ketika majikan nya itu sedang menyodok nasi liwet dari baki besar itu.
"Awan menoleh... Ia tersenyum.. Tamu itu mengucapkan salam kepada yang ada di ruangan rumah Nenek Romlah..
__ADS_1
Aidil dan Ahmad beserta Abdul Najib bergetar hati nya, merah padam menahan amarah kepada tamu yang baru datang itu..
Awan menyadari sesuatu yang tak di inginkan.. Tuan Ahmad Tuan Aidil dia adalah kawan bukan lawan.." Kata Awan.
"Tapi Tuan Muda Awan... Dia adalah orang kepercayaan dari musuh kita.." Kata Ahmad...!
"Sudah........ Nanti saya jelaskan semuanya dan sekarang sebaiknya kita makan.. Nona Muda Tiara dan Tuan Safir mari kita makan.." Ajak Awan.. Senyuman dan anggukan pun di berikan oleh mereka berdua..
"Alhamdulillah.. Untung kita masak banyak ya Zahra.." Kata Lisnawati...
"Hehehehe Iya besan... Jadi tidak mubazir.." Jawab Azzahra Masika Fatharani.
Makan siang itu begitu nikmat dan bahagia terutama bagi Aidil dan keluarganya serta Ahmad dan Abdul Nazib seumur hidup baru kali ini dia makan dengan lauk lauk yang menurut mereka terasa aneh dan baru sekali ini dia merasakan nya.
Nabil dan Awan yang menjadi peran utama dalam area ruangan tengah itu, menjadi bahan ledekan dan candaan dari mereka yang asyik bersantap makan di siang itu.
Satu suap di suap, Lisnawati memasukkan makanan dengan mata yang sangat bahagia melihat anak ketiga nya itu telah berhasil melaksanakan tugasnya itu.
Hampir tiga puluh menit berlangsung makan siang pun kini sudah usai... Sambal dalam mutu yang besar habis di lalap oleh Tuan Aidil dan Ahmad yang saling berebut walaupun rasa itu sangat kepedasan, tapi nikmat mengalahkan semua nya.
"Nona Muda Tiara dan Tuan Safir.. Ayo kita ke ladang dan mengobrol di sana bersama Tuan Aidil dan Ahmad.." Kata Awan.
"Silahkan Tuan Muda Awan beri petunjuk jalan.." Ucap Tiara.. Dan anggukan kepala dari Safir.
"Baik......... " Bunda Azzahra dan Bunda Menyusul ya.. sambil membawa kopi dan pencuci mulut.." Ucap Awan.
"Siap Menantu idaman.. He-he-he.." Kekeh Azzahra Masika Fatharani.. Nabil sendiri hanya tersenyum manis.
Bersambung.
__ADS_1