
"Tuan Besar. Mohon maap saya terbawa emosi dendam atas kematian sahabat saya Andri Setiawan di akibatkan oleh mereka berdua yaitu Supit dan Iwan." Kata Robi dengan wajah menunduk.
"Saya mengerti. Tapi ini negara hukum, sebaiknya sisa nya biarkan pihak pihak kepolisian yang sudah di atur dan di rencanakan oleh Nak Awan yang mengurus sisa nya." Jawab Tedi Ferdiansyah.
"Baik Tuan Besar.! Ucap Robi.
"Ayah, Ayah." Ucap mereka berdua Excel dan Friska seraya memeluk nya.
"Anakku kalian tidak kenapa Napa kan.?" Tanya Tedi cemas dan khawatir kepada mereka berdua.
"Kita berdua baik baik saja. Kalau Kak Robi dan Awan sudah turun tangan semua bisa di atasi dengan mudah." Puji Excel kepada awan dan Robi.
Sementara pemuda yang barusan sedang di raba raba oleh Bu Dewi takutnya ada yang terluka. Karna wanita setengah baya itu sangat menghawatirkan pemuda yang sudah di anggap anak kandungnya itu.
"Ayo kita samperin pemuda hebat seperti dewa itu." Ajak Tedi kepada kedua anaknya.
"Ayo." Kata mereka berdua serentak.
"Robi bereskan semuanya dengan pihak kepolisian. Korek informasi sedetail mungkin untuk menangkap dalang semua ini." Titah Tedi Ferdiansyah memberi perintah kepada Asisten nya.
"Siap Tuan Besar." Jawab Asisten itu.
"Iyus dan Asep Sunandar kini sudah berada di samping pemuda itu yang sedang di ampit oleh Bu Dewi. Sesekali memeriksa seluruh tubuh pemuda itu untuk kedua kalinya.
"Nak Awan.! Tegur lelaki Paruh baya.!
"Tuan Besar." Jawab Awan seraya membalikkan badan nya dan membungkuk hormat.
"Terima Kasih Nak. Terima Kasih Nak." Lirih Tedi dengan mata berkaca-kaca dan langsung memeluk pemuda itu.
Hening sesaat di antara mereka yang berada di dua lelaki yang berbeda usia yang sedang berpelukan.
"Masih terlalu dini Tuan Besar mengucapkan rasa terimakasih kepada saya, karna dalang utama nya belum kita tangkap serta pembunuh Direktur Keuangan Future Nugraha Company Group yang bernama Tuan Andri Setiawan belum muncul. Sebaiknya kita pulang dulu untuk mengatur rencana untuk malam ini." Titah Awan setelah pelukan nya lepas.
"Baiklah. Nak, ayo kita kembali dulu ke rumah ku." Ajak Tedi menyeka air mata nya yang jatuh saat itu.
"Silahkan Tuan Besar. Mari." Kata Awan mempersilahkan masuk Mobil.
__ADS_1
"Kak Friska.........! Ikut ke mobil bersamaku atau Ke mobil kak Excel.?" Tanya Awan.
"Kakak. Sama ka Excel saja ngikuti dari belakang." Jawab Friska.
"Ok." Ucap Awan.
Bu Dewi masuk kedalam mobil di ikuti oleh Tedi Ferdiansyah, sementara Excel dan Friska sudah berada dalam mobil mewah Lamborghini Sian.
"Iyus dan Asep Sunandar. Ikuti dari arah belakang." Titah Awan.
"Baik' Bos. dan Langsung berjalan kearah motor yang di simpan dalam semak belukar di lokasi itu.
Pak Arianto sendiri bersama Tuan Robi membersihkan dan memberikan keterangan kepada pihak kepolisian tentang kejadian perkara itu.
"Pak Arianto setelah semua nya selesai. Langsung susul saya ke rumah Pak Tedi Ferdiansyah bersama Asisten Tuan Besar dan beberapa para pengawal." Titah Awan.
"Siap. Jawab Arianto dan senyuman dari Robi.
Dua unit mobil mewah Pajero sports dan Lamborghini Sian pun bergerak meninggalkan lokasi hutan yang mengarah ke Saguling untuk menuju kediaman rumah Tedi Ferdiansyah yang ada di pinggiran kota kecil tersebut.
Sementara di salah satu Rumah kontrakan yang tidak jauh dari Rumah almarhum Zaenudin.!!
Bob Hidayat, bersama Betmen siang itu sedang berdiskusi di antara mereka berdua, sedang membahas rencana malam ini untuk membantai Anak dari pemilik perusahaan Future Nugraha Company Group.
Beberapa kali Bob Hidayat menelepon Iwan atau pun Supit tersambung tapi tidak di angkat oleh nya, membuat hati Bob pun kesal.
"Sialan mereka berdua pada kemana sih.! Kenapa dua dua nya telepon dari gue gak di angkat.?" Keluh Bob dengan wajah jutek.
"Apakah tidak sebaiknya loe telepon sama bos nya." Saran Betmen.
"Nggak enak Men.! Jawab Bob singkat.
"Dari pada loe uring uringan gak jelas." Timpal Betmen.
"Yaa...... Sudah gue coba.!! seraya mencari kontak Tuan Agus Ferdiansyah.
"Tut...........!! Tut........! Tut............!!
__ADS_1
"Halo.
"Pak Bob ada apa menelepon di sore hari ini.?" Tanya satu suara dari sebrang telepon.
"Mohon Maapkan saya Tuan. Mengganggu waktu sore anda, tapi ada yang ingin saya tanyakan.?" Kata Bob.
"Silahkan Pak Bob saya mendengar kan." Pinta Agus Ferdiansyah di sebrang telepon.
"Begini Tuan Besar. Saya sudah beberapa kali menghubungi Tuan Iwan dan Supit, tapi tidak pernah di angkat telepon nya. Karna malam ini beberapa preman pembunuh bayaran sudah siap untuk mengeksekusi semut kecil tersebut." Kata Bob dalam sambungan telepon.
"Pak Bob....... Tidak usah memikirkan mereka berdua. Sudah saya telepon beberapa kali juga, mereka tidak mengangkat telepon masuk itu. Untuk masalah nanti malam mengeksekusi semut kecil itu. Teruskan kan saja. Pak Bob bersama para preman yang sudah di bayar bersiap siap di daerah Hutan Gunung Batu yang. Tepat pukul 00:00 Anak dari Tedi Ferdiansyah sudah berada di lokasi yang baru saya sebutkan." Ucap Agus, menjelaskan nya.
"Ohk begitu. Baiklah, kalau Tuan Besar sudah berkata begitu. Saya bersama tim eksekusi akan bersiap siap." Jawab Bob.
"Silahkan Pak Bob....!! Seraya mengakhiri panggilan telepon di sore hari.
"Bob bagaimana.? Terus kapan kita bergerak bersama bos Haikal.?" Tanya Betmen.
"Santai masih lama kok. Men gue minta tolong, sebaiknya loe pulang dulu ke rumah ku. Sekalian lihat posisi dalam rumah gue, apakah Pipit masih ada di rumah atau dia melarikan diri." Kata Bob. Malam itu mendapat kabar dari satpam perumahan, bahwa rumah Pak Bob tidak ada kehidupan sekali di dalamnya.
"Ok siap. Sekalian gue pulang dulu, untuk melihat istri dan anakku. Mau ngasih Resiko dapur." Kata Betmen bersedia menolong Bob Hidayat.
"Jangan lama lama. Karna pukul delapan malam kita akan bergerak menuju Gunung Batu bersama bos Haikal dan anak buah nya.
"Nggak lah......!! Seraya beranjak menuju motor yang ada luar rumah kontrakan itu.
Tiga puluh menit kemudian, satu unit motor Vario keluaran terbaru sampai di perumahan Elit nomor tiga yang ada di pinggiran kota. Betmen pun langsung masuk kedalam rumah bos nya sekaligus teman sekolah, setelah memarkirkan motor tersebut tepat di depan pintu masuk garasi rumah tersebut.
"Ceklek..........!! Pintu masuk utama di buka, keaadaan sungguh hening. Tidak terlihat ada kehidupan dalam rumah itu, dan hanya ada aura hitam yang terasa dalam pundak lelaki berusia 35 tahun tersebut.
"Hmmmmm." Gumam Betmen seraya bergidik ngeri ketika langkah kaki baru dua langkah iya masuk kedalam rumah Bob Hidayat.
"Tiba Tiba............... Segerombolan burung berwarna hitam berterbangan kearah pintu masuk dan langsung keluar dengan secepat kilat. Membuat Betmen ketakutan dan terlungkup ke lantai menghindari burung burung yang kemungkinan terbang keluar rumah Bob Hidayat.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.
__ADS_1