Pemuda Hebat Seperti Dewa

Pemuda Hebat Seperti Dewa
Kabar Dari Akang Delapan kepada gurunya


__ADS_3

Dengan baju belepotan darah Sukmaji maupun Syamsuddin serta Ujang yang sudah di ajarkan oleh gurunya Kiayi Mangku Bumi.. Lalu melihat sosok makhluk setelah tugas dari sang empu nya selesai meninggalkan korban nya dalam keaadaan memprihatinkan...


Sukmaji pun langsung mengirimkan telepati nya kepada gurunya yang kemungkinan sedang berdialog bersama Eyang Guru Abah Aden Haruman dan Abah Kusuma serta Abah Juned membahas keluarga rekan bisnis Tuan Muda Awan yang terkena santet.


#back to back#


Malam itu setelah ketiga sesepuh pemuda hebat seperti dewa itu telah mengunjungi Tuan Tang Tang Dor secara Sukma nya terlepas dan mengetahui sumber penyakit yang di deritanya itu. Aden Haruman pun langsung berpesan kepada sahabatnya Mama Sepuh untuk di beritahu kan kepada murid murid yang mengawal perjalanan Muhammad Awan Pratama.


"Mangku Bumi... Bila mata batin ku tidak meleset dari perkiraan.. Satu di antara musuh musuh Cucuku akan mati secara tragis dengan di kirim nya santet yang amat sangat mengerikan akibat kebencian.. Seandainya itu terjadi, salah satu dari murid-murid mu untuk segera mengabarkan dan langsung memberitahukan kepada mu untuk di tangkap sosok mahluk yang di kirim oleh dukun santet itu." Terang Aden Haruman.


"Sahabat ku Aden Haruman, buat apa sosok makhluk iblis itu di tangkap, apakah kau mau meminta bantuan dari makhluk ghaib yang jelas jelas musyrik bila kita meminta bantuannya." Jawab Mangku Bumi.


"Hmmmmmmm.. Mangku Bumi.... Tujuan ku menyuruh mu untuk menangkap mahluk kiriman dari sang empunya itu yang tak lain adalah sama hal nya dengan si Juned ini." Kata Aden Haruman kesal dengan sahabat nya cara berpikirnya dangkal.


###


Di salah satu kampung Senagar tempat rumah yang dahulu di tempati oleh keluarga Dewi Ayunda dan suami serta anak anak nya sebelum pindah kerumah yang lebih megah dan mewah di kota kecil itu.


Sepuluh dari Murid Mama Sepuh yang di kirim untuk menjadi pengawal bayangan seorang bocah berusia 16 tahun itu sedang bertafakur diri kepada sang pencipta yang biasa mereka lakukan secara rutin di setiap waktu kesibukan nya.


"Lebih baik seorang musuh itu di jadikan teman, guna untuk mengurangi pertikaian di antara para ghaib dan mengajaknya untuk bertobat, bukan kah itu yang di ajarkan oleh orang orang terdahulu, percuma mempunyai ilmu yang sangat tinggi bila kita tidak bisa mendakwahkan nya, bukan kah alam ghaib juga sama seperti bangsa manusia, yang ada tatanan kehidupan." Kata lagi Aden Haruman.


"Hihihihi.. Hihihihi... Mangku Bumi hanya cekikikan.. Jujur pemikiran nya tidak sampai kesana.!


"Nyengir ahk.. Kaya kuda Nil.." Ketus Aden Haruman.!!

__ADS_1


"Apakah kau paham dengan perkataan ku Mangku Bumi sahabat ku..? Tanya Aden Haruman.


"Hehehehe... Ngerti.. Sekarang juga saya akan menelepon salah satu murid ku." Jawab Mangku Bumi.


"Hmmmmmmmm.! Mana ada Abah Kiayi telepon dalam keaadaan Sukma terlepas dari raga." Timpal Juned yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolan mereka berdua.


"Aduh.... Juned Juned..... Telepon ku ini canggih tanpa harus membeli pulsa dan mempunyai ponsel." Jawab Mangku Bumi.


"Dia memakai telepati.. Kontak batin seperti kita kita." Timpal Aden Haruman, sama hal nya dengan Mangku Bumi mantan Dukun sesat itu cara berpikirnya lama.


"Hahahahahaha. Hahahahaha.. Ampun Abah Aden Haruman.. Tidak kepikiran kesana." Kata Juned tertawa terbahak bahak.


"Uhk..... Kalian berdua... Mangku Bumi segera telepon murid mu sekarang." Titah Aden Haruman. Senyuman dan anggukan pun langsung di berikan oleh Kiayi Mangku Bumi kepada sahabatnya.


##


Hampir lima belas menit lamanya dengan aktivitas di pagi dini hari itu, Sukmaji nama yang di berikan oleh Kedua Orang Tua nya yang entah dimana keberadaan dan masa kecilnya Ia habiskan di pesantren bersama para sahabatnya sudah berdiri tegak menghadap kiblat dengan hamparan sajadah.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.." Tiba tiba satu suara yang dia kenal mengucapkan salam ketika Sukmaji sedang membaca niat sholat tahajud.


"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh. Mama Sepuh." Jawab Sukmaji, seketika kalimat niat sholat nya ia hentikan.


"Muridku...... Akang delapan Sukmaji, Mama ada tugas untuk mu, dan tugas ini berkaitan dengan majikan mu yang akan menjadi pelantara kesembuhan dari Tuan Tang Tang Dor dan istrinya." Kata suara yang tak berwujud, jelas suara itu adalah Kiayi Mangku Bumi menggunakan telepati batiniahnya.


"Siap menerima perintah dari Mama Sepuh." Ucap Sukmaji.

__ADS_1


"Nanti akan ada musuh dari majikan mu, yang terkena guna guna dari dukun santet, atas seorang yang mempunyai kebencian teramat dalam, tugas mu adalah memperhatikan saja orang tersebut tanpa harus menolongnya, ketika santet itu datang dan menimpa korbannya, kamu segera membuka mata batin dan lihat lah makhluk yang di kirim oleh sang dukun itu, lalu segera kabarkan kepada Mama." Kata Kiayi Mangku Bumi menjelaskan sebuah tugas yang di berikan kepada Sukmaji.


"Siap Mama.." Kata Sukmaji seraya mengangguk.!


"Bagus.... Kalau begitu silahkan kamu melanjutkan lagi aktivitas nya.. Assalamualaikum Warohmatuullahi Wabarakatuh." Kata Kiayi Mangku Bumi..


"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh." Jawab Sukmaji pelan dengan seiring nya hilang suara itu.


#Back to the beginning#


"Kang Ujang.. Kang Syamsuddin... Saya mau ke kamar mandi dulu.. Kalian berdua yang mengurus." Ujar Sukmaji lalu meleos pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua.


Selang beberapa menit, dan pakaian sudah bersih Sukmaji pun langsung masuk ke dalam masjid yang ada di sekitaran area rumah sakit rakyat.. Ia pun langsung duduk dan memusatkan pikiran serta mata batinnya.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. Mohon maapkan murid mengganggu waktu istrahat Mama." Ucap suara melalui telepati batin.


"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.. Tidak apa apa Murid ku Sukmaji.." Jawab Mama Sepuh.


"Mama, tugas yang di berikan waktu itu, untuk mengabarkan seorang korban santet yang tak lain musuh dari Tuan Muda Awan, kini sang korban tersebut dalam keadaan kritis akibat terkena santet... Melihat dari pandangan mata batin sosok makhluk berbulu hitam pekat dan gigi bertaring dua, yang di kirim oleh dukun santet itu berlokasi di ujung kulon gunung Kanyang." Terang Sukmaji dalam panggilan telepati nya.


"Baiklah terima kasih muridku.. Kalau begitu Mama akan segera berangkat menuju Gunung Kanyang bersama Aden Haruman dan dua orang lainnya.." Assalamualaikum Warohmatuullahi Wabarakatuh.." Ucap Kiayi Mangku Bumi..


"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh..! Ucap nya, lalu bangkit dan menuju mereka berdua yang kemungkinan masih berada di ruangan Bob Hidayat yang terkena santet.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2